Nama Andrea Pirlo yang awalnya naik daun sebagai calon pelatih Timnas Italia tiba-tiba tenggelam dalam diam. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang sedang mencari pengganti Luciano Spalletti tampak mundur dari niat merekrut mantan gelandang AC Milan itu. Tekanan dari media dan publik Italia berujung pada keputusan Pirlo untuk menarik diri, disampaikan lewat unggahan Instagram pribadinya pada akhir pekan lalu.
Pemicu utamanya bukan soal rekam jejak pelatih di Juventus yang tidak memuaskan, melainkan status Pirlo sebagai brand ambassador Fonbet — platform perjudian asal Rusia. Di Italia, mengiklankan judi dilarang keras oleh undang-undang Dignity Decree sejak 2019. Fakta itu membuat banyak pihak menilai Pirlo tidak layak memimpin Gli Azzurri yang identik dengan nilai disiplin dan integritas.
Kisah ini bermula setelah Pep Guardiola menolak tawaran FIGC. Nama Pirlo muncul bersama Roberto Mancini, Antonio Conte, dan Maurizio Sarri. Namun, berbeda dengan kandidat lain, Pirlo justru jadi sorotan media besar seperti La Gazzetta dello Sport dan Corriere della Sera. Kedua media itu menggali kolaborasi komersial Pirlo dengan Fonbet yang dimulai saat ia menjabat pelatih tim U-23 Juventus lalu melanjut ke peran teknis di klub Uni Arab Emirates.
Pirlo dalam pernyataannya menegaskan kolaborasi itu bersifat komersial murni dan terjadi di yurisdiksi Uni Arab Emirates, bukan Italia. Ia menolak adanya makna politik di balik kontrak tersebut. "Mengaitkan makna politik berarti menyalahkan keyakinan yang tidak pernah saya ungkapkan," tulis mantan pemain Juventus itu. Namun penjelasan itu justru tak membumikan amarah netizen Italia yang menilai sosok pelatih timnas harus bebas dari ikatan industri judi.
Kasus Pirlo membuka perdebatan lebih luas soal garis batas etika olahraga dan industri perjudian. Di Italia, sponsor judi sudah dilarang di sepak bola profesional sejak 2019, tapi mantan pemain yang jadi duta platform asing justru tidak terlarang secara eksplisit. Celah hukum ini jadi celah abu-abu yang dieksploitasi lawan politik dan media untuk menggulingkan kandidatur Pirlo.
Dampaknya terasa hingga ke ranah sepak bola Indonesia. Beberapa klub Liga 1 masih menampilkan sponsor judi di baju pemain meski regulasi PSSI dan Kemenpora melarang promosi perjudian. Kasus Pirlo jadi pengingat bahwa figur publik — apalagi pelatih timnas — dituntut standar moral lebih ketat dari sekadar kepatuhan hukum formal. Reputasi bisa hancur dalam hitungan jam begitu isu etika terbuka.
Di sisi lain, FIGC kini terpaksa mempercepat pencarian pelatih baru. Musim internasional September 2026 mendekat, dan Italia butuh kepastian kepemimpinan teknis untuk kualifikasi Euro 2028. Mancini dan Conte tetap jadi favorit, tapi keduanya punya komplikasi sendiri: Mancini baru resign dari Arab Saudi, Conte tengah kontrak dengan Napoli. Sarri jadi opsi realistis tapi gaya mainnya dinilai kurang cocok dengan DNA Italia modern.
Pirlo sendiri menutup pernyataannya dengan mengucapkan terima kasih pada Paolo Maldini dan Leonardo — dua legenda Milan yang ikut merekomendasikannya. Frasa itu dibaca sebagai tanda hormat sekaligus penutup resmi. Ia tidak memprotes, tidak mengancam hukum, hanya memilih mundur dengan martabat. Sikap itu justru dinilai lebih dewasa dibanding drama rekrutmen pelatih timnas Indonesia beberapa bulan lalu.
Pelajaran bagi sepak bola Indonesia jelas: vetting kandidat pelatih harus mencakup riwayat komersial, afiliasi sponsor, dan jejak digital — bukan hanya sertifikat UEFA Pro dan palmarés. Era transparansi memaksa federasi untuk proaktif memetakan risiko reputasi sebelum nama resmi diumumkan. Kasus Pirlo bukti, satu kontrak duta judi bisa membatalkan karir pelatih tingkat nasional.
Masa depan Pirlo di bangku pelatih kini kabur. Setelah gagal di Juventus dan tidak dibayar penuh oleh klub Uni Arab Emirates, reputasinya tercoreng. Klub-klub Serie A atau Liga Champions mungkin ragu merekrutnya. Namun, keputusan mundur dengan tenang bisa jadi modal membangun citra baru — asal ia benar-benar memutus ikatan dengan industri perjudian.
Untuk FIGC, episode ini jadi pengingat pahit: proses rekrutmen pelatih timnas tidak boleh tergesa-gesa. Tekanan media dan publik Italia justru memperkuat demokrasi olahraga mereka. Di Indonesia, di mana keputusan sering diambil di ruang tertutup, kasus Pirlo jadi cermin: keterbukaan dan akuntabilitas justru melindungi integritas sepak bola, bukan sebaliknya.