Sirine mesin dua taksi memecah keheningan Sirkuit Rumbai, Pekanbaru, akhir pekan lalu. Ribuan penonton mengisi tribun untuk menyaksikan Moto Prix Piala Wali Kota Pekanbaru 2024, ajang balap motor bergengsi yang kini memasuki edisi ke-13. Di balik kecepatan dan teknik menggas, event ini menyimpan narasi lain yang tak kalah menarik: kekuatan olahraga sebagai katalisator pemberdayaan ekonomi dan kemanusiaan.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, secara resmi membuka perlombaan yang diikuti puluhan pembalap dari berbagai klub motor Indonesia. Ia menegaskan bahwa event ini dirancang sebagai platform multidimensi — bukan sekadar pencarian juara, melainkan momentum untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. "Kami ingin balap motor jadi magnet yang menarik kunjungan, lalu mengubahnya menjadi transaksi nyata untuk pelaku usaha kecil," ujar Agung saat sambutannya di paddock area.
Pemilihan sirkuit Rumbai bukan tanpa alasan. Lokasi ini strategis di pinggir jalan raya utama, memudahkan akses penonton dari dalam dan luar kota. Sejak Jumat (15/11), area paddock sudah bertransformasi jadi bazar ramai dengan seratusan tenaga UMKM memajang produk kuliner, fashion, hingga kerajinan khas Riau. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Pekanbaru mencatat transaksi harian capai Rp 1,2 miliar selama tiga hari event berlangsung — angka yang jauh melampaui hari biasa.
Latar belakang sosial menjadi semakin kental setelah gempa bumi dan tsunami melanda Flores, NTT, awal tahun ini. Panitia bekerja sama dengan BPBD Kota Pekanbaru dan beberapa yayasan kemanusiaan membuka pos donasi di gerbang utama sirkuit. Setiap pembeli tiket tribun utama diwajibkan menyetorkan minimal Rp 20.000 yang dialihkan ke dana darurat korban bencana. Hasilnya, total Rp 340 juta terkumpul dan sudah disalurkan melalui BPBD Provinsi NTT pada Senin (18/11).
"Ini pertama kalau aku nonton balap motor sambil ikut bantu saudara di NTT," kata Rizki Pratama, penonton dari Kampar yang hadir bersama keluarga. Dia mengaku sengaja membeli tiket tribun utama meski lebih mahal dari tiket umum, justru karena ada komponen donasi. Fenomena serupa terulang di ratusan penonton lain, membuktikan bahwa olahraga bisa jadi gerbang empati yang efektif.
Dampak multiplikator terasa di sektor akomodasi. Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau mencatat okupansi hotel bintang satu hingga tiga di sekitar sirkuit menyentuh 92 persen pada malam puncak lomba. Warung makan dan ojek online di radius lima kilometer melapor omzet naik 40 hingga 60 persen. Angka-angka ini menguatkan argumen bahwa event olahraga skala kota, jika dikelola profesional, bisa jadi mesin pendorong ekonomi mikro yang andal.
Di sisi teknis, perlombaan menampilkan enam kelas balap — dari Stock Standard 110cc hingga Open 150cc — dengan total hadiah Rp 500 juta. Pembalap lokal Riau mendominasi podium tiga besar di kelas Stock, menegaskan kedalaman bakat motor muda di wilayah ini. Manajer tim Riau Racing, Dedi Susanto, menilai ajang ini vital sebagai tangga naik menuju kejuaraan nasional seperti IRRC atau One Prix. "Tanpa event kota seperti ini, pembalap muda sulit dapat jam terbang dan sponsor," tuturnya.
Kendati sukses, tantangan ke depan tetap ada. Infrastruktur sirkuit Rumbai butuh revitalisasi: kerb trotoar longsor di beberapa titik, fasilitas medis belum standar FIM, dan parkir terbatas saat puncak event. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Pekanbaru sudah mengusulkan anggaran revitalisasi Rp 15 miliar ke APBD 2025, termasuk pembangunan paddock permanen dan tower kontrol berstandar internasional.
Sementara itu, komunitas motor lokal berharap Moto Prix Piala Wali Kota tidak hanya jadi event tahunan, tapi tumbuh jadi seri kejuaraan berkala — misalnya tiga putaran per tahun — agar pembalap punya kalender kompetisi yang pasti. "Konsistensi itu kunci. Kalau cuma setahun sekali, momentum bakat terputus," kata ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Cabang Pekanbaru, Bambang Haryanto.
Pemerintah kota tampak serius. Agung Nugroho mengaku sudah berkoordinasi dengan Kemenpora dan sponsor swasta besar untuk mengangkat status event ini ke tingkat nasional tahun depan. Targetnya, Moto Prix Piala Wali Kota Pekanbaru jadi pintu gerbang pembalap Sumatera ke panggung Asia. "Kita punya sirkuit, punya bakat, punya komunitas. Yang kurang cuma manajemen profesional dan komitmen jangka panjang," pungkas Wali Kota.
Kisah Pekanbaru ini menawarkan template yang bisa ditiru kota-kota menengah lain di Indonesia: olahraga tidak harus mahal dan elit. Dengan kolaborasi lintas sektor — pemerintah, UMKM, komunitas, dan media — sebuah balap motor bisa jadi festival ekonomi, sekolah karakter, dan gerbang kemanusiaan sekaligus. Mesin yang bergema di Rumbai bukan hanya suara kecepatan, tapi juga detik-detik solidaritas yang berputar.