Jakarta – Kejuaraan Dunia Bulutangkis BWF 2026 berakhir tanpa medali emas bagi Indonesia, menandai kelanjutan kemunduran yang belum pernah terjadi selama tiga puluh lima tahun.
Satu-satunya podium yang diraih Merah Putih came from ganda campuran Amri Syahnawi dan Nita Violina Marwah yang menyabet perunggu, sementara nomor lain gagal menembus babak final.
Kegagalan ini melanjutkan deretan edisi 2021, 2022, 2023, 2025, dan kini 2026 di mana pencapaian terbaik Indonesia hanya medali perak, terakhir diraih Apriyani Rahayu dan Siti Fadia Silva pada 2023.
Sejak Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan mengemas emas ganda putra pada 2019, tidak ada lagi atlet Indonesia yang berdiri di puncak podium dunia, sebuah kekosongan yang melampaui masa kebuntuan 1985‑1991 ketika Indonesia empat edisi berturut‑turut tanpa emas.
Pada 1993, pasca kebuntuan tersebut, Indonesia justru mengamuk dengan enam emas sekaligus lewat Joko Suprianto (tunggal putra), Susy Susanti (tunggal putri), dan ganda putra Ricky Subagja/Rudy Gunawan, membuktikan bahwa regenerasi yang tepat dapat membalikkan situasi.
Kini, lima edisi berturut‑turut tanpa emas tidak hanya mencerminkan kualitas pemain, tetapi juga menimbulkan tekanan besar pada manajemen PBSI, sponsor, dan penggemar yang menunggu kebangkitan.
Para pengamat menilai kurikulum pembinaan, sistem pemilihan ganda, serta transisi generasi dari era Ahsan/Setiawan ke pemain muda belum berjalan sinkron, sehingga potensi bakat seperti Leo Rolly Carnando atau Bagas Maulana belum optimal di panggung dunia.
Ketidakstabilan prestasi berdampak pada nilai sponsorship dan minat media, yang pada gilirannya mempersempit anggaran pengembangan atlet dan fasilitas latihan berbasis teknologi.
Ketua Umum PBSI, Achmad Budiman, dalam konferensi pers pasca turnamen menyatakan bahwa evaluasi menyeluruh akan dilakukan, termasuk peninjauan staf pelatih dan program pemeliharaan fisik, agar target emas 2027 realistis.
Langkah konkret yang diharapkan mencakup penguatan tim analisis video berbasis AI, peningkatan jumlah turnamen internasional untuk pemain muda, serta kolaborasi dengan klub luar negeri untuk memperkaya pengalaman taktis.
Bagi jutaan penggemar bulutangkis di Tanah Air, kekecewaan ini berujung pada harapan bahwa reformasi struktur tidak hanya bersifat jargon, melainkan menghasilkan atlet yang siap bersaing di Olimpiade 2028.
Sejarah 1993 mengajarkan bahwa kebangkitan mungkin, asalkan keputusan strategis diambil sekarang — bukan menunggu edisi berikutnya untuk mengulang kesalahan yang sama.