Olahraga

Fairuz Montana Kenang Era Emas Bepe dan Elie di Selangor: Stadion Penuh, Bintang Rendah Hati

Ringkasan

  • Mantan pemain Selangor FC Fairuz Montana Zainal Abidin mengungkap kenangan masa bermain berdampingan dengan Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy, menyebut keduanya legenda yang menghadirkan penonton penuh dan meninggalkan jejak ketulusan di kandang Gergasi Merah.

Fairuz Montana Zainal Abidin, pelatih Timnas Putri Malaysia U-16, baru-baru ini membuka kenangan masa emas Selangor FC di pertengahan 2000-an. Saat ditemui usai mengantarkan timnya meraih peringkat ketiga di Srikandi Merdeka Cup 2026, mantan bek kiri ini teringat betapa besar pengaruh Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy bagi klub berjuluk Gergasi Merah itu.

Bepe, julukan akrab Bambang Pamungkas, membela Selangor dari 2005 hingga 2007. Dalam dua musim, ia membawa klub ke puncak Liga Malaysia, Piala Malaysia, dan Piala FA Malaysia. Fairuz yang saat itu masih berstatus pemain junior di tim senior Selangor sejak musim 2002/2003, menyaksikan langsung transformasi klub setelah kedatangan dua bintang Indonesia tersebut.

"Bepe itu orang yang sangat rendah hati," ujar Fairuz dengan nada penuh hormat. "Saat itu saya masih muda, tapi bersyukur bisa bermain dengan semua pemain bintang. Saya belajar banyak dari pengalaman saat Bepe datang ke Selangor, semua pemain bintang ada di Selangor." Kenangan itu tak hanya soal gol atau trofi, tapi tentang sikap sehari-hari yang ditanamkan oleh striker legendaris Timnas Indonesia itu.

Kedatangan Bepe dan Elie Aiboy pada 2005 memang jadi titik balik. Sebelum mereka, Selangor sudah pernah merekrut pemain Indonesia lain, namun dampaknya tak sebanding. Fairuz mengakui dengan jujur: "Meskipun ada pemain lain yang datang sebelum atau sesudah Bepe, stadion tetap sepi. Tapi Bepe dan Elie adalah legenda. Stadion selalu penuh saat mereka main."

Fenomena ini menarik perhatian karena mencerminkan daya tarik khusus pemain Indonesia di Liga Malaysia era itu. Bepe dan Elie bukan sekadar import yang mencetak gol. Mereka membawa "aura" yang berbeda — kombinasi kualitas permainan, kepribadian ramah, dan ketidaksombongan yang jarang dimiliki bintang sepak bola modern. Fairuz menegaskan: "Karena mereka orang baik. Orang yang baik dan ramah. Ah, tidak sombong. Saya benar-benar belajar banyak dari mereka."

Dari perspektif sejarah sepak bola Nusantara, era Bepe-Elie di Selangor jadi bukti nyata kekuatan "brand" pemain Indonesia di mata penonton Malaysia. Pada masa itu, Liga Malaysia masih menjadi destinasi utama bagi bintang-bintang Timnas Indonesia seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Ponaryo Astaman, atau Christian Warobay. Namun, tidak semua berhasil menciptakan magnet penonton seperti duo ini.

Kehadiran mereka juga membuka peluang komersial. Sponsor berlomba, merchandise laris, dan Selangor FC menikmati era keuangan yang relatif sehat. Sayangnya, setelah Bepe pulang ke Persija Jakarta 2007 dan Elie mengikuti jejak ke Arema Malang, momentum itu perlahan sirna. Selangor butuh waktu lama untuk bangkit kembali ke puncak, baru merebut gelar Liga Super Malaysia 2025 — selang 18 tahun.

Fairuz, yang kini bertugas di pengembangan pemain muda Malaysia, mengakui warisan itu tetap hidup dalam filosofi pelatihannya. "Saya selalu ingatkan anak-anak: jadi pemain hebat itu tidak cukup. Harus rendah hati, hormat ke lawan, dan ramah ke semua orang. Itu pelajaran dari Bepe dan Elie," ucapnya sambil tersenyum.

Kisah ini juga relevan bagi sepak bola Indonesia kini. Saat liga domestik kita — Liga 1 — berusaha menarik pemain asing berkualitas, pelajaran dari era Bepe jelas: rekrutmen bukan soal nama besar semata. Karakter, kedekatan dengan komunitas, dan kemampuan jadi "embahador" klub di luar lapangan menentukan keberlanjutan popularitas.

Di sisi Malaysia, kenangan Fairuz mengingatkan bahwa Liga Super Malaysia pernah menjadi panggung kompetitif untuk bintang Asia Tenggara. Saat ini, liga tersebut kehilangan daya tarik itu ke liga Arab Saudi, Thailand, bahkan Vietnam. Kembalinya minat penonton butuh lebih dari sekadar impor nama — butuh naratif manusiawi seperti yang dibangun Bepe dan Elie dulu.

Bagi Fairuz sendiri, kenangan itu jadi bekal mental. Dari pemain junior yang menatap punggung idola di latihan, ia kini jadi pelatih yang menanamkan nilai-nilai sama ke generasi baru. Lingkaran itu tertutup rapi: legenda yang pergi meninggalkan jejak, dan saksi mata yang tetap menjaga warisan itu hidup.

Masyarakat sepak bola kedua negara seharusnya merenung kisah ini. Bukan sekadar nostalgia, tapi cetak biru bagaimana sepak bola bisa jadi jembatan budaya — bukan hanya bisnis transfer. Bepe dan Elie membuktikannya: mereka datang sebagai lawan di Piala AFF, tapi pulang jadi keluarga di Shah Alam.

Mengapa Ini Penting

Kisah Fairuz Montana mengungkap dimensi manusiawi di balik transfer pemain lintas batas yang sering dilupakan industri modern. Era Bepe-Elie membuktikan bahwa daya tarik liga tidak hanya bergantung pada kualitas teknis, tapi pada kemampuan pemain jadi ikon budaya yang dihormati kedua negara. Bagi Liga 1 Indonesia yang kini mengandalkan pemain asing, ini pelajaran krusial: rekrutmen berbasis karakter dan keterlibatan komunitas menciptakan warisan yang bertahan lebih lama dari sekadar trofi. Di sisi Malaysia, kenangan ini jadi pengingat bahwa Liga Super pernah jadi panggung bintang Asia Tenggara — posisi yang kini tergeser dan butuh strategi bangkit yang berlandaskan naratif emosional, bukan hanya insentif finansial.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
24 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit