Olahraga

Robot Humanoid Pecahkan Rekor Manusia di World Humanoid Robot Games Beijing

Ringkasan

  • Beijing menggelar World Humanoid Robot Games kedua dengan 2.056 robot dari 16 negara berkompetisi dalam 51 nomor, memamerkan kemampuan melebihi rekor atlet manusia seperti lompat tinggi 2,88 meter dan lari 100 meter 9,39 detik.

Beijing kembali menjadi panggung pameran kekuatan teknologi robotik dunia lewat World Humanoid Robot Games (WHRG) edisi kedua yang dibuka Sabtu (22/8) malam di National Speed Skating Oval. Ajang berdurasi lima hari ini menghadirkan 666 tim dari 16 negara di enam benua, dengan total 2.056 robot humanoid yang siap bersaing dalam 51 nomor perlombaan yang dirancang menguji batas kemampuan fisik dan kecerdasan buatan.

Upacara pembukaan bertema "Intelligence Competing Toward the Future" mempertunjukkan skala yang belum pernah terbayangkan: lebih dari 1.000 robot humanoid berkumpul dalam satu arena. Parade pembukaan menampilkan 80 unit robot Booster T2 berjalan serempak sambil menghitung rute dan menyesuaikan postur secara dinamis, kemudian membentuk formasi tulisan "BEIJING" dengan presisi milimeter. Tak kalah menakjubkan, 50 robot Tiangong Embodied Intelligence 3.0 dari Beijing Humanoid Robot Innovation Center menavigasi jalur melengkung secara otonom sambil melakukan gerakan gimnastik Thomas flare — gerakan yang membutuhkan kontrol badan dan keseimbangan tingkat tinggi.

Di balik pameran kekuatan ini, China mengirim sinyal jelas: robot humanoid sudah bergerak keluar dari laboratorium menuju penerapan dunia nyata. Kehadiran 25 robot beroda Galbot G1 buatan Galaxy General memperkuat narasi tersebut. Robot dirancang untuk tugas kompleks dan berkelanjutan di lingkungan rumah, ritel, hingga layanan makanan. Pemerintah Beijing melalui WHRG ingin membuktikan bahwa ekosistem robotik mereka sudah siap untuk produksi massal dan komersialisasi, bukan sekadar prototipe pameran.

Capaian atletis para robot menjadi sorotan utama. Seorang robot humanoid China mencatat lompatan tinggi 2,88 meter dari posisi berdiri, melampaui rekor dunia manusia 2,45 meter yang dipegang Javier Sotomayor sejak 1993. Di nomor lari 100 meter, robot lain menyelesaikan balap dalam 9,39 detik — lebih cepat 0,19 detik dari rekor Usain Bolt 9,58 detik. Angka-angka ini bukan sekadar gimmick; mereka menunjukkan kemajuan aktuator, sistem kendali gerak, dan efisiensi energi yang drastis dalam waktu singkat.

Momen yang viral di media sosial terjadi saat robot humanoid menirukan selebrasi "Siuuu" khas Cristiano Ronaldo setelah mencetak gol di nomor sepak bola. Video yang diunggah akun resmi WHRG di X menunjukkan robot melompat, berputar, dan mendarat dengan tangan terentang ke samping — gerakan yang membutuhkan koordinasi kaki, pinggang, dan bahu secara simultan. Selebrasi itu membuktikan robot sudah mampu memahami konteks sosial dan mengeksekusi gerakan budaya pop dengan presisi tinggi.

Interaksi manusia-robot menjadi daya tarik lain. Robot humanoid bertukar pukulan dengan petenis China Zheng Jie, bermain tenis meja melawan juara Olimpiade Ding Ning, serta menjalani adu penalti bersama mantan pesepak bola nasional China Yang Chen. Pertarungan ini bukan hanya hiburan; ia menguji kemampuan robot dalam memprediksi gerakan lawan, menyesuaikan kecepatan reaksi, dan menjaga keseimbangan dinamis dalam situasi tidak terstruktur.

Dari perspektif Indonesia, lompatan teknologi ini menimbulkan pertanyaan kritis. Indonesia memiliki komunitas robotik yang aktif — tim-tim dari ITB, UI, dan Polman Bandung rutin mengirimkan delegasi ke kontes internasional seperti RoboCup dan FIRA. Namun, skala investasi dan ekosistem industri di China, didukung kebijakan negara "Made in China 2025", menciptakan jurang yang sulit ditutup tanpa dukungan kebijakan sistemik dan kolaborasi industri-manufaktur dalam negeri.

Sektor manufaktur Indonesia, yang masih mengandalkan tenaga kerja berbiaya rendah, harus mempersiapkan transisi. Robot humanoid seperti Galbot G1 yang dirancang untuk ritel dan layanan makanan bisa menggeser pekerjaan entry-level di sektor jasa. Di sisi lain, peluang terbuka bagi startup lokal untuk mengembangkan solusi robotik niche — misalnya robot pertanian untuk lahan terbatas atau robot inspeksi infrastruktur — yang tidak memerlukan skala produksi massal seperti pemain global.

Kementerian Komunikasi dan Digital serta BRIN seharusnya memetakan posisi Indonesia di peta nilai global robotik. Apakah kita ingin jadi konsumen teknologi, integrator sistem, atau pengembang komponen kritis seperti sensor taktil, aktuator ringan, atau algoritma navigasi lokal? Jawaban strategis ini akan menentukan apakah Indonesia terpuruk atau ikut menentukan standar industri robot humanoid dekade depan.

Ke depan, WHRG dijadwalkan menjadi ajang tahunan yang akan terus menaikkan standar kompetisi. Nomor-nomor baru seperti kolaborasi orkestra manusia-robot — 36 robot memainkan alat musik tiup elektronik, piano, dan marimba bersama musisi manusia — menandakan pergeseran fokus dari kekuatan fisik murni ke kecerdasan sosial dan kreatif. Bagi pengamat teknologi Indonesia, ajang ini bukan hanya pameran, tapi benchmark nyata seberapa jauh jarak kita dengan garis depan inovasi global.

Mengapa Ini Penting

World Humanoid Robot Games bukan sekadar pameran teknologi, tapi deklarasi kesiapan China mendominasi rantai pasok robotik global. Bagi Indonesia, ini adalah momentum kritis: industri manufaktur dan jasa kita rentan tergeser otomatisasi humanoid massal dalam 5-10 tahun ke depan. Tanpa kebijakan nasional yang mengarahkan investasi ke pengembangan komponen kritis — aktuator presisi tinggi, sensor taktil, dan AI edge computing — Indonesia berisiko terjebak sebagai pasar konsumsi semata. Startup robotik lokal perlu didorong ke niche pasar vertikal (pertanian presisi, inspeksi infrastruktur, perawatan lansia) di mana keunggulan konteks lokal bisa bersaing tanpa harus mengejar skala produksi China.

Sumber Asli
CNN Indonesia Teknologi
Tanggal
24 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit