Timnas Indonesia memulai kampanye Piala AFF 2026 dengan gemilang. Di hadapan penonton penuh di Stadion Pakansari, Cibinong, Senin (27/7), Garuda melumat Kamboja 5-1. Mitchell Baker mencetak hat-trick, sementara Sandy Walsh dan Jens Raven masing-masing menyumbang satu gol. Kemenangan besar itu membawa Indonesia ke puncak klasemen Grup A dengan rahang gol terbaik.
Meski hasilnya memuaskan, Erick Thohir tidak mau terjebak euforia. Usai pertandingan, Menpora itu menegaskan ujian sesungguhnya menunggu di laga ketiga kontra Vietnam, 3 Agustus mendatang. "Ya, pertandingan awal saya rasa cukup baik, tetapi pertandingan melawan Vietnam itu yang bisa menjadi kunci," ucap Erick di zona mixed zone Stadion Pakansari. Ia menambahkan, Timor Leste dan Singapura tak boleh diremehkan, namun kualitas Vietnam jauh di atas kedua tim tersebut.
Peringatan Erick tidak tanpa alasan. Vietnam telah menjadi 'hantu' bagi Indonesia di turnamen ini. Di edisi 2022, Timnas harus menyerah di semifinal usai kalah agregat 0-1 dari Naga Emas. Kehilangan itu meninggalkan luka mendalam bagi sepak bola Indonesia, yang saat itu dilatih Shin Tae-yong. Kini di bawah era John Herdman, tim Garuda berusaha membuktikan telah berevolusi.
Secara statistik, Vietnam memang lawan paling berat di grup. Di bawah pelatih Kim Sang-sik, tim Naga Emas mempertahankan kerangka pemain yang kompak dan taktis. Mereka memiliki pengalaman bermain di panggung Asia yang lebih banyak, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia. Indonesia sendiri baru membangun kimia tim setelah naturalisasi sejumlah pemain keturunan seperti Walsh, Baker, hingga Raven.
Pertandingan lawan Kamboja justru menunjukkan sisi positif dan negatif sekaligus. Pola pressing tinggi dan garis depan yang lincah berhasil membobol pertahanan Angkor Warriors berulang kali. Namun, gol tunggal Kamboja lewat bola diam mengingatkan kerentanan di sektor pertahanan. Herdman pasti akan memperbaiki hal itu sebelum menghadapi penyerang Vietnam seperti Nguyen Tien Linh atau Pham Tuan Hai yang jauh lebih mematikan.
Jadwal padat jadi tantangan tersendiri. Indonesia harus main tiga laga dalam sepuluh hari: Timor Leste (31/7), Vietnam (3/8), dan Singapura (7/8). Rotasi pemain menjadi kunci agar kebugaran terjaga. Erick sendiri menilai kedalaman skuad saat ini cukup baik, namun ujian fisik dan mental lawan Vietnam akan menguji manajemen Herdman secara menyeluruh.
Di sisi Vietnam, tekanan pun tidak kalah besar. Kemenangan di laga pembukaan kontra Laos 4-1 menegaskan ambisi mereka merebut gelar ke-4. Namun, sejarah head-to-head di Piala AFF menunjukkan keseimbangan. Dari 17 pertemuan, Indonesia menang 5, Vietnam 6, dan 6 seri. Laga 3 Agustus di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) diprediksi akan penuh sesak dan penuh emosi.
Bagi penggemar Indonesia, laga ini bukan sekadar perebutan tiga poin. Ini momen penebusan rasa tidak puas 2022 sekaligus bukti apakah proyek naturalisasi dan rekrutmen pelatih asing berkualitas tinggi sudah memberikan hasil nyata. Kemenangan akan memberikan momentum besar menuju babak knockout, kekalahan berarti harus berjuang keras di laga terakhir lawan Singapura.
Erick menutup wawancaranya dengan nada realistis. "Hari ini ya saya rasa buat pertandingan pertama baik. Tapi ya, Vietnam itu leveling-nya beda," tegasnya. Pesan singkat itu mencerminkan sikap profesional: menghargai proses, tapi tidak melupakan tujuan akhir. Indonesia harus bermain sempurna di GBK jika ingin melangkah lebih jauh di Piala AFF 2026.