Petenis asal Inggris, Harriet Dart, akhirnya mencatatkan sejarah dalam karier profesionalnya setelah memastikan diri melaju ke final tunggal WTA Tour untuk pertama kalinya. Kepastian ini didapat usai Dart menumbangkan petenis wildcard asal Tiongkok, Sun Xinran, dalam pertarungan sengit tiga set di ajang Guangzhou Open.
Pertandingan yang berlangsung hampir dua setengah jam tersebut menjadi ujian mental bagi Dart. Meski sempat kehilangan set pertama karena kesalahan servis di momen krusial, petenis berusia 30 tahun itu menunjukkan ketenangan luar biasa untuk membalikkan keadaan. Ia menutup laga dengan skor 5-7, 7-6 (6-1), 6-0.
Perjalanan Dart menuju final kali ini terbilang cukup panjang. Sejak memulai debut WTA Tour pada 2015 di Eastbourne, ia sering kali terhenti di babak-babak awal. Sebelum menembus final di Guangzhou, pencapaian terbaiknya hanyalah mencapai babak semifinal pada ajang Transylvania Open 2024. Keberhasilan ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata dari konsistensi latihan yang ia jalani selama satu dekade terakhir.
Lawan Dart di partai final nanti adalah pemenang antara unggulan keempat, Lilli Tagger, atau Kaitlin Quevedo. Kemenangan di laga puncak nanti tidak hanya memberikan trofi, tetapi juga menjadi tiket emas bagi Dart untuk kembali menembus posisi 100 besar dunia. Saat ini, ia telah merangkak naik 14 peringkat ke posisi 101 dalam daftar peringkat live WTA.
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Dart mengaku sempat berjuang keras melawan emosinya sendiri di lapangan. "Ini adalah perjalanan yang sangat panjang. Saya menginginkan momen ini begitu kuat, terkadang justru terlalu kuat sehingga memberikan tekanan ekstra. Akhirnya bisa berada di titik ini berarti segalanya bagi saya," ungkap Dart dengan mata berkaca-kaca.
Pertandingan semifinal ini memang menjadi rollercoaster emosi bagi Dart. Pada set pertama, ia sempat tertinggal 3-0 akibat kesalahan ganda. Meski sempat mengejar hingga 5-4, frustrasi kembali melanda saat ia gagal mengamankan servis untuk menutup set. Sun Xinran, petenis berusia 16 tahun yang merupakan juara junior US Open, tampil solid dan mampu memanfaatkan setiap celah yang diberikan Dart.
Memasuki set kedua, tensi permainan semakin memanas. Dart dua kali memimpin perolehan angka, namun selalu mampu disamakan oleh Sun. Puncaknya terjadi pada tie-break, di mana Dart tampil dominan dengan skor 7-1. Momentum ini benar-benar membungkam penonton tuan rumah yang sempat memberikan tekanan mental kepada Dart sepanjang pertandingan.
Memasuki set penentuan, stamina dan mentalitas menjadi pembeda utama. Sun, yang mengalami masalah fisik dan memerlukan perawatan medis pada kaki kirinya, tidak mampu mengimbangi agresivitas Dart. Petenis Inggris tersebut melesat tanpa kehilangan satu game pun, memenangkan 28 dari total 41 poin yang diperebutkan di set ketiga.
Secara teknis, kemampuan Dart untuk tetap fokus di bawah tekanan penonton lawan menjadi sorotan utama para analis tenis. Di dunia tenis profesional, ketahanan mental sering kali menjadi pembeda antara pemain yang sekadar berpartisipasi dengan mereka yang mampu menembus final. Dart membuktikan bahwa kematangan usia dan pengalaman bertahun-tahun di sirkuit mampu mengatasi bakat muda yang sedang naik daun.
Keberhasilan Dart ini memberikan perspektif baru bagi para petenis di luar jajaran elit dunia. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk menembus final pertama di level WTA. Bagi banyak petenis, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, kisah Dart menjadi pengingat bahwa ketekunan dalam mengikuti turnamen kualifikasi demi kualifikasi adalah jalan paling realistis untuk memperbaiki peringkat.
Di Indonesia, perkembangan tenis putri masih menghadapi tantangan besar dalam hal regenerasi dan partisipasi di turnamen tingkat WTA. Seringkali, petenis kita kesulitan menembus babak utama turnamen internasional karena kurangnya jam terbang di level kompetisi yang sama dengan yang dijalani Dart. Keberhasilan petenis seperti Dart menunjukkan pentingnya ekosistem turnamen level tour yang berkelanjutan.
Menatap laga final di hari Minggu, Dart diprediksi akan bermain dengan kelegaan yang lebih besar setelah beban target final pertamanya terangkat. Dengan kepercayaan diri yang sedang di puncak, ia memiliki peluang besar untuk membawa pulang gelar juara. Jika berhasil, ini akan menjadi loncatan karier yang masif bagi Dart sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung tenis putri Inggris saat ini.