Perjalanan duet lintas generasi, Janice Tjen dan Venus Williams, di turnamen Guangzhou Open 2026 harus berakhir di babak semifinal. Pasangan yang baru dipasangkan ini gagal melaju ke partai puncak setelah menelan kekalahan dari duo Uzbekistan, Polina Kudermetova dan Maria Timofeeva, dalam pertandingan tiga set yang berlangsung dramatis pada Sabtu (31/10).
Sejak awal pertandingan, Kudermetova dan Timofeeva menunjukkan dominasi yang nyata. Mereka tampil sangat klinis, memanfaatkan celah di lini pertahanan Janice dan Venus untuk mencuri keunggulan hingga empat poin di set pertama. Meski Janice dan Venus sempat mencoba bangkit dengan memberikan perlawanan sengit, set pembuka akhirnya menjadi milik lawan dengan skor 6-4.
Memasuki set kedua, tensi permainan meningkat drastis. Pertarungan berjalan lebih ketat dengan kedua pasangan saling kejar poin. Janice dan Venus sempat tertinggal dua gim, namun mereka menunjukkan ketenangan luar biasa untuk mengejar ketertinggalan hingga menyamakan kedudukan menjadi 6-6. Situasi ini memaksa laga berlanjut ke babak tie break yang menegangkan.
Dalam babak penentuan tie break set kedua, Janice dan Venus sempat berada dalam posisi tertekan. Namun, kegigihan mereka membuahkan hasil manis. Pasangan Indonesia-Amerika Serikat ini berhasil membalikkan keadaan dan merebut set kedua dengan skor 7(10)-6(8), sekaligus memperpanjang napas dalam pertandingan tersebut.
Memasuki set penentuan, stamina dan ketahanan mental menjadi faktor krusial. Kudermetova dan Timofeeva kembali menunjukkan performa prima yang membuat Janice dan Venus harus bekerja ekstra keras. Kejar-kejaran poin terjadi hingga kedudukan imbang 3-3 dan berlanjut hingga 6-6. Sayangnya, pada fase akhir, pasangan lawan tampil lebih impresif dan mampu mengunci kemenangan dengan skor 10-6.
Kekalahan ini memang menutup peluang Janice dan Venus untuk meraih gelar juara di Guangzhou. Namun, bagi publik tenis Indonesia, kehadiran Janice Tjen berpasangan dengan legenda hidup seperti Venus Williams memberikan dimensi baru dalam peta persaingan ganda putri internasional. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa atlet Indonesia mampu mengimbangi level permainan atlet papan atas dunia.
Secara teknis, kekalahan ini menjadi bahan evaluasi berharga bagi Janice Tjen. Bermain dengan pemain sekaliber Venus Williams menuntut koordinasi dan komunikasi yang sangat intensif di lapangan. Meski baru dipasangkan, sinergi yang mereka tunjukkan dalam durasi singkat ini patut diapresiasi oleh komunitas tenis tanah air.
Bagi Venus Williams, turnamen ini menjadi panggung untuk membuktikan bahwa dirinya masih memiliki daya saing tinggi meski usianya tidak lagi muda. Kehadirannya di turnamen Asia seperti Guangzhou Open memberikan dampak positif bagi popularitas olahraga tenis di kawasan ini, sekaligus memotivasi pemain muda untuk terus berkembang.
Kudermetova dan Timofeeva sendiri memang tampil sebagai pasangan yang sangat solid sepanjang turnamen. Keberhasilan mereka menembus final setelah mengalahkan duet yang diperkuat peraih tujuh gelar Grand Slam tersebut menegaskan bahwa regenerasi atlet di kancah tenis dunia berjalan sangat kompetitif.
Pasca turnamen ini, fokus Janice Tjen tentu beralih pada pemulihan fisik dan evaluasi taktis. Keterlibatan dalam turnamen level tinggi seperti ini diharapkan dapat mendongkrak peringkatnya di ranking WTA dunia. Pengalaman berharga saat menghadapi pasangan yang bermain klinis dan disiplin akan menjadi modal utama bagi Janice untuk menghadapi tantangan di turnamen berikutnya.
Tren positif yang ditunjukkan Janice Tjen memberikan optimisme bagi masa depan tenis Indonesia. Di tengah keterbatasan jumlah pemain Indonesia yang berlaga di turnamen WTA, kehadiran sosok yang mampu menembus babak empat besar turnamen kelas dunia adalah sebuah pencapaian yang layak mendapatkan dukungan lebih dari pemangku kepentingan olahraga nasional.
Ke depannya, publik tentu menantikan apakah kemitraan Janice Tjen dan Venus Williams akan berlanjut ke turnamen-turnamen besar lainnya. Apapun keputusannya, performa mereka di Guangzhou Open telah meninggalkan kesan kuat mengenai potensi kolaborasi internasional dalam meningkatkan kualitas permainan atlet lokal di panggung global.