Petenis asal Inggris, Harriet Dart, mencatatkan tonggak sejarah baru dalam karier profesionalnya setelah sukses menembus babak semifinal Guangzhou Open di China. Dart berhasil membalikkan keadaan dengan menundukkan unggulan kelima, Paula Badosa, melalui pertarungan sengit tiga set yang berakhir dengan skor 3-6, 6-2, 6-4.
Duel yang berlangsung di Nansha International Tennis Centre ini memakan waktu durasi dua jam 15 menit. Kemenangan ini terasa sangat istimewa bagi Dart, mengingat Badosa merupakan petenis yang memiliki peringkat jauh lebih tinggi, yakni selisih 54 posisi di atasnya dalam daftar peringkat WTA dunia.
Bagi Dart, ini adalah kali kedua ia berhasil melangkah ke babak empat besar dalam sebuah turnamen tur WTA. Sebelumnya, prestasi serupa pernah ia torehkan pada ajang Transylvania Open di Cluj-Napoca, meskipun saat itu perjalanannya harus terhenti setelah kalah straight set dari Karolina Pliskova.
Laga melawan Badosa bukan perkara mudah bagi petenis berusia 30 tahun tersebut. Pada set pertama, Dart sempat kehilangan ritme permainan setelah gagal mengamankan gim servis pembukanya. Meski sempat bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3, Badosa kembali menunjukkan dominasinya dengan mematahkan servis Dart dan menutup set pertama dengan keunggulan 6-3.
Memasuki set kedua, intensitas pertandingan meningkat tajam. Keduanya saling bertukar break servis di awal permainan, namun Dart berhasil menemukan momentum terbaiknya untuk memimpin dan mengendalikan jalannya pertandingan hingga memaksakan set penentuan.
Faktor kondisi fisik menjadi sorotan utama dalam laga ini. Badosa terlihat berjuang keras menghadapi kelembapan udara di Guangzhou, bahkan harus meminta dua kali jeda medis selama pertandingan berlangsung. Kondisi ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Dart untuk terus menekan sang lawan.
Pada set ketiga, drama sempat terjadi ketika Badosa berhasil menyelamatkan match point pada kedudukan 5-3. Namun, kelelahan yang dialami petenis Spanyol tersebut membuatnya kehilangan fokus pada gim servis berikutnya, yang akhirnya memberikan kemenangan krusial bagi Dart.
Dalam wawancara pascapertandingan, Dart mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya. Ia mengakui bahwa tenis merupakan olahraga dengan tekanan mental yang sangat tinggi, sehingga mencapai babak semifinal adalah sebuah pencapaian yang sangat berharga untuk kepercayaan dirinya.
Dart kini menatap babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu waktu setempat. Ia masih menunggu calon lawannya, antara petenis Amerika Serikat Claire Liu atau petenis muda berbakat berusia 16 tahun asal tuan rumah, Sun Xinran.
Keberhasilan Dart menembus semifinal di tengah persaingan ketat Guangzhou Open menunjukkan konsistensi yang ia bangun sejak babak kualifikasi. Perjalanannya yang dimulai dari babak kualifikasi hingga mampu mengalahkan unggulan kedua, Janice Tjen, di putaran sebelumnya membuktikan bahwa ia sedang dalam performa terbaik.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa Dart memberikan pelajaran berharga mengenai mentalitas bertanding. Kunci kemenangan Dart terletak pada ketahanannya saat tertinggal di set pertama dan kemampuannya untuk tetap tenang saat lawan mengalami penurunan fisik akibat faktor cuaca.
Secara industri, turnamen seperti Guangzhou Open menjadi ajang pembuktian bagi petenis di luar jajaran elit untuk mencuri perhatian. Dengan semakin banyaknya turnamen tenis di Asia, pemain-pemain seperti Dart memiliki kesempatan lebih besar untuk menaikkan peringkat mereka secara signifikan sebelum musim kompetisi berakhir.