Lebih dari 150 pemain tenis putra profesional, termasuk para petenis peringkat satu dunia dan legenda olahraga, melayangkan surat terbuka kepada ATP Tour sebagai bentuk protes keras terhadap rencana perubahan radikal format turnamen ganda. Aksi kolektif ini dipicu oleh proposal ATP yang berencana memangkas jumlah peserta dalam undian turnamen serta memotong porsi hadiah uang bagi sektor ganda mulai tahun 2028. Para atlet menilai kebijakan ini tidak hanya mengancam keberlangsungan karier mereka, tetapi juga berisiko mematikan disiplin tenis yang memiliki nilai sejarah panjang.
Rencana reformasi yang diusulkan ATP mencakup pengurangan drastis jumlah tim di turnamen Masters 1000 dari 32 menjadi 16, serta turnamen level lebih rendah yang dipangkas menjadi hanya delapan tim. Selain itu, alokasi hadiah uang untuk nomor ganda diusulkan turun dari 20 persen menjadi 10 persen, di mana selisih tersebut akan dialokasikan kembali untuk pemain tunggal. Bagi para pemain ganda, langkah ini dianggap sebagai pukulan telak yang akan merusak mata pencaharian dan memutus mimpi generasi petenis masa depan.
Di balik perdebatan ini, ATP berargumen bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari tinjauan menyeluruh untuk memperkuat model bisnis tur dalam jangka panjang. Pihak penyelenggara mengklaim bahwa data menunjukkan beban logistik dan biaya operasional untuk turnamen ganda saat ini terlalu membebani, terutama dengan semakin sedikitnya pemain tunggal yang bersedia berkompetisi di sektor ganda. Keputusan akhir mengenai proposal ini dijadwalkan akan diambil melalui pemungutan suara oleh dewan direksi ATP pada ajang ATP Finals di Turin bulan depan.
Bagi ekosistem tenis di Indonesia, polemik ini memberikan perspektif menarik mengenai bagaimana sebuah organisasi olahraga menyeimbangkan antara komersialisasi dan keberlanjutan disiplin pendukung. Di Indonesia, sektor ganda sering kali menjadi tumpuan harapan dalam ajang internasional seperti Asian Games atau SEA Games. Jika tren pengurangan porsi di level global ini berlanjut, bukan tidak mungkin federasi nasional akan kesulitan memotivasi atlet muda untuk menekuni spesialisasi ganda, mengingat peluang karier profesional yang semakin menyempit akibat kebijakan di tingkat elit dunia.
Sem Verbeek, salah satu inisiator surat terbuka tersebut, menegaskan bahwa tenis ganda bukanlah pelengkap, melainkan disiplin yang memiliki masa depan cerah jika dikelola dengan benar. Para pemain justru mendesak ATP untuk fokus pada strategi pemasaran yang lebih baik guna menarik minat penonton, alih-alih melakukan pemotongan yang bersifat destruktif. Mereka berpendapat bahwa ganda adalah format yang paling mudah dimainkan dan dipahami oleh anggota klub tenis amatir di seluruh dunia, menjadikannya aset berharga untuk mempopulerkan olahraga ini.
Legenda tenis, Mike dan Bob Bryan, bahkan menyatakan dukungan mereka terhadap kemungkinan jalur hukum jika ATP tetap memaksakan kehendak. Keduanya merujuk pada pengalaman tahun 2005 ketika para pemain berhasil menggugat ATP untuk membatalkan perubahan radikal serupa. Bagi Bryan bersaudara, kebijakan yang diusulkan saat ini bersifat anti-kompetitif dan tidak mencerminkan kondisi finansial tur yang saat ini berada dalam posisi paling sehat sepanjang sejarah.
Ketegangan antara pemain dan pengurus ATP ini mencerminkan tantangan besar dalam tata kelola olahraga profesional modern. Di satu sisi, tekanan untuk meningkatkan pendapatan dari hak siar dan sponsor sering kali memaksa penyelenggara untuk memprioritaskan nomor tunggal yang dianggap lebih menjual. Namun, di sisi lain, mengorbankan nomor ganda berarti memangkas keragaman produk yang ditawarkan kepada penggemar. Kehilangan nomor ganda berarti kehilangan narasi rivalitas tim dan dinamika permainan yang unik, yang selama ini menjadi bumbu penyedap dalam setiap turnamen besar.
Ke depannya, para pemain masih berharap ada ruang kompromi. Meski pertemuan di Shanghai Masters beberapa waktu lalu belum membuahkan hasil yang memuaskan, pihak ATP menyatakan bahwa diskusi masih terus berlangsung. Tekanan dari 137 pemain aktif, 28 legenda, dan 20 federasi nasional tentu menjadi beban politik yang tidak ringan bagi dewan direksi ATP. Keputusan di Turin bulan depan akan menjadi penentu apakah tenis ganda akan tetap menjadi pilar utama atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah olahraga profesional.
Jika kebijakan ini disahkan tanpa revisi, dampak jangka panjangnya bisa berupa penurunan minat atlet muda untuk mengejar karier di nomor ganda secara penuh waktu. Hal ini akan memperlebar kesenjangan antara pemain top dunia dan mereka yang berjuang di level bawah. Bagi industri tenis secara luas, keberhasilan mempertahankan nomor ganda adalah ujian tentang seberapa besar sebuah organisasi mampu menghargai sejarah sambil beradaptasi dengan tuntutan pasar masa kini.