Bola yang dipakai Diego Maradona saat mencetak gol 'Tangan Tuhan' kontra Inggris di Piala Dunia 1986 berhasil terjual seharga US$3,35 juta atau sekitar Rp59,3 miliar. Bola Adidas Azteca ini menjadi barang yang laku keras meski tidak mencapai proyeksi awal penjual. Dalam laga perempat final itu, Argentina menang 2-1 atas Inggrianak, dengan Maradona mencetak dua gol ikonik: 'Tangan Tuhan' dan 'Gol Abad Ini'.
Bola tersebut dilelang oleh Heritage Auctions di Dallas, Amerika Serikat. Harga jualnya jauh di bawah perkiraan awal yang ditetapkan, yakni minimal US$10 juta. Sebelumnya, bola ini pernah dilelang lagi di London pada 2022 dengan harga dasar £2 juta, namun tidak berhasil terjual karena tidak mencapai harga minimum.
Sebelum dilelang, bola ini disimpan selama 36 tahun oleh Ali Bin Nasser, wasit asal Tunisia yang memimpin laga Argentina vs Inggris. Kehadirannya sebagai saksi sekaligus penjaga memori sejarah membuat barang ini semakin bernilai bagi pengumpul sepak bola dunia.
Nilai bola ini justru tidak sejalan dengan jersey asli Maradona dalam pertandingan yang sama. Jersey asli yang dikenakan sang legenda ini pernah terjual melalui Sotheby’s dengan harga hampal US$9,3 juta atau sekitar Rp164,7 miliar. Perbedaan nilai ini mencerminkan dinamika pasar barang antikuitas olahraga yang sangat subjektif dan dipengaruhi faktor emosional pengumpul.
Pada 2022, jersey Maradona juga dilelang dan mencapai angka jauh lebih tinggi dibandingkan bola. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan visual dan simbolik sebuah kaus yang dikenakan oleh pemain ikonik lebih kuat dibandingkan benda fisik seperti bola yang hanya menjadi media pelaksanaan aksi.
Nilai jual kembali benda sejarah ini mengindikasikan adanya fluktuasi pasar dalam dunia pengkinian dan koleksi sepak bola. Benda-benda seperti bola, jersey, atau sepatu pemain legendaris menjadi komoditas yang diminati oleh kolektor kaya di seluruh dunia, terutama di Asia dan Eropa.
Di Indonesia, minat terhadap barang-barang sejarah sepak bola masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa atau Amerika Serikat. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan nilai sejarah dan budaya olahraga, peluang bagi pengembangan pasar lokal bisa terbuka asalkan didukung oleh pendidikan dan kesadaran akan nilai budaya.
Benda seperti bola ini tidak hanya dihargai karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena kisah di baliknya. Gol 'Tangan Tuhan' selalu kontroversial hingga kini, meskipun resmi dinyatakan sah oleh wasit. Banyak pihak menganggapnya sebagai salah satu momen paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia.
Beberapa ahli sepak bola pernah menyoroti bahwa bola ini seharusnya tidak bisa dipakai sebagai barang bukti utama karena sudah beredak hingga ke tangan banyak orang sebelum akhirnya masuk ke ranah pasar gelanggang. Namun, nilainya tetap tinggi karena ikatan emosional dengan momen sejarah yang tak tergantikan.
Lelang ini juga menjadi ajang untuk menilai kembali peran sepatu, bola, dan jersey dalam membangun ingatan kolektif sepak bola global. Benda-benda ini berperan sebagai jembatan antara generasi lama dan baru, sekaligus aset yang dapat diperdagangkan secara terbuka di pasar internasional.
Sejumlah pakar menilai bahwa tren ini akan terus berkembang seiring dengan semakin kuatnya budaya koleksi dan investasi pada memori digital serta fisik. Mereka memperkirakan bahwa barang-barang seperti bola ini akan terus beredar dan dilelang kembali, tergantung minat dan kekuatan ekonomi pengumpul global.
Sementara itu, komunitas penggemar sepak bola di Indonesia sempat merespons dengan campuran rasa ingin tahu dan kekecewaan. Mereka menilai bahwa benda sejarah seperti ini sebaiknya dilestarikan dan tidak semestinya diperjualbeliakan hanya untuk keuntungan finansial semata.
Namun, realitas pasar tidak bisa dipisahkan dari dinamika global yang ada. Selama ini, barang-barang sejarah olahraga justru menjadi saksi bisnis yang menguntungkan bagi para pelaku pasar gelanggang.
Dari sudut pandang hukum, tidak ada larangan yang melarang penjualan benda-benda sejarah olahraga asalkan dilakukan secara transparan dan sesuai aturan. Namun, banyak pihak yang menyerukan regulasi yang lebih kuat agar warisan budaya olahraga tidak hanya menjadi komoditas semata.
Ke depan, fenomena ini bisa menjadi pijakan bagi pemerintah atau lembaga budaya untuk mempertimbangkan kebijakan perlindungan terhadap warisan olahraga nasional maupun internasional yang berada di wilayah Indonesia.
Sehingga, sementara bola 'Tangan Tuhan' kini berada di tangan kolektor baru, kisahnya tetap hidup dan terus menginspirasi diskusi di kalangan penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk Indonesia.