Turnamen Srikandi Merdeka Cup 2026 yang digelar di Supersoccer Arena, Kudus, pada 14 hingga 23 Agustus lalu menarik perhatian pelatih Malaysia U-16, Fairuz Montana. Ia menilai keseluruhan pelaksanaan — mulai dari transportasi khusus hingga penamaan fasilitas — sudah mencapai tingkat profesional yang mirip dengan panggung dunia.
Kompetisi ini mengundang enam tim nasional Asia dan menjadi ajang persiapan penting menjelang Kualifikasi Piala Asia U-17 2027 yang dijadwalkan 5 hingga 11 Oktober mendatang. Kehadiran tim-tim muda dari berbagai negara memberikan intensitas pertandingan yang tinggi bagi para pemain.
Di balik layar, Djarum Foundation bersama PSSI berperan sebagai penyelenggara utama, sementara turnamen juga menjadi wadah bagi pemain Hydroplus Soccer League (HPSL) dan HPSL All Star untuk beradu secara internasional. Kolaborasi tersebut menunjukkan komitmen sektor swasta dan federasi dalam mengembangkan sepak bola putri di tingkat grassroot.
Fairuz Montana secara eksplisit menyatakan apresiasi penuh, menyebut acara ini "100 persen bagus, sangat bagus, seperti Piala Dunia". Ia menyoroti detail logistik seperti armada bus yang tersedia untuk setiap delegasi dan penataan venue yang rapi, hal yang jarang ditemukan di turnamen usia muda sejenis.
Selain aspek organisasi, pelatih berusia 40-an ini menganggap turnamen ini vital sebagai uji coba taktis dan fisik sebelum kualifikasi kontinental. Ia berharap pola turnamen yang terstruktur ini dapat dijadikan referensi bagi federasi lain di wilayah ASEAN.
Keinginan Fairuz agar Srikandi Merdeka Cup berkelanjutan setiap dua tahun dan Malaysia terus diundang menunjukkan nilai strategis turnamen bagi pengembangan tim nasionalnya. Ia berpesan agar penyelenggara tidak melupakan Malaysia dalam edisi mendatang.
Program Director Teddy Tjahjono mengungkapkan harapan serupa, menargetkan alternasi penyelenggaraan dengan Piala AFF Putri U-16. Namun, ketidakpastian jadwal AFF 2027 membuat rencana tersebut masih terbuka, sehingga Srikandi Merdeka Cup berpotensi mengisi kekosongan kalender kompetisi regional.
Bagi sepak bola putri Indonesia, turnamen ini berarti peluang emas bagi pemain muda HPSL untuk mendapatkan pengalaman lawan lawan internasional tanpa harus bepergian ke luar negeri. Eksposur semacam ini diperlukan untuk mempercepat transisi dari liga domestik ke panggung seniormuda.
Secara regional, kehadiran turnamen berkualitas tinggi di Indonesia memperkuat citra negara sebagai tuan rumah yang mampu menyelenggarakan acara bergengsi. Hal ini juga membuka peluang kerja sama bilateral dalam pengembangan coaching dan pertukaran pemain antar federasi.
Langkah selanjutnya yang krusial adalah penentuan jadwal pasti edisi 2028 serta sinkronisasi dengan kalender AFF dan AFC agar tidak terjadi bentrok. Dukungan berkelanjutan dari sponsor, pemerintah daerah, dan PSSI akan menentukan apakah Srikandi Merdeka Cup benar-benar menjadi tradisi biennial yang berkelas dunia.
Jika momentum ini dijaga, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah turnamen bergengsi, tapi juga produsen bakat putri yang siap bersaing di panggung Asia dan dunia. Kunci utamanya ada pada konsistensi manajemen dan visi jangka panjang yang dibagikan semua pemangku kepentingan.