Nama François Letexier kembali menjadi sorotan tajam publik sepak bola internasional, khususnya Indonesia, setelah memimpin laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Mesir. Wasit asal Prancis ini menuai kritik pedas karena serangkaian keputusan krusial yang dianggap merugikan, terutama terkait minimnya intervensi VAR dalam insiden-insiden krusial di kotak penalti.
Bagi pendukung Timnas Indonesia, sosok Letexier bukanlah wajah baru. Ia merupakan wasit yang memimpin pertandingan krusial antara Indonesia melawan Guinea dalam babak playoff Olimpiade Paris 2024 yang berlangsung di Clairefontaine, Prancis, pada Mei 2024 lalu. Laga tersebut berakhir dengan kekalahan tipis 0-1 bagi Garuda Muda, yang sekaligus mengubur impian Indonesia tampil di Olimpiade.
Dalam duel melawan Guinea tersebut, Letexier mengeluarkan dua keputusan penalti yang memicu perdebatan panjang. Penalti pertama diberikan pada menit ke-28 setelah Witan Sulaeman dianggap melakukan pelanggaran. Namun, tayangan ulang menunjukkan bahwa kontak fisik terjadi di luar area penalti, namun wasit tetap menunjuk titik putih yang kemudian dikonversi menjadi gol oleh Ilaix Moriba.
Kontroversi berlanjut pada menit ke-76 saat Alfeandra Dewangga melakukan tekel bersih terhadap Algassime Bah. Meskipun dari tayangan lambat terlihat jelas bahwa Dewangga berhasil menyentuh bola terlebih dahulu, Letexier tetap memberikan penalti kedua bagi Guinea. Keputusan ini memicu protes keras dari pelatih Shin Tae-yong, yang berujung pada kartu merah untuk juru taktik asal Korea Selatan tersebut.
Meskipun memiliki rekam jejak kontroversial, karier Letexier di kancah internasional terbilang moncer. Ia bahkan dipercaya memimpin laga final Euro 2024 antara Spanyol dan Inggris. Namun, ketegasan dan akurasi keputusannya kini kembali dipertanyakan setelah ia mengabaikan potensi pelanggaran terhadap Mohamed Salah dan Alexis Mac Allister dalam laga Argentina versus Mesir di Piala Dunia 2026.
Kini, sorotan terhadap Letexier kembali memuncak di media sosial. Para penggemar sepak bola di Indonesia kembali mengungkit memori pahit saat laga playoff Olimpiade, melihat pola kepemimpinan yang serupa dalam turnamen sebesar Piala Dunia. Hal ini memicu diskusi luas mengenai standar kualitas wasit di turnamen elit dan efektivitas penggunaan teknologi VAR di lapangan.