Nguyen Dinh Bac menghadirkan debut manis di panggung senior Piala AFF 2026. Penyerang berusia 21 tahun itu mengemas tiga gol sekaligus saat Vietnam menghancurkan Timor Leste 6-0 di Stadion My Dinh, Hanoi, Jumat (25/7). Hattrick itu membawanya ke puncak klasemen pencetak gol turnamen dengan koleksi tiga butir, mengungguli sekelompok bintang senior yang turut bertanding di fase grup.
Kemenangan telak itu menjadi permulaan ideal bagi tim asuhan Kim Sang Sik. Meski lawan merupakan tim terlemah grup, Vietnam menunjukkan dominasi penuh sejak menit awal. Dinh Bac, yang berbaju klub Cong An Hanoi, memanfaatkan ruang di garis belakang Timor Leste dengan gerakan lincah dan finishing yang tenang. Tiga golnya lahir dari variasi yang berbeda: satu lewat tendangan dalam kotak penalti, satu lewat header, dan satu lagi lewat aksi solo yang diakhiri dengan composure di hadapan kiper.
Selebrasi menari yang ia lakukan setelah gol kedua menarik perhatian. Dinh Bac mengakui gerakan itu terinspirasi dari para bintang Brasil yang ia idamkan. "Saya belajar selebrasi mereka karena itu bagian dari kegembiraan bermain," ujarnya di konferensi pers pasca laga. Sikap santai itu mencerminkan keyakinan generasi muda Vietnam yang tumbuh di era profesionalisasi liga domestik yang semakin ketat.
Statistik memperkuat narasi kemajuan. Dinh Bac kini mengumpulkan enam gol dari 15 penampilan internasional senior. Angka efisiensi 0,4 gol per laga menempatkannya di atas rata-rata penyerang Asia Tenggara usia setara. Ia bukan satu-satunya senjata Vietnam. Kapten Nguyen Quang Hai tetap menjadi playmaker utama dengan 15 gol karier, sementara penyerang naturalisasi Nguyen Xuan Son — lebih dikenal sebagai Rafaelson — menyimpan 12 gol. Ketiganya membentuk trio serbu yang saling melengkapi: Quang Hai mengatur tempo, Rafaelson memberikan fisik dan kedalaman, Dinh Bac menghadirkan kecepatan dan ketidakterdugaan.
Kim Sang Sik tampak puas tapi tidak lengah. Pelatih asal Korea Selatan itu menilai pergerakan tim "cukup bagus" dan pemain tampil percaya diri. "Saya ingin kepercayaan ini dibawa ke laga berikutnya melawan Singapura dan menghasilkan performa positif lagi," katanya. Singapura akan menjadi uji kualitas yang jauh lebih keras dibanding Timor Leste. Harimau Kumbang memiliki struktur pertahanan yang terorganisir dan berpengalaman bermain di tekanan tinggi.
Laga kontra Singapura di My Dinh, Jumat (31/7), akan menjawab apakah Vietnam benar-benar siap merebut gelar keempat mereka di era Kim Sang Sik. Kemenangan akan mengunci posisi puncak grup dan memberikan momentum psikologis sebelum menghadapi Indonesia. Sebalikkan, hasil buruk bisa membuka ruang spekulasi soal kestabilan mental tim saat menghadapi lawan setara.
Bagi Timnas Indonesia, kemunculan Dinh Bac sebagai top scorer sementara adalah sinyal peringatan dini. Pertemuan di Stadion Pakansari, Bogor, Senin (3/8), akan menjadi pertemuan pertama kedua tim di turnamen ini. Indonesia yang diperkuat sejumlah pemain naturalisasi dan bintang muda seperti Marselino Ferdinan harus menyusun skema khusus untuk melumpuhkan gerakan Dinh Bac di sisi kiri serbuan Vietnam. Kecepatan dan kecenderungan ia memotong ke tengah memerlukan penutupan yang disiplin dari bek sayap dan penutup defensif dari gelandang tengah.
Sejarah pertemuan terakhir di Piala AFF 2022 menunjukkan Vietnam unggul 1-0 di leg pertama di Hanoi sebelum Indonesia membalas 2-1 di leg kedua di Jakarta — namun Vietnam lolos ke final lewat aturan gol lawan. Dinamika serupa berpotensi terulang: laga di Bogor kemungkinan besar akan menentukan siapa yang menduduki puncak grup dan menghindari lawan yang lebih berat di babak semifinal.
Dari sisi taktis, Kim Sang Sik cenderung memainkan 4-2-3-1 yang berubah menjadi 4-5-1 saat bertahan. Dinh Bac bertindak sebagai penyerang tunggal yang sering tarik ke kiri, menciptakan ruang untuk Quang Hai masuk ke zona berbahaya. Indonesia bisa mengeksploitasi ruang yang tertinggal di sisi kiri pertahanan Vietnam saat Dinh Bac naik menyerang. Serangan balik cepat melalui sayap kanan — area yang dijaga bek kiri Vietnam Doan Van Hau — bisa menjadi kunci.
Faktor pendukung juga akan memainkan peran. Stadion Pakansari diprediksi penuh sesak dengan suporter Indonesia. Tekanan atmosfer bisa mempengaruhi pemain muda seperti Dinh Bac yang baru kedua kalinya bermain di Piala AFF senior. Di sisi lain, Vietnam sudah terbiasa bermain di lingkungan lawan berkat pengalaman tim senior mereka. Ketahanan mental akan diuji di menit-menit kritis.
Secara jangka panjang, kemunculan Dinh Bac menandakan regenerasi Vietnam berjalan lancar. Liga V.League 1 yang semakin kompetitif — didorong investasi klub seperti Cong An Hanoi dan Thep Xanh Nam Dinh — memproduksi pemain yang siap secara fisik dan mental untuk panggung internasional. Indonesia yang sedang menggalakkan naturalisasi dan pengembangan akademi harus memperhatikan model ini: menciptakan ekosistem liga yang memaksa pemain muda bersaing ketat mingguan agar terbiasa dengan intensitas tinggi.
Laga 3 Agustus mendatang bukan sekadar pertemuan fase grup. Ia akan menjadi cermin kemajuan dua negara yang bersaing ketat di peta sepak bola Asia Tenggara. Siapa pun yang menang, narasi Dinh Bac sebagai bintang baru yang muncul dari bayang-bayang senior akan tetap melekat — dan Indonesia harus siap menghadapi babak baru rivalitas klasik ini.