Shanti Pereira melanjutkan dominasinya di panggung multikontinental dengan performa mengesankan di pembukaan nomor 100 meter putri Commonwealth Games 2026 di Hampden Park, Glasgow. Atlet berusia 27 tahun itu menyelesaikan heat keduanya di posisi pertama, mencatat 11,24 detik — hanya 0,04 detik di bawah rekor nasional miliknya sendiri yang ditetapkan di Kejuaraan Atletik Asia 2023 di Bangkok.
Waktu tersebut menempatkannya di urutan ketiga paling cepat dari 53 peserta yang berlaga di putaran kualifikasi. Hanya Imani Lansiquot dari Inggris (11,04 detik) dan Torrie Lewis dari Australia (11,15 detik) yang lebih cepat. Semifinal dijadwalkan digelar Rabu dini hari waktu Singapura, menjadi ujian berikutnya bagi Pereira dalam mengejar medali pertamanya di ajang ini.
Kualifikasi ini bukan kejutan bagi penggemar atletik Asia Tenggara. Pereira telah membangun reputasi sebagai sprinter paling konsisten di wilayah ini sejak memecahkan rekor nasional 100 meter dan 200 meter di Commonwealth Games 2022 di Birmingham. Di sana, ia menjadi wanita Singapura pertama yang lolos final 100 meter Commonwealth Games sejak 1974, sebelum akhirnya finis keenam dengan waktu 11,48 detik.
Momentum berlanjut ke SEA Games 2023 di Phnom Penh, di mana Pereira menyabet gelar sprint ganda — 100 meter (11,36 detik) dan 200 meter (23,13 detik) — mengulangi keberhasilan serupa di SEA Games 2021 di Hanoi. Ia adalah atlet wanita Singapura pertama dalam sejarah yang mencapai sprint ganda berturut-turut di SEA Games, menegaskan statusnya sebagai wajah atletik nasional.
Di sisi lain, kehadiran Lansiquot dan Lewis di dua posisi teratas menandakan standar kompetisi yang lebih tinggi dibandingkan edisi sebelumnya. Lansiquot, peraih perak estafet 4x100 meter Olimpiade Tokyo 2020, membawa pengalaman panggung dunia. Lewis, berusia 19 tahun, baru-baru ini mencatat 11,10 detik di Kejuaraan Australia April lalu, menandai dirinya sebagai bintang masa depan atletik Australia.
Bagi Pereira, target realistis di semifinal adalah mempertahankan konsistensi di bawah 11,30 detik untuk lolos final. Jika berhasil, ia akan menjadi atlet Singapura pertama dua kali berturut-turut lolos final 100 meter Commonwealth Games — pencapaian yang akan memperkuat argumennya sebagai atlet terdekorasi sejarah olahraga Singapura modern.
Konteks ini relevan bagi atletik Indonesia yang sedang dalam fase regenerasi. Meskipun Indonesia belum memiliki sprinter wanita yang konsisten di bawah 11,50 detik di level internasional, perkembangan Pereira menunjukkan pola yang bisa ditiru: fokus pada kompetisi regional (SEA Games, Kejuaraan Asia) sebagai batu loncatan, dibarengi program latihan berbasis sains di luar negeri. Pereira sendiri berlatih di bawah naungan pelatih Inggris di Loughborough sejak 2021.
Federasi Atletik Indonesia (PB PASI) sebenarnya telah mengadopsi pendekatan serupa dengan mengirim atlet potensial seperti Lalu Muhammad Zohri ke klub Eropa, namun untuk sektor putri, celah dengan tetangga utara masih terasa. Rekor nasional Indonesia 100 meter putri masih di tangan Irene Truitje Joseph (11,38 detik, 2000) — waktu yang lebih lambat dari rekor nasional Singapura saat ini.
Dalam wawancara pasca-lomba di zona mixed zone, Pereira tampak tenang. "Saya hanya fokus pada eksekusi teknis di heat hari ini. Semifinal adalah cerita lain, lawan lebih cepat, tekanan lebih besar. Tugas saya tetap sama: jalani balok saya, jaga ritme, dan bersikap tenang," ujarnya. Sikap pragmatis ini menjadi ciri khasnya sejak transisi ke pelatihan profesional penuh.
Jadwal padat menanti: semifinal Rabu pagi, dan jika lolos, final digelar sore hari yang sama. Manajemen pemulihan — tidur, nutrisi, fisioterapi — akan menentukan performa di putaran kedua. Tim medis Singapura telah menyiapkan protokol pendinginan dan kompresi khusus untuk mengurangi kelelahan otot hamstring, area yang kerap jadi risiko bagi sprinter di ajang multikontinental.
Di luar lintasan, keberhasilan Pereira memicu bangga nasional di Singapura. Media lokal seperti The Straits Times dan CNA menempatkan berita di halaman depan, sementara hashtag #ShantiPereira trending di platform X dan TikTok. Sponsor utama seperti Mizuno dan 100Plus memanfaatkan momentum untuk kampanye digital, memperkuat ekosistem komersial yang mendukung karir jangka panjang atlet.
Ke depan, mata dunia atletik akan mengawasi apakah Pereira mampu menurunkan rekor nasionalnya lagi di Glasgow. Target 11,15 detik — zona medali Commonwealth Games — bukan mustahil mengingat progresi musiman yang konsisten. Bagi Indonesia, kisah Pereira adalah pengingat: investasi jangka panjang, lingkungan berlatih bermutu, dan manajemen karir profesional adalah kunci menutup celah dengan tetangga terdekat.