Rizky Ridho resmi memegang jabat kapten Timnas Indonesia saat pasukan Garuda menghadapi Kamboja di pembukaan Grup B Piala AFF 2026. Pertandingan yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Senin (27/7) pukul 20.30 WIB menjadi ujian pertama bagi bek tengah berusia 24 tahun itu di kancah senior tingkat ASEAN.
Pelatih Patrick Kluivert menaruh kepercayaan penuh pada Ridho untuk mengawal lini belakang sekaligus memimpin kesebelasan Merah Putih. Pemain Persija Jakarta itu dipasangkan di tengah pertahanan bersama struktur tim yang mengandalkan pemain-pemain Liga 1. Kehadiran Ridho sebagai kapten menandakan pergantian generasi kepemimpinan di timnas.
Seharusnya Jay Idzes yang memegang tongkat kapten. Bek tengah Venezia FC itu menjadi pemimpin alami Timnas Indonesia sejak era Shin Tae-yong. Namun Kluivert memutuskan tidak memanggil Idzes ke Piala AFF kali ini. Alasannya jelas: pelatih asal Belanda memprioritaskan pemain yang aktif bersaing di Liga 1 demi membangun kohesi tim yang lebih padat di turnamen regional.
Keputusan itu membuka peluang emas bagi Ridho. Bek kelahiran Jakarta, 21 November 2001 ini telah lama dipandang sebagai calon pemimpin masa depan. Ia pernah memimpin Timnas U-23 dan U-19, serta rutin jadi kapten Persija di Liga 1. Pengalaman memimpin di tingkat klub dan timnas muda membekalinya mentalitas yang dibutuhkan di panggung senior.
Menariknya, Ridho melangkahi deretan pemain senior berkelas dunia untuk mendapat kepercayaan Kluivert. Jordi Amat, Marc Klok, hingga Thom Haye — ketiganya memiliki pengalaman bermain di liga Eropa dan cap timnas yang lebih banyak — justru harus pasrah duduk di bangku cadangan atau tidak dipanggil sama sekali. Fakta ini menunjukkan betapa besarnya keyakinan staf pelatih pada karakter dan kepemimpinan Ridho di lapangan.
Di usia 24 tahun, Ridho kini berada di posisi kapten kedua di balik Idzes. Status ini bukan sekadar gelar simbolis. Ia harus mengatur barisan pertahanan, berkomunikasi dengan kiper, hingga menenangkan rekan tim saat tekanan lawan meningkat. Tugasnya semakin berat mengingat Indonesia dijadwalkan bermain tiga laga dalam seminggu fase grup — kontra Kamboja, Laos, dan Vietnam.
Piala AFF 2026 memiliki makna khusus bagi sepak bola Indonesia. Garuda belum pernah meraih gelar juara sejak turnamen ini bergulir pada 1996. Enam kali Indonesia menyentuh puncak klasemen runner-up, tapi trofi juara selalu meleset. Kluivert dan PSSI menargetkan gelar perdana tahun ini sebagai bukti regenerasi dan sistem pengembangan pemain mulai membuahkan hasil.
Susunan pemain lawan Kamboja sendiri tidak boleh diremehkan. Tim Champa Flower berkembang pesat under pelatih Koji Gyotoku. Mereka lolos ke putaran final Piala Asia 2027 dan memiliki gaya bermain fisik dengan transisi cepat. Ridho dan lini belakang Indonesia akan diuji ketangguhan mental dan taktikal sejak menit pertama.
Kluivert mengakui bahwa Piala AFF menjadi momentum tepat untuk menguji kedalaman skuad. "Kami membawa pemain-pemain yang berkomitmen penuh dengan program jangka panjang. Ini kesempatan mereka membuktikan diri," ujar pelatih kelahiran Amsterdam itu dalam konferensi pers pra-pertandingan. Ia menegaskan tidak ada tempat untuk ego pribadi; kepentingan tim di atas segalanya.
Bagi Ridho, laga kontra Kamboja adalah ujian api nyata kepemimpinannya di tingkat senior. Jika berhasil mengantarkan Indonesia ke putaran gugur dengan catatan bersih, posisinya sebagai waris alami Idzes akan semakin kokoh. Sebaliknya, kegagalan di fase grup bisa menggeser dinamika kepemimpinan di masa depan.
Proyeksi ke depan, performa Ridho di Piala AFF akan menentukan apakah ia siap memikul beban penuh sebagai kapten utama Timnas di kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Piala Asia 2027. PSSI dan Kluivert jelas memiliki rencana jangka panjang: membangun tim di sekitar tulang punggung muda seperti Ridho, Marselino Ferdinan, hingga Rafael Struick. Laga pembuka malam ini adalah babak pertama dari narasi regenerasi itu.