PSMS Medan menorehkan sejarah sebagai tim kasta kedua tunggal yang menginjakkan kaki di ajang Piala Presiden 2026. Kehadiran Ayam Kinantan di turnamen pramusim bergengsi ini bukan sekadar melengkapi kuota peserta, melainkan menjadi ujian nyata bagi rekrutmen baru dan skema taktik pelatih Eko Purjianto menjelang musim Liga 2.
Di konferensi pers yang digelar di Vasa Hotel Surabaya, Eko mengaku timnya membawa 28 pemain setelah tiga minggu masa persiapan. Angka tersebut mencerminkan kebijakan rotasi yang matang, mengingat jadwal padat yang menunggu: setelah Port FC, PSMS masih harus berhadapan dengan dua raksasa Liga 1, Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya, dalam rentang waktu singkat.
Pilihan lawan pembuka tak bisa dibilang ramah. Port FC datang sebagai juara bertahan musim lalu dengan tulang punggung pemain berkualitas. Angelo Meneses, bek asing PSMS asal Brasil, menilai lawan tersebut memiliki kedalaman skuad yang mengancam. "Musim lalu mereka juara, jadi ini pertandingan sulit," ucapnya, meski menegaskan tim sudah mempersiapkan strategi khusus selama pekan-pekan terakhir.
Kendati optimis, Eko harus mengelola kekhawatiran cedera. Rahmad Hidayat, salah satu pilar lini belakang, tidak terbawa ke Surabaya akibat cedera saat latihan. Kabar baiknya, cedera tersebut dinyatakan tidak parah dan pemain tersebut masih memiliki peluang pulih sebelum Liga 2 bergulir. Keputusan tidak memaksakan Hidayat menunjukkan manajemen risiko yang dewasa dari staf medis dan pelatih.
Uniknya, dari 28 pemain yang dibawa, sejumlah besar berstatus calon pemain alias trial. Piala Presiden dijadikan arena uji coba nyata sebelum kontrak resmi ditandatangani. Eko transparan soal mekanisme: performa di turnamen ini menjadi parameter utama rekrutmen, namun pintu tetap terbuka untuk posisi yang dirasa masih kekurangan meski pemain trial gagal mengekspektasikan diri.
Kebijakan ini mencerminkan realitas klub Liga 2 yang harus hemat namun cerdas dalam membangun tim. Berbeda dengan klub Liga 1 yang sudah memiliki kerangka tetap, PSMS masih dalam tahap menyusun puzzle. Turnamen ini menjadi laboratorium: kombinasi pemain senior, rekrutan baru, dan calon pemain diuji sekaligus di tingkat kompetisi yang lebih tinggi dari Liga 2.
Dampak psikologis bagi pemain muda tak bisa diremehkan. Bermain di stadion bersejarah seperti Gelora Bung Tomo atau Gelora 10 November, menghadapi penonton ribuan, dan berlawan dengan pemain berkualitas internasional — pengalaman ini membentuk mentalitas yang sulit didapat dari latihan rutin atau liga kasta dua.
Di sisi tribun, dukungan suporter menjadi bahan bakar tersendiri. Eko dan Angelo serupa mengucapkan terima kasih kepada rombongan suporter yang dikabarkan berangkat dari Medan ke Surabaya. Jarak lebih dari 2.000 kilometer tidak menghalangi kesetiaan Ayam Kinantan. Kehadiran mereka di stadion asing memberikan keuntungan emosional bagi pemain, sekaligus membuktikan daya tarik brand PSMS yang melampaui batas administrasi regional.
Secara komersial, partisipasi PSMS di Piala Presiden membuka peluang eksposur sponsor dan media nasional yang jarang menyorot Liga 2 secara intensif. Setiap menit tayang di televisi atau portal berita besar bernilai untuk menarik calon sponsor musim depan. Klub cerdas akan memanfaatkan momentum ini untuk negosiasi kontrak penyiaran dan jersey.
Laga melawan Port FC malam ini bukan soal hasil akhir semata. Kemenangan akan membangkitkan semangat, tapi kekalahan dengan performa bermartabat justru lebih berharga jangka panjang. Eko sadar: "Kita mau menampilkan permainan terbaik." Frasa itu lebih berarti dari sekadar targeting tiga poin — ia ingin identitas permainan terbentuk.
Ke depan, tiga laga fase grup akan menjadi benchmark kesiapan PSMS untuk Liga 2. Jika sistem pertahanan tahan terhadap tekanan Port FC, Persija, dan Persebaya, maka fondasi mental dan taktis sudah terbangun. Jika tidak, Eko masih memiliki waktu beberapa minggu untuk memperbaiki celah sebelum kompetisi resmi dimulai.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kehadiran PSMS di Piala Presiden 2026 adalah pengingat bahwa kesenjangan kasta tidak selalu berarti kesenjangan kualitas yang mutlak. Kadang, satu turnamen pramusim justru menjadi katalisator transformasi tim kasta dua menjadi pesaing serius di musim berikutnya.