Pelatih Port FC, Sarawut Treephan, secara gamblang menyatakan tekad keras timnya untuk mempertahankan gelar juara Piala Presiden 2026. Pernyataan tegas ini disampaikan saat konferensi pers di Surabaya, Sabtu (25/7), hanya sehari sebelum tim asal Thailand itu melakoni laga perdana Grup B.
Sarawut menyadari status juara bertahan justru membuat posisi Port FC semakin berat. Seluruh tim peserta, baik dari Indonesia maupun luar negeri, akan memberikan perlawanan maksimal untuk menumbangkan sang pemegang trofi. "Port ingin mempertahankan gelar juara. Kami ingin membawa trofi kembali ke Thailand," ujar Sarawut.
Turnamen pramusim ini menjadi arena krusial bagi Port FC untuk menguji kekuatan sebelum kompetisi resmi bergulir. Bagi klub-klub Thailand, Piala Presiden merupakan ajang akbar dengan eksposur tinggi dan kompetitif, menjadi barometer penting menjelang musim baru Liga Thailand.
Tantangan utama Port FC datang dari jadwal yang padat dan persiapan simultan. Sarawut menjelaskan bahwa timnya harus menyeimbangkan fokus antara turnamen ini, persiapan untuk Liga Thailand, hingga kampanye di Liga Champions Asia (ACL). "Kami perlu mempersiapkan pertandingan satu per satu," katanya, mengindikasikan manajemen beban dan rotasi pemain akan menjadi kunci.
Lawan pertama yang dihadapi, PSMS Medan, meski berasal dari kasta kedua Liga Indonesia, tidak akan dianggap enteng. Sarawut menilai potensi serangan balik cepat PSMS sebagai ancaman nyata. "Kami tahu PSMS merupakan tim dari liga kedua, tetapi kami tetap mempersiapkan tim. Kami tahu mereka menunggu untuk melakukan serangan balik," ungkapnya.
Kesiapan Port FC juga sedikit terganggu oleh isu non-teknis. Kritik terbuka dari bek mereka, Asnawi Mangkualam, mengenai kualitas hotel yang dianggap tidak layak untuk tim juara bertahan, sempat mewarnai sesi konferensi pers. Meski demikian, Sarawut berusaha tetap fokus pada aspek lapangan.
Bagi Piala Presiden, kehadiran tim seperti Port FC yang bertekad mempertahankan gelar menambah nilai prestise kompetisi ini. Turnamen ini terus berevolusi menjadi platform yang menarik bagi klub-klub regional untuk unjuk kekuatan, sekaligus memberikan peluang langka bagi klub Indonesia bersaing langsung dengan tim-tim berkualitas dari luar negeri.
Strategi bertahap yang diterapkan Port FC menunjukkan pendekatan profesionalisme tinggi. Mereka tidak hanya menargetkan Piala Presiden, tetapi melihatnya sebagai bagian dari ekosistem persiapan musim yang lebih besar. Pendekatan ini layak menjadi benchmark bagi manajemen klub Indonesia dalam merencanakan program kompetisi.
Misi pertahanan gelar Port FC juga menjadi ujian bagi konsistensi tim asing di turnamen domestik Indonesia. Apakah mereka mampu mengulangi kesuksesan di tengah meningkatnya kualitas dan motivasi peserta? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan di Surabaya.
Sementara itu, dari kubu PSMS Medan, laga ini merupakan kesempatan bersejarah untuk mengukur kemampuan sebenarnya melawan tim papan atas regional. Tekanan tak ada di pundak mereka, melainkan di bahu skuad Port FC yang harus membuktikan predikat juara bertahan.
Ke depannya, komitmen Port FC dalam multi-kompetisi akan terus diawasi. Keberhasilan mereka mempertahankan gelar Piala Presiden akan menjadi penanda kekuatan mental dan kedalaman skuad yang mumpuni, modal berharga sebelum mengarungi ketatnya Liga Thailand dan persaingan di level benua melalui ACL.