Sepakbola

Tendangan Kungfu di Piala Soeratin U-13, PSSI DIY Usut Sanksi Wasit dan Pemain

Ringkasan

  • Insiden tendangan kungfu di Piala Soeratin U-13 antara Baturetno dan Mataram Utara (MU) sempat membelah perhatian publik.
  • PSSI DIY turun tangan dan membentuk sidang disiplin untuk menyelidiki kasus ini.

Sejumlah pemain sepak bola usia 13 tahun menjadi saksi sebuah insiden kekerasan yang mencengkamkan selama pertandingan Piala Soeratin U-13 antara Baturetno dan Mataram Utara (MU) di Lapangan Dwi Windu, Bantul, DIY, Kamis (20/8) lalu. Dalam rekaman video yang beredar, terlihat jelas tindakan tak sportif dari salah satu pemain MU, yang melompat dan menendang kepala Adskhan Jarrar Fauzy dari Baturetno. Akibatnya, korban langsung tersungkur dan wasit hanya mengeluarkan kartu kuning ke pelaku, bukan kartu merah sebagaimana diinginkan kubu Baturetno.

Insiden ini bukan sekali duanya. Beberapa tahun lalu, kasus serupa pernah terjadi dalam kompetisi Liga 4, yang kemudian berujung pada sanksi panjang bagi pemain dan pelatih terlibat. Namun kali ini, reaksi PSSI DIY tampak lebih cepat dan tegas. Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY Wendy Umar langsung memastikan adanya penyelidikan mendalam, mulai dari pengumpulan bukti video, foto, hingga laporan resmi pengawas pertandingan.

Wendy menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir aksi kekerasan dalam permainan anak-anak. “Kami juga tetap masih menunggu hasil sidang dari Komite Disiplin berkaitan dengan hasilnya,” ujar Wendy. Sidang Komite Disiplin (Komdis) digelar pada Jumat (21/8), dan keputusan resminya diperkirakan akan diketahui dalam waktu dekat.

Dari sisi medis, kondisi Adskhan Jarrar Fauzy sempat mengkhawatirkan. Setelah pertandingan, ia dilaporkan mengalami pusing dan mual, lalu langsung dibawa ke Rumah Sakit JIH untuk menjalani CT Scan. Hasilnya cukup menggembarkan: tidak ada tanda luka struktural serius, namun tetap diperlukan observasi lanjutan selama 24 jam ke depan.

Pembina SSB Baturetno, Sarjoko, menyampaikan protes kuat terhadap keputusan wasit. Ia meminta agar pemain MU yang melakukan tendangan tersebut dikenai sanksi larangan ikut kompetisi selama beberapa tahun. “Si pemain juga harus minta maaf dan menerima hukuman yang adil,” tegasnya. Ia juga menuntut agar wasit yang memimpin laga dikenai sanksi, termasuk kemungkinan tidak boleh mengarahi pertandingan selama satu hingga dua tahun ke depan.

Insiden ini menyoroti kembali isu keamanan dan disiplin dalam sepak bola raga anak. Di tingkat nasional, regulasi mengenai perlakuan fisik dan perlawanan tidak sportif di usia dini masih seringkali diabaikan. Padahal, banyak organisasi olahraga telah menegaskan pentingnya pendidikan karakter sejak dini, termasuk melalui sanksi yang konsisten terhadap pelaku kekerasan.

Beberapa pakar olahraga menilai, insiden semacam ini justru bisa menjadi pijakan untuk merevisi sistem pengawasan pertandingan di tingkat usia muda. Mereka menyarankan adanya pelatihan khusus bagi wasit muda, serta sistem pelaporan anonim bagi pelatih dan orang tua agar bisa merespons lebih cepat terhadap tindak pidana atau kekerasan dalam pertandingan.

Di sisi lain, dukungan emosional dan psikologis bagi para pemuda yang menjadi korban juga perlu diperhatikan. Banyak dari mereka yang traumatik setelah mengalami insiden serupa, dan tanpa pendampingan yang baik, dampaknya bisa berkepanjangan hingga ke fase remaja.

Asprov PSSI DIY pun mengakui telah melakukan komunikasi langsung dengan pihak keluarga korban. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moril, tetapi juga berkomitmen untuk mencegah kasus serupa terulang di masa mendatang. “Kami akan terus mengawal proses hukum dan juga memastikan semua pihak terlibat dalam pencegahan,” kata Wendy.

Dengan semakin maraknya kasus kekerasan dalam sepak bola raga anak, publik pun menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh dari pihak penyelenggara. Insiden di Piala Soeratin U-13 ini bisa jadi ujian bagi komitmen PSSI DIY dalam menjaga integritas dan keamanan permainan, terutama bagi generasi muda yang menjadi masa depan sepak bola nasional.

Apakah sanksi yang akan diberikan cukup deterjen? Itu pertanyaan yang belum terjawab. Namun yang jelas, langkah-langkah pencegahan dan edukasi harus segera dicanangkan agar sepak bola raga anak di Indonesia tidak lagi tercemar oleh aksi kekerasan yang sepatutnya tidak ada tempatnya dalam olahraga.

Mengapa Ini Penting

Insiden ini menjadi indikator lemahnya sistem pengawasan dan kontrol atas disiplin dalam pertandingan usia dini. Jika tidak ditangani serius, hal serupa bisa merusak citra sepak bola raga anak di Indonesia dan menurunkan partisipasi orang tua. Selain itu, konsistensi penerapan sanksi akan menjadi tolak ukur sejauh mana komitmen PSSI dalam menjaga integritas olahraga.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
22 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit