Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) telah mencapai kesepakatan penuh dengan Andrea Pirlo untuk mengisi jabatan pelatih utama Timnas Italia. Keputusan ini diambil setelah Direktur Teknis Paolo Maldini gagal merekrut dua nama besar, Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola, yang keduanya menolak tawaran tersebut dengan alasan masing-masing.
Kontrak yang disiapkan untuk Pirlo berjangka empat tahun dengan besaran honorarium 1,5 juta Euro per tahun, atau setara Rp30 miliar. Angka ini jauh di bawah ekspektasi gaji Guardiola yang ditaksir mencapai 20 juta Euro per tahun — nominal yang FIGC akui tidak mampu dipenuhi. Pengumuman resmi pelantikan mantan playmaker Juventus dan AC Milan itu direncanakan dilaksanakan pekan depan.
Latar belakang pengambilan keputusan ini tidak terlepas dari krisis hasil yang dihadapi Gli Azzurri. Timnas Italia telah gagal lolos ke Piala Dunia tiga edisi berturut-turut — 2018, 2022, dan 2026 — sebuah catatan kelam bagi negara dengan empat gelar juara dunia. Kegagalan itu memaksa federasi mencari sosok yang mampu membangun ulang identitas bermain dan mentalitas juara.
Maldini, yang menjabat Direktur Teknis sejak awal 2024, memang memiliki jaringan luas di kalangan pelatih elit. Ia terlebih dahulu mendekati Ancelotti, yang saat itu masih mengikat kontrak dengan Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) hingga musim panas 2030. Pelatih kelahiran Reggiolo itu memilih menghormati komitmennya dengan Selecao, meskipun sempat dikabarkan tertarik pada proyek timnas Italia.
Sementara Guardiola, menurut sumber dekat FIGC, belum siap beralih ke manajemen timnas pasca masa jabatannya di Manchester City. Manajer kelahiran Santpedor itu dikenal sangat selektif dan ingin kontrol penuh atas struktur klub — hal yang sulit direplikasi di level federasi. Penolakan ganda ini memaksa Maldini memutar strategi ke pilihan internal.
Pemilihan Pirlo justru mengandung logika sportif yang dalam. Mantan kapten Timnas Italia 2006 ini memahami budaya Gli Azzurri dari dalam, pernah bermain di tiga Piala Dunia, dan memenangkan gelar 2006 di Berlin. Sebagai pelatih, ia pernah membawa Juventus meraih gelar Serie A dan Coppa Italia di musim pertamanya (2020/21), meskipun kemudian mengalami masa sulit di klub Turki Fatih Karagümrük dan Sampdoria.
Dampak kehadiran Pirlo bagi sepak bola Italia signifikan. Ia diharapkan mengembalikan filosofi bermain berbasis kontrol bola dan kreativitas tengah lapangan — ciri khas era keemasan Italia 2000-an. Lebih dari taktik, tugasnya membangun mentalitas menang bagi generasi baru seperti Nicolò Barella, Federico Chiesa, dan Giacomo Raspadori yang belum pernah merasakan Piala Dunia.
Perbandingan finansial dengan kandidat lain juga menarik perhatian. Honor 1,5 juta Euro menempatkan Pirlo di tingkat menengah pelatih timnas Eropa — jauh di bawah Didier Deschamps (Prancis, ~3,8 juta Euro) atau Julian Nagelsmann (Jerman, ~4 juta Euro), namun realistis bagi FIGC yang sedang menstabilkan keuangan pasca-pandemi. Efisiensi anggaran ini memungkinkan dana dialokasikan ke pengembangan basis dan fasilitas pelatihan.
Dalam wawancara terpisah, Maldini mengungkapkan keyakinan pada profil Pirlo: "Andrea memiliki DNA Italia. Ia tahu artinya memakai baju ini, dan ia punya visi jelas tentang bagaimana kita harus bermain. Kami butuh waktu, tapi kami percaya dia orang yang tepat." Kutipan ini menegaskan bahwa federasi siap memberikan kesabaran — komoditas langka di sepak bola modern.
Tantangan pertama Pirlo akan datang di UEFA Nations League musim 2026/27, ajang yang dijadikan batu loncatan menuju kualifikasi Piala Dunia 2030. Format kompetisi ini menawarkan jalur alternatif ke turnamen besar, dan Italia harus memanfaatkan keuntungan bermain di grup yang relatif seimbang. Kegagalan di sini akan memperburuk tekanan publik.
Jangka panjang, keberhasilan proyek Pirlo akan diuji pada kemampuannya mengintegrasikan pemain muda dari sistem akademi Italia — yang baru-baru ini mulai menunjukkan hasil melalui kejuaraan U-20 dan U-17 — ke tim senior. Jika ia berhasil menciptakan transisi mulus, Italia bisa kembali jadi kekuatan dunia tanpa harus mengandalkan 'generasi emas' yang sudah tidak ada.