MIAMI – Stale Solbakken, pelatih kepala tim nasional Norwegia, meragukan anggapan bahwa kehadiran pemain asal Premier League memberikan keuntungan bagi Inggris pada perempat final Piala Dunia. Dalam konferensi pers hari Rabu, Solbakken dengan ceria menyoroti bahwa para bintang Inggris justru merumput di liga lain, yaitu LaLiga dan Bundesliga.
"Dua pencetak gol terbanyak Inggris mungkin tidak bermain di Premier League. Mereka bermain di Spanyol dan Jerman, jadi Anda juga bisa melihat dari sudut pandang itu," kata Solbakken. Saat ini Harry Kane dari Bayern Munich memimpin perlombaan untuk meraih sepatu emas Piala Dunia dengan enam gol, sementara gelandang Jude Bellingham dari Real Madrid telah menyumbang empat gol – termasuk dua gol dalam kemenangan 3-2 Inggris atas Meksiko di babak 16 besar.
Norwegia memang memiliki dua pemain Premier League dalam skuadnya: penyerang Manchester City Erling Haaland dan kapten Arsenal Martin Odegaard. Namun, menurut Solbakken, hal ini tidak secara otomatis memberikan keunggulan karena para bintang Inggris kini merambah pasar domestik Eropa lainnya. "Saya tidak tahu apakah itu menguntungkan. Beberapa pemain jelas telah bermain melawan banyak pemain Inggris," tambahnya.
Kemenangan dramatis Norwegia atas Brasil di babak 16 besar, yang membawa mereka ke perempat final untuk pertama kalinya, telah meningkatkan kepercayaan diri para pemain. Namun, Solbakken memperingatkan agar tidak terlalu terbawa suasana. "Saya pikir hal itu memberikan kami lebih banyak kepercayaan diri, tetapi setiap pertandingan memiliki hidupnya sendiri," kata pelatih tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa tidak ada tim yang meremehkan Norwegia sejauh ini di Piala Dunia ini. "Setiap tim melakukan analisis yang mendalam, jadi tidak ada rahasia. Hal ini juga berlaku untuk pertandingan ini."
Mengenai kondisi kebugaran, Solbakken sebelumnya mengatakan bahwa beberapa pemain merasa kurang sehat, tetapi kemudian memastikan bahwa semua pemain kini siap bermain. "Benar bahwa Odegaard sakit. Itu adalah pamannya (Thomas) yang merupakan seorang fisioterapis, dia yang sakit. Bukan Martin," jelasnya, seraya menambahkan bahwa hanya satu atau dua staf yang mengalami masalah kesehatan.
Haaland dipuji karena kualitas kepemimpinannya. Pelatih tersebut menggambarkan penyerang tersebut sebagai "pemimpin yang hebat di dalam dan di luar lapangan", dengan tujuh gol yang membuatnya bersaing untuk meraih sepatu emas, hanya tertinggal satu gol dari Lionel Messi dari Argentina. "Dia adalah salah satu dari kami. Dia telah bersama para pemain ini sejak usia bawah-16, 17, dan 18 tahun," kata Solbakken.
Odegaard, di sisi lain, dianggap memiliki tanggung jawab yang lebih besar di tingkat nasional daripada di klub. "Mungkin dia memiliki peran yang sedikit lebih bebas di tim kami," kata Solbakken. "Ketika dia bermain untuk Arsenal, dia memiliki rekan setim yang berpengalaman seperti Declan Rice dan (Martin) Zubimendi. Mereka dapat berbagi beban sedikit. Tentu saja, kami mungkin memberikan sedikit lebih banyak beban kepada dia. Bersama dengan Erling, dia telah menjadi salah satu pemain terbaik kami dalam jangka panjang dan kapten yang hebat, terutama ketika masa-masa sulit.
Pernyataan Solbakken mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam dunia sepak bola modern, di mana para pemain top semakin sering bermain di berbagai liga elit Eropa. Tren ini tidak hanya mengubah dinamika pertandingan antar negara, tetapi juga memengaruhi strategi kepelatihan, analisis data, dan bahkan pasar siaran. Bagi negara-negara dengan sumber daya terbatas, seperti Indonesia, hal ini menjadi pengingat pentingnya mengembangkan talenta lokal sambil tetap mengikuti perkembangan global melalui teknologi pemantauan kinerja dan platform pertukaran data.
Menjelang perempat final, Norwegia akan mengandalkan kombinasi pengalaman internasional Haaland, kepemimpinan Odegaard, dan kepercayaan diri yang baru ditemukan setelah mengalahkan Brasil. Inggris, di sisi lain, harus menghadapi kenyataan bahwa para bintang mereka tersebar di seluruh Eropa, yang dapat memengaruhi chemistry dan koordinasi tim. Pertandingan ini menjanjikan pertarungan taktik yang menarik dan akan memberikan wawasan tentang bagaimana komposisi liga memengaruhi performa di Piala Dunia.
Secara keseluruhan, komentar Solbakken menggarisbawahi kenyataan bahwa keunggulan di Piala Dunia tidak lagi hanya diukur dari liga tempat para pemain bersaing, tetapi juga dari bagaimana para pelatih beradaptasi dengan peta pemain global yang terus berubah.