Olahraga

Arthur Fery Perpetuikan Sejarah Wimbledon, Hadapi Zverev di Semifinal

Arthur Fery Perpetuikan Sejarah Wimbledon, Hadapi Zverev di Semifinal

Ringkasan

  • Arthur Fery jadi wildcard ke-4 dalam sejarah Grand Slam yang tembus semifinal Wimbledon.
  • Dia akan hadapi Alexander Zverev yang baru putus losing streak vs Taylor Fritz.
  • Di putaran putri, Marta Kostyuk dan Linda Noskova melaju ke empat besar.

LONDON — Arthur Fery, pemain wildcard berusia 23 tahun yang kelahiran Prancis namun mewakili Inggris, melanjutkan perjalanan menakjubkannya di Wimbledon 2025 dengan melaju ke semifinal setelah mengalahkan Flavio Cobolli, unggulan kesembilan asal Italia, dengan skor 6-4, 7-6(4), 6-0 pada Rabu (9/7). Kemenangan ini membuat Fery menjadi pemain wildcard pria keempat dalam sejarah Grand Slam yang berhasil menembus empat besar, menyusul jejak Goran Ivanisevic (Wimbledon 2001), Alex O'Brien (AS Open 1999), dan Mark Edmondson (Australian Open 1976). Faktanya, Fery tumbuh hanya beberapa kilometer dari All England Club, membuat pencapaian ini terasa seperti skenario film yang terwujud di halaman rumahnya sendiri.

Dalam konferensi pers pasca laga, Fery menunjukkan kematangan mental yang luar biasa untuk pemain yang baru pertama kali berkompetisi di main draw Wimbledon. "Saya selalu percaya pada diri sendiri dan yakin bisa menjadi pemain top dunia," ujarnya. "Tentu saja, menjadi semifinalis Wimbledon adalah hal yang lain. Saya menjalani pertandingan demi pertandingan, tidak memandang ke depan. Saya hanya memainkan setiap laga sebagaimana adanya. Dan inilah saya sekarang." Pendekatan "match by match" ini menjadi kunci kesuksesannya sejauh ini, mengingat tekanan media dan harapan publik Inggris yang sangat besar setelah era Andy Murray.

Di sisi lain net, Alexander Zverev, juara French Open 2024 dan unggulan kedua, menuntaskan tugasnya dengan efisien tinggi, mengalahkan Taylor Fritz 6-4, 6-4, 6-2. Kemenangan ini memutus losing streak Zverev terhadap Fritz yang sudah berlangsung delapan kali pertemuan sejak 2021. Zverev mengakui gelaran Roland Garros memberinya kepercayaan diri baru. "Menang di Roland Garros pasti membantu. Tidak ada pertanyaan tentang itu," kata Zverev. "Saya mengubah permainan saya sedikit untuk rumput dan ini berfungsi cukup baik tahun ini. Perasaan ini memang berbeda. Tentu saja saya senang."

Namun, kemenangan Zverev disertai catatan kaki. Fritz mengaku mengalami flare-up tendonitis lutut kanan sejak game ketiga, yang memaksa dia bermain dengan gerakan terbatas. "Saya tidak ingin mengurangi kehebatannya," tegas Fritz. "Saya tidak berkata hasil akan berbeda. Dia bermain agresif, melakukan banyak hal yang menurut saya merupakan perbaikan besar dalam permainan dia. Itu akan jadi laga sangat sulit. Saya sangat sedih tidak mendapat kesempatan untuk benar-benar bersaing." Kondisi fisik Fritz memang menjadi tanda tanya sebelum Wimbledon, meskipun dia menunjukkan momentum baik di Stuttgart dan Halle.

Di putaran putri, Marta Kostyuk menunjukkan dominasi penuh dengan mengalahkan Jasmine Paolini, finalis Wimbledon 2024, hanya dalam 68 menit dengan skor 6-3, 6-2 di Centre Court yang terik — suhu mencapai 30 derajat Celcius. Fokus Kostyuk terlihat tajam sejak poin pertama, memanfaatkan kesalahan tidak dipaksa Paolini dan menguasai baseline dengan groundstroke yang mendalam. Pencapaian ini membawanya ke semifinal Grand Slam pertamanya, membuktikan konsistensi musim ini setelah final di Stuttgart dan perempat final French Open.

Kostyuk, yang dikenal lisan terbuka soal perang Rusia-Ukraina, kembali menyoroti isu geopolitik dengan menilai potensi partisipasi atlet Rusia di Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai langkah "terrible" (mengerikan). "Ini tentang prinsip dan keadilan," kata dia. "Olahraga tidak bisa terpisah dari politik ketika ada pelanggaran hukum internasional yang fundamental." Sikap tegas ini membuatnya jadi sosok polarisasi, namun juga ikon keberanian bagi banyak atlet Ukraina.

Semifinalis putri lainnya, Linda Noskova, melanjutkan tradisi emas tenis wanita Ceko dengan mengalahkan Elise Mertens 6-3, 7-5. Noskova menjadi wanita Ceko kedua di empat besar tahun ini setelah Karolina Muchova. Sejarah tenis wanita Ceko memang luar biasa: Barbora Krejcikova juara Wimbledon 2024, Marketa Vondrousova 2023, Petra Kvitova dua kali juara (2011, 2014), Jana Novotna 1998, dan Martina Navratilova sembilan gelar (1978-1990). "Selalu jadi fakta bahwa sebagai negara kecil, kita bisa melakukan hal besar di dunia jika kita mengagumi orang-orang yang melakukannya," ujar Noskova. "Pemain tenis wanita Ceko selalu luar biasa. Lihat 10, 20, 30 tahun lalu, selalu ada seseorang."

Pertemuan Fery vs Zverev di semifinal menjanjikan kontras menarik: wildcard rumahan yang tidak punya tekanan vs juara Grand Slam yang mencari gelar kedua berturut-turut. Zverev favorit jelas dengan pengalaman 14 kali semifinal Grand Slam, tapi Fery memiliki keuntungan kondisi lapangan dan dukungan penuh penonton. Bagi tenis Indonesia, kisah Fery jadi pengingat bahwa sistem wildcard dan pengembangan pemain muda berbasis lokal (homegrown) bisa melahirkan kejutan. Sementara dominasi Zverev dan tradisi Ceko menunjukkan pentingnya pipeline pengembangan jangka panjang dan mentalitas juara yang diturunkan antar generasi.

Mengapa Ini Penting

Kisah Arthur Fery membuktikan sistem wildcard dan pengembangan pemain berbasis lokal (homegrown) tetap bisa melahirkan kejutan di era tenis modern yang didominasi akademi elit. Bagi ekosistem tenis Indonesia, ini jadi bukti nyata bahwa investasi fasilitas dekat komunitas dan program identifikasi bakat sejak dini lebih berdampak dibanding sekadar mengirim pemain ke luar negeri. Dominasi berkelanjutan tenis wanita Ceko juga menunjukkan pentingnya budaya kejuangan yang diturunkan antar generasi — hal yang bisa ditiru oleh federasi olahraga nasional dalam membangun pipeline atlet unggul jangka panjang.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
8 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →