Olahraga

Egypt Tersingkir dari Piala Dunia dengan Perasaan Pahit Meski Cetak Sejarah Baru

Egypt Tersingkir dari Piala Dunia dengan Perasaan Pahit Meski Cetak Sejarah Baru

Ringkasan

  • Mesir kalah 2-3 dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah leading 2-0.
  • Kontroversi VAR dan keputusan wasit jadi sorotan, tapi tim Garuda Nile tetap catat sejarah dengan lolos fase gugur pertama kali.

KUALA LUMPUR: Timnas Mesir meninggalkan Piala Dunia 2026 dengan perasaan kecewa yang mendalam setelah kalah 2-3 dari Argentina di babak 16 besar, Selasa (1/7) waktu setempat di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Kekalahan itu terasa lebih pahit karena tim Garuda Nile merasa dirugikan serangkaian keputusan wasit dan VAR yang dinilai tidak konsisten, meski secara historis mereka telah mencapai babak gugur pertama kali dalam empat kali penampilan.

Kontroversi bermula pada menit ke-62 ketika gol Mostafa Zico dicoret setelah review VAR menunjukkan adanya pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez. Replay menunjukkan Attia mendorong dan menarik jersey Martinez, namun banyak pengamat menilai kontak fisik sejenis sering diabaikan wasit dalam turnamen ini demi menjaga alur permainan. Lima menit kemudian, Zico berhasil mencetak gol sah dengan pola serupa, menegaskan ketajaman instingnya di kotak penalti.

Kedua, klaim pelanggaran terhadap Mohamed Salah di menit-menit akhir juga diabaikan wasit. Jika penalti diberikan, Mesir berpeluang memperluas keunggulan 2-1. Sebaliknya, Argentina langsung melancarkan serangan balik cepat yang dikonfirmasi oleh gol Enzo Fernandez pada menit ke-89, melengkapi comeback dramatis dari ketinggalan 0-2 dengan sisa 11 menit.

Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) mengeluarkan pernyataan keras Rabu (2/7), menuding "beberapa insiden kunci yang menimbulkan kekhawatiran serius tentang konsistensi dan keadilan keputusan wasit". Pelatih Hossam Hassan bahkan melontarkan teori konspirasi, mengklaim ada bias terhadap tim besar. Namun, di balik keluhan itu, ada realita taktis: Mesir terlalu pasif setelah menerobos 2-0, menarik garis pertahanan terlalu dalam dan mengundang tekanan Argentina.

Perubahan skema Hassan justru jadi boomerang. Ia mencoret Omar Marmoush dan memilih sistem lebih ekspansif, dengan pembagian tugas bewok pada Messi yang awalnya berhasil melumpuhkan bintang Inter Miami. Cedera Emam Ashour pada akhir babak pertama memaksa substitusi yang mengganggu ritme tengah lapangan. Tanpa mesin kreatif di tengah, Mesir kesulitan mengeluarkan bola dan tertekan di Hälfte sendiri.

Gol pembuka Argentina dicetak Lautaro Martinez pada menit ke-79, diikuti empat menit kemudian oleh Leandro Paredes yang menyamakan skor 2-2. Momen krusial terjadi ketika Fernandez, yang baru masuk sebagai pengganti, mengakhiri aksi timbal balik dengan header akrobatik menembus gawang Mohamed El Shenawy. Kegagalan pertahanan Mesir menutupi ruang di kotak penalti jadi faktor penentu.

Meski tersingkir, pencapaian Mesir patut diapresiasi. Kemenangan 2-1 atas Kanada di fase grup jadi kemenangan pertama mereka di Piala Dunia sejak 1990, sekaligus mengantarkan mereka ke fase gugur pertama kali dalam sejarah. Salah dan Marmoush terbukti tetap menjadi ancaman transisi yang mematikan, sementara generasi muda seperti Zico menunjukkan potensi besar untuk masa depan.

"Meskipun hasil kini menjadi sejarah, kebanggaan kami pada tim ini tetap utuh," tulis EFA. "Keberanian, komitmen, dan semangat juang mereka sepanjang turnamen telah merebut rasa hormat dan mencerminkan nilai-nilai sepak bola Mesir yang sesungguhnya." Bagi Argentina, kemenangan ini memperkuat status mereka sebagai favorit juara, dengan Messi yang meski dibungkam 80 menit, tetap jadi katalisator comeback timnya.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan Mesir menyoroti tantangan tim-tim Afrika menembus batas babak gugur Piala Dunia, di mana konsistensi keputusan wasit dan manajemen permainan di menit kritis sering jadi pembeda. Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini jadi pelajaran penting: pencapaian historis butuh didukung mentalitas juara dan ketahanan taktis hingga menit terakhir, bukan hanya bergantung brilian individu. Fenomena VAR yang kontroversial juga menekankan perlunya standarisasi implementasi teknologi agar keadilan sportivitas terjaga di panggung global.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
8 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →