Marokko harus menyerah di perempat final Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Prancis 2-0 di Boston, Kamis (9/7/2026) waktu setempat. Kekalahan ini menutup harapan Laskar Atlas untuk meniru kejayaan semifinal di Qatar 2022, sekaligus menandai pertemuan kedua berturut-turut mereka dihentikan oleh Les Bleus di panggung dunia. Meski tersingkir, perjalanan Marokko di turnamen 48 tim pertama ini dinilai sukses historis: mereka menjadi negara Afrika pertama yang dua kali berturut-turut menembus perempat final, setelah mengeliminasi Belanda dan sempat menakut-nakuti Brasil di fase grup di Kanada.
Transisi kepemimpinan teknis menjelang turnamen sempat menimbulkan tanda tanya. Mohamed Ouahbi, mantan pelatih timnas U-20 yang baru saja membawa Maroc ke gelar juara dunia kategori tersebut tahun lalu, dipromosikan ke tim senior hanya tiga bulan sebelum Piala Dunia berlangsung. Ia menggantikan Walid Regragui yang terpaksa mundur setelah tekanan suporter pasca kekalahan di final Piala Afrika 2025 di Rabat. Fakta bahwa Ouahbi mampu menstabilkan tim dan memimpin mereka menembus delapan besar memperkuat reputasinya sebagai manajer yang mampu mengelola transisi generasi.
Kekalahan dari Prancis mengungkap kesenjangan kualitas individual dan pengalaman bermain di level tertinggi. Kylian Mbappé dan rekan-rekannya mengeksploitasi kelebihan fisik dan kecepatan transisi, membungkam pertahanan Marokko yang kompak di fase grup. Analis sepak bola menilai bahwa meski sistem pertahanan Ouahbi efektif melawan tim-tim Afrika dan Asia, gaya bermain Prancis yang ber 결합 antara kekuatan fisik Eropa dan kecepatan Afrika-Amerika Latin menjadi musuh alami bagi pendekatan reactive Morocco.
Perhatian kini sepenuhnya beralih ke 2030, di mana Marokko akan menjadi co-host bersama Portugal dan Spanyol — memberikan mereka tiket otomatis ke fase final. Ini momen sejarah: pertama kalinya Piala Dunia diselenggarakan di tiga benua sekaligus (Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan untuk pembukaan ceremonial di Uruguay/Argentina/Paraguay). Bagi Maroko, ini bukan sekadar keuntungan rumah, melainkan platform proyek jangka panjang untuk mengubah lanskap sepak bola Afrika.
Namun jalan menuju 2030 penuh rintangan. Ouahbi harus menavigasi dua edisi Piala Afrika (AFCON) 2027 dan 2028, di mana tekanan untuk memenangkan gelar benua sangat besar. Sejarah menunjukkan ketidakstabilan jabatan pelatih di Afrika: kegagalan di AFCON hampir pasti berujung pada pemecahan, seperti yang dialami Regragui. Rekor Maroko di AFCON sendiri suram — hanya satu gelar resmi (1976) ditambah gelar 2025 yang kontroversial setelah Senegal mundur saat final, keputusan yang masih dibandingkan keputusan CAS.
Kualifikasi AFCON 2027 yang dimulai September mendatang menempatkan Maroko di grup yang dikategorikan "ringan" bersama Gabon, Lesotho, dan Niger. Meskipun kemungkinan lolos besar, Ouahbi sendiri menyadari bahaya komplacensi. "Piala Afrika bukan Piala Dunia. Gaya bermain lawan berbeda, dan jika tidak terbiasa menghadapi variasi taktik tersebut, tim bisa tersingkir dini di panggung dunia," ujarnya. Ia mendesak federasi (FRMF) menyusun jadwal uji coba (friendlies) melawan tim-tim Eropa dan Amerika Selatan berkualitas tinggi selama jendela FIFA.
Strategis, keberhasilan 2030 bergantung pada tiga pilar: kontinuitas manajemen teknis, pengembangan generasi emas muda (seperti Bilal El Khannouss, Eliesse Ben Seghir, dan Ayman Ennair), serta modernisasi infrastruktur dan liga domestik (Botola Pro) agar mampu menahan bakat lokal lebih lama. Investasi stadium baru di Casablanca, Tanger, Agadir, Marrakech, dan Fez harus disertai peningkatan standar coaching, sports science, dan analisis data di tingkat klub.
Secara geopolitik, keberhasilan Maroko sebagai co-host akan mengukuhkan posisi Afrika dalam tata kelola FIFA dan membuka pintu investasi global ke sepak bola benua hitam. Bagi Indonesia dan negara berkembang lain, model Maroko — menggabungkan stabilitas federasi, program pengembangan muda terstruktur, dan pemanfaatan momentum mega-event — menawarkan cetak biru yang layak ditelusuri. Kegagalan di Boston bukan akhir, melainkan titik data kritis untuk menyempurnakan proses menuju impian mengangkat Piala Dunia di tanah air sendiri empat tahun mendatang.