Dewan Kontrol Kriket India (BCCI) resmi mengumumkan akan menggelar pertemuan evaluasi menyeluruh terhadap performa tim nasional T20 setelah seri kelam yang menelan lima kekalahan berturut-turut. Keputusan ini diambil usai India menderita kekalahan memalukan sembilan wicket di laga keempat seri T20 Internasional melawan Inggris di Bristol, Kamis (9/7) malam waktu setempat, yang mengunci keunggulan tak tergapai 3-0 bagi tuan rumah dengan satu pertandingan tersisa.
Kekalahan di Bristol menjadi puncak dari spiral performa menurun yang dimulai sejak bulan lalu, ketika India putih bersih 0-2 di Irlandia. Di Nottingham beberapa hari sebelumnya, India bahkan hancur 125 run — kekalahan margin terbesar dalam sejarah T20 mereka — setelah hanya mengumpulkan 76 run. Di Bristol, performa batting hanya sedikit membaik dengan 158/7, namun target itu dikejar Inggris dengan santai dalam 13,4 over tanpa kehilangan lebih dari satu wicket.
Sekretaris BCCI, Devajit Saikia, yang saat ini hadir di Edinburgh untuk konferensi tahunan International Cricket Council (ICC), mengonfirmasi ke Wawancara AFP bahwa dewan akan mengadakan pertemuan review dengan inti manajemen tim setelah tur Inggris berakhir pada 19 Juli. "BCCI saat ini mengamati performa tim T20 India yang tidak memenuhi standar di seri berlangsung melawan Inggris," ujar Saikia. "Kami akan mengevaluasi apa yang salah di Inggris bersama anggota inti tim."
Keterpurukan ini kontras tajam dengan kemenangan India di Piala Dunia T20 bulan Maret lalu di bawah kepemimpinan pelatih baru Gautam Gambhir. Gelar juara dunia itu seharusnya menjadi momentum, namun ketiadaan dua pilar utama — bowler andalan Jasprit Bumrah dan all-rounder Hardik Pandya — karena manajemen beban kerja dan cedera, menciptakan kekosongan yang sulit diisi. Tanpa Bumrah, serangan bowling India kehilangan daya ledak di powerplay dan death overs, sedangkan absensi Pandya menghilangkan keseimbangan batting order dan opsi bowling medium-pace.
Tekanan tambahan hadir dari debut mengecewakan Vaibhav Sooryavanshi, bakat berusia 15 tahun yang dipromosikan ke tim senior dengan harapan besar. Di tiga innings pertamanya, Sooryavanshi hanya mencatat 14, 13, dan 15 run — angka yang jauh di bawah ekspektasi untuk pemain yang dianggap generasi emas kriket India. Keputusannya untuk memperkenalkan remaja tersebut di tengah seri tekanan tinggi, bukan di ajang bilateral intensitas lebih rendah, kini dipertanyakan oleh pakar dan mantan pemain.
Gambhir, yang dikenal pendekatan agresif dan mentalitas juara saat memimpin Kolkata Knight Riders di IPL, menghadapi ujian paling berat di awal masa jabatannya. Filosofi "brand cricket" yang ia bawa — batting agresif dari bola pertama dan bowling menyerang — justru terlihat kacau di hadapan disiplin Inggris. Jos Buttler dan rekan-rekan mengeksploitasi kelemahan bowling India dengan kalkulasi dingin, sementara batting order India tampil ragu dan tidak punya rencana jelas menghadapi variasi pace dan spin Inggris.
Krisis ini juga memicu perdebatan di kalangan komunitas kriket India tentang struktur jadwal dan manajemen pemain. Kepadatan kalender — IPL, Piala Dunia, lalu seri bilateral berurutan — menciptakan kelelahan fisik dan mental. Beberapa mantan pemain menilai BCCI terlalu memprioritaskan komersial IPL dibandingkan persiapan tim nasional, sehingga transisi generasi berlangsung terburu-buru tanpa sistem pengembangan yang matang.
Laga kelima dan terakhir di Southampton, Sabtu (12/7), menjadi kesempatan terakhir India menghindari putih bersih 0-4 — catatan yang akan memperparah narasi krisis. Pasca seri T20, kedua tim akan berhadapan dalam tiga laga ODI mulai 16 Juli. Bagi India, seri ODI itu bukan hanya soal pride, melainkan uji coba kombinasi baru sebelum siklus Piala Dunia 2027 dimulai. Hasil review BCCI nanti diharapkan tidak hanya menyalahkan individu, tapi memperbaiki sistem: rotasi pemain, pipeline pengembangan bakat muda, dan klarifikasi peran pelatih serta kapten di era kriket modern yang semakin taktis dan berbasis data.