LONDON — Perjalanan Arthur Fery di Wimbledon 2024 akan tercatat sebagai salah satu cerita paling menakjubkan dalam sejarah tenis modern, di mana seorang pemain berperingkat 114 dunia yang awalnya merencanakan liburan di pantai Yunani justru menemukan dirinya berdiri di Centre Court sebagai semifinalis. Pria berusia 23 tahun itu menjadi wildcard pertama dalam 25 tahun yang melangkah ke empat besar tunggal putra di All England Club, mengikuti jejak Goran Ivanisevic yang meraih gelar juara sebagai wildcard pada 2001. Kemenangan beruntun atas lima lawan telah mengubah nasib kariernya secara drastis, menggesernya dari keputusasaan ranking rendah ke panggung utama tenis dunia.
Lahir di Prancis namun mewakili Inggris, Fery memang bukan nama asing bagi penggemar tenis junior — ia pernah meraih gelar Wimbledon junior 2019 berpasangan dengan Toby Samuel. Namun, transisi ke level senior selalu penuh rintangan. Sebelum turnamen ini, ia baru meraih dua kemenangan saja di main draw Grand Slam sepanjang karier. Peringkat 114 berarti ia harus melewati kualifikasi untuk masuk main draw turnamen besar, namun undian wildcard dari pengurus Wimbledon memberinya kesempatan emas yang ia genggam dengan kedua tangan. Fakta bahwa ia lahir di Prancis tapi memilih bendera Inggris menambah lapisan narasi menarik, mengingat sejarah panjang pemain naturalisasi di tenis Britain seperti Greg Rusedski dan Johanna Konta.
Jalur Fery ke semifinal tak berjalan di atas bunga tidur. Ia harus menaklukkan lawan-lawon berkualitas termasuk mengalahkan pemain berperingkat lebih tinggi seperti Jiri Lehecka dan Tommy Paul dalam partai-partai yang memerlukan ketahanan mental luar biasa. Setiap kemenangan menambah keyakinan, namun juga menambah beban ekspektasi. Puncak perjalanan berakhir di tangan Alexander Zverev, medali emas Olimpiade Tokyo dan finalis Grand Slam berulang kali, yang mengalahkan Fery dalam set langsung 6-4, 6-4, 6-4 di semifinal. Zverev sendiri mengakui kesulitan menghadapi gaya main Fery yang tidak konvensional di rumput, terutama serve-and-volley yang jarang terlihat di era modern.
Fenomena Fery tidak hanya terjadi di dalam lapangan. Dukungan publik Britain meledak, menciptakan atmosfer yang langka untuk pemain peringkat rendah. Ratu Camilla dan Putri Kate hadir menyaksikan partai quarterfinal-nya, sementara tim sepak bola nasional Inggris mengirim video dukungan — bukti betapa kelangkaan seorang pria Britain mencapai tahap ini di Wimbledon sejak Andy Murray pada 2016. Teman-temannya sendiri awalnya skeptis; salah satunya bahkan pergi ke Yunani lebih dulu berharap Fery kalah agar liburan berjalan sesuai rencana, namun kembali ke London untuk mendukungnya setelah melihat kemenangan beruntun. Gelombang dukungan ini menciptakan tekanan tambahan, namun Fery mengelolanya dengan kematangan yang mengejutkan bagi usianya.
Dampak finansial dan karier langsung terasa. Hadiah £900.000 (sekitar Rp 18,6 miliar) yang diraihnya hampir tiga kali lipat total penghasilan kariernya sebelum Wimbledon. Lebih penting lagi, rankingnya diproyeksikan melonjak ke pertengahan 30-an, membuka akses langsung ke main draw turnamen ATP Tour selama setahun penuh tanpa perlu melewati kualifikasi. Ini berarti jadwal yang lebih terencana, kesempatan bermain melawan pemain top secara rutin, dan potensi sponsorship yang melonjak. Fery sendiri menyadari ini: "Ini akan mengubah segalanya. Saya akan bisa bermain turnamen tour minimal setahun penuh." Namun ia juga jujur mengakui tantangan baru: menghadapi ekspektasi dari diri sendiri, publik, dan media.
Secara historis, keberhasilan Fery menarik perhatian pada sistem pengembangan tenis Britain. LTA (Lawn Tennis Association) sering dikritikan gagal memproduksi pemain top setelah era Murray. Wildcard yang diberikan kepada Fery — yang saat itu berperingkat 114 dan belum memiliki rekam jejak senior yang gemilang — menunjukkan pergantian strategi: berani berisiko pada potensi jangka panjang daripada hanya memberi kesempatan pada pemain yang sudah "aman". Kasus Fery bisa jadi studi kasus bagi federasi tenis lain, termasuk di Indonesia, tentang pentingnya memberi kesempatan nyata pada pemain muda di turnamen bergengsi meski ranking belum mendukung.
Mengakhiri musim rumput, Fery kini mempersiapkan transisi ke musim keras Amerika Serikat yang akan berujung pada US Open. Ia mengakui butuh waktu "merecharge baterai" dan memproses segala yang terjadi dua minggu terakhir. Debut di Flushing Meadows akan menjadi ujian nyata apakah kepercayaan diri yang dibangun di Wimbledon bisa bertahan di permukaan yang berbeda karakteristiknya. Hardcourt menuntut gerakan lateral lebih cepat dan daya tahan fisik yang berbeda, area di mana Fery harus membuktikan adaptabilitasnya. Baginya, target bukan sekadar hadir, tapi "melakukan yang terbaik di setiap partai yang saya mainkan."
Di balik cerita cendekiawan ini, tersimpan pelajaran universal tentang peluang dan persiapan. Fery tidak sengaja siap saat peluang datang; ia siap karena bertahun-tahun mengasah keterampilan di turnamen Challenger dan ITF, mengendurkan mental di partai-partai yang tidak terekspos media. Wildcard hanyalah kunci membuka pintu; yang memasukkannya ke ruangan semifinal adalah kapasitas yang sudah dibangun jauh sebelumnya. Bagi generasi muda tenis Indonesia dan dunia, perjalanan Fery mengingatkan: ranking hanyalah angka, bukan batas potensi.