Drawing Liga Champions 2026/2027 yang digelar di Monaco, Rabu (27/8) malam WIB, memberikan skenario dramatis bagi Manchester City. The Citizens tidak hanya harus berhadapan dengan juara bertahan Paris Saint-Germain dan raksasa Italia Napoli, tetapi juga dijebak dalam grup yang sama dengan Barcelona — tim baru mantan gelandang andalannya, Rodri.
Fase grup yang dibuka 8 September 2026 akan segera mempertemukan City dengan PSG di Etihad Stadium. Laga tandang ke Camp Nou untuk menghadapi Rodri dan Barcelona dijadwalkan di matchday kedua. Enam klub lain yang melengkapi grup ini adalah Sporting CP, FC Porto, RB Leipzig, AEK Athens, dan RC Lens, menciptakan apa yang disebut media Eropa sebagai "grup kematian" paling berat dalam sejarah format baru.
Rodri menghabiskan tujuh musim di Manchester City dan mengumpulkan 13 gelar, termasuk empat Premier League dan satu trofi Liga Champions 2022/2023. Kepergiannya ke Barcelona pada musim panas ini dicatat seharga 76,5 juta euro — sekitar Rp1,839 triliun menurut beIN Sports — menjadikannya transfer paling mahal dalam sejarah klub Katalan untuk gelandang defensif. Juara Piala Dunia 2026 bersama timnas Spanyol itu kini menjadi simbol pergeseran kekuatan di tengah lapangan.
Kendati demikian, tantangan bagi City tidak berhenti pada reuni Rodri. Musim panas 2026 mencatat eksodus massal di Etihad. Bernardo Silva bergabung ke Real Madrid, John Stones dan Manuel Akanji meninggalkan lini belakang, sementara Nico Gonzalez, Savinho, dan Tijjani Reijnders juga mencari nasib baru. Kehilangan enam pemain inti sekaligus menciptakan celah besar yang harus diisi pelatih baru Enzo Maresca.
Maresca, mantan asisten Pep Guardiola yang dipromosikan sebagai penerus, kini dihadapkan pada ujian api di musim pertamanya. Ia mendatangkan Elliot Anderson dari Nottingham Forest, Ayyoub Bouadi dari Lille, dan Mathys Detourbet dari Stade Reims untuk memperkuat kedalaman skuad. Namun, ketiga nama tersebut belum memiliki pengalaman bermain di tingkat Liga Champions, jauh berbeda dengan profil pemain yang ditinggalkan.
Di sisi lain, Barcelona di bawah Hansi Flick tampil agresif di pasar transfer. Kedatangan Rodhi memberikan stabilitas di tengah yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak. Bersama Pedri, Gavi, dan Frenkie de Jong, Blaugrana kini memiliki salah satu trio gelandang paling lengkap di Eropa. Kombinasi pengalaman Rodri dan kegelisan bintang muda menciptakan keseimbangan yang berbahaya bagi lawan.
Format Liga Champions baru dengan 36 tim dan sistem liga tunggal memperparah tekanan. Setiap poin di fase grup menentukan posisi di klasemen umum yang menentukan jalur ke 16 besar. City yang musim lalu finis runner-up Premier League harus memaksimalkan laga kandang, mengingat jadwal tandang ke Camp Nou dan San Siro (menghadapi Napoli) berdekatan.
Bagi penonton Indonesia, pertemuan Rodri melawan mantan timnya menjadi tayangan primadona. Liga Champions tetap menjadi kompetisi klub paling ditonton di negara ini, dengan rating siar live streaming melonjak 40% saat tim-tim besar bertemu. Kehadiran bintang dunia seperti Rodri, Mbappé (PSG), dan Haaland (City) memastikan minat penonton tetap tinggi meskipun jam siar sering kali di tengah malam.
Secara historis, City belum pernah kekurangan motivasi saat menghadapi mantan pemain kunci. Musim 2022/2023, saat Gabriel Jesus dan Oleksandr Zinchenko bertemu City dengan Arsenal, The Citizens menang dua-duanya. Namun, situasi kini berbeda: Rodri bukan sekadar pemain rotasi, melainkan jantung sistem Guardiola selama tujuh tahun. Ia mengetahui setiap detail taktis, kebiasaan rekan satu tim, dan kelemahan struktur yang dibangun Maresca.
Maresca mengakui kesulitan tugasnya dalam konferensi pers pasca-drawing. "Kami tahu ini grup paling berat. Tapi kami punya Erling Haaland, Kevin De Bruyne, dan sistem yang sudah terbukti. Kita akan siap," ujar pelatih berusia 44 tahun itu. Kepercayaan diri itu akan diuji nyata saat City melangkah ke Camp Nou — stadion yang menyimpan banyak kenangan manis Rodri, kini sebagai musuh.
Jadwal padat September hingga Januari 2027 akan menjadi uji nyata kedalaman skuad City. Tanpa Rodri dan Bernardo, beban kreatif sepenuhnya ada di pundak De Bruyne yang sudah berusia 35 tahun. Apakah Maresca bisa mengelola rotasi tanpa mengorbankan hasil? Jawabannya akan menentukan apakah City bisa lolos ke fase knockout — atau tersandung di fase grup pertama kali sejak 2012.