Sepakbola

Kim Sang-sik Berjanji Tarian Bersama Pemain Jika Vietnam Pertahankan Gelar Piala AFF

Ringkasan

  • Pelatih Vietnam Kim Sang-sik berjanji akan menari bersama skuadnya jika Golden Star Warriors berhasil mempertahankan gelar Piala AFF 2026 di leg final kedua lawan Thailand di Hanoi, Rabu (26/8) malam ini.

Vietnam berdiri di ambang sejarah. Kemenangan 2-0 di Bangkok pada leg pertama telah menempatkan Golden Star Warriors dalam posisi sangat menguntungkan — cukup bermain seri di kandang sendiri untuk mengamankan gelar keempat dalam sejarah Piala AFF. Namun pelatih Kim Sang-sik menolak membiarkan kepercayaan diri itu melumpuhkan fokus timnya.

Dalam konferensi pers jelang laga di Hanoi pada Selasa (25/8), pelatih asal Korea Selatan itu mengungkapkan janji yang cukup tidak konvensional. "Jika para pemain dan suporter ingin saya menari, saya akan menari," ujar Kim dengan nada santai namun penuh keyakinan. Ia bahkan menargetkan satu nama spesifik: "Saya berharap Nguyễn Đình Bắc akan mencetak gol dan jika dia melakukannya mungkin dia dan saya akan merayakannya dengan menari bersama."

Janji tarian itu bukan sekadar lelucon ruang ganti. Di balik kesan ringan tersebut tersimpan tekanan besar. Vietnam berusaha menjadi tim pertama sejak Thailand era Mano Polking (2014 dan 2016) yang berhasil mempertahankan gelar secara beruntun — atau yang disebut back-to-back champion. Jika berhasil, Kim akan menyandang nama ke enam dalam daftar eksklusif pelatih yang mengukir prestasi serupa setelah Raddy Avramovic (Singapura 2004/2007), Peter Withe (Thailand 2000/2002), Kiatisuk Senamuang (Thailand 2014/2016), dan Mano Polking (Thailand 2020/2022).

Sejarah Piala AFF sendiri mencatat Vietnam baru tiga kali mengangkat trofi: 2008 di bawah pimpinan Alfred Riedl, 2018 dengan Park Hang-seo, dan 2024 yang juga ditangani Kim. Gelar keempat ini akan meneguhkan posisi Vietnam sebagai kekuatan dominan Asia Tenggara era modern, menggeser Thailand yang saat ini menyandang rekor tujuh gelar.

Kendati keuntungan dua gol tampak nyaman, Kim menegaskan timnya belum memegang apa pun. "Saya tahu kami memiliki keuntungan, namun saat ini kami belum memegang apa pun di tangan," tegas mantan pelatih Jeonbuk Hyundai Motors itu. Ia meminta pemain untuk tampil maksimal selama 90 menit — atau 120 menit jika diperlukan — demi menciptakan "kenangan indah bagi semua orang" seperti ungkapannya.

Persiapan dua bulan terakhir dinilai sangat intens. Kim mengaku para pemain telah "bekerja sangat keras" untuk mencapai babak final ini. Laga leg pertama di Rajamangala Stadium menjadi bukti fisik dan mental tim sudah siap. Vietnam tidak hanya menang, tapi bermain dengan kedisiplinan taktis tinggi, menutupi ruang Thailand dengan efektif, dan memanfaatkan konter mematikan melalui Nguyễn Xuân Son và Nguyễn Đình Bắc.

Di sisi lawan, Thailand di bawah Masatada Ishii terpaksa mengejar kekurangan dua gol di kandang lawan. War Elephants harus menyerang sejak menit pertama, yang berarti celah di lini belakang akan terbuka lebar. Vietnam punya senjata konter yang sangat berbahaya, apalagi dengan dukungan penuh tribune Mỹ Đình yang diprediksi akan penuh sesak oleh 40.000 suporter.

Bagi sepak bola Indonesia, final ini menawarkan pelajaran penting. Vietnam membangun kontinuitas proyek jangka panjang sejak era Park Hang-seo, dilanjutkan Kim dengan filosofi serupa: disiplin taktis, fisik prima, dan mental juara. Sementara Indonesia masih sering berganti pelatih dan sistem setiap dua tahun. Hasilnya jelas: Vietnam kini menjadi tim yang paling dikhawatirkan lawan-lawannya di tingkat Asia, bukan hanya Asia Tenggara.

Nguyễn Đình Bac, nama yang disebut khusus Kim, menjalani musim terbaik karirnya. Striker berusia 24 tahun ini mencetak gol vital di leg pertama dan menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Thailand. Jika ia mencetak gol lagi di Hanoi, tarian perayaan Kim-Bắc bisa menjadi momen ikonik yang diabadikan dalam sejarah sepak bola Vietnam.

Laga Rabu malam ini bukan hanya soal trofi. Ini tentang legitimasi era Kim Sang-sik. Pelatih yang pernah membawa Jeonbuk ke gelar K League 1 dan Piala AFC Champions League 2016 ingin membuktikan keberhasilannya di level timnas tidak sekadar kebetulan. Kemenangan back-to-back akan menempatkannya sejajar dengan legenda pelatih Asia Tenggara.

Apapun hasilnya, Vietnam sudah menunjukkan kematangan yang layak dijadikan teladan. Mereka bermain dengan identitas jelas, tidak panik di bawah tekanan, dan memiliki pelatih yang berani mengambil risiko — termasuk berjanji menari di depan kamera. Untuk Indonesia, pesanannya sederhana: konsistensi dan kontinuitas proyek jauh lebih berharga daripada gonta-ganti pelatih demi hasil instan.

Mengapa Ini Penting

Final Piala AFF 2026 ini menjadi uji nyata model pengelolaan sepak bola Vietnam yang konsisten — mempertahankan filosofi Park Hang-seo lewat Kim Sang-sik. Bagi Indonesia, ini kontras nyata dengan kebijakan gonta-ganti pelatih timnas. Jika Vietnam juara back-to-back, mereka akan mengunci status dominan Asia Tenggara untuk dekade ke depan, memaksa PSSI mengevaluasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar target kualifikasi Piala Dunia yang sempit.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
26 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit