Sepakbola

Gattuso Akui Luka Kualifikasi Dunia, Dukung Kembalinya Mancini ke Italia

Ringkasan

  • Mantan pelatih Italia Gennaro Gattuso mengakui kegagalan lolos Piala Dunia 2026 menjadi luka seumur hidup, namun ia mendukung penunjukan Roberto Mancini kembali memimpin Gli Azzurri.

Gennaro Gattuso tidak menyangkal betapa dalamnya luka yang ditinggalkan masa jabatannya di bangku pelatih Timnas Italia. Sepuluh bulan mengayomi Gli Azzurri berakhir dengan kegagalan menembus Piala Dunia 2026, sebuah trauma yang ia akui akan membekas seumur hidup. Namun, di tengah kekecewaan pribadi, mantan gelandang legendaris AC Milan itu justru memberikan dukungan penuh bagi sucesornya, Roberto Mancini, yang resmi dikontrak empat tahun oleh Federazione Italiana Giuoco Calcio (FIGC) di bawah kepemimpinan presiden baru Giovanni Malago.

Kepulangan Mancini menandai era keduanya di timnas senior Italia. Periode pertamanya, 2018 hingga 2023, pernah memukau dunia sepak bola dengan gelar juara Euro 2020 yang dimainkan pada 2021. Kemenangan dramatis lewat adu penalti lawan Inggris di Wembley menjadi puncak kejayaan. Namun, kehancuran pun hadir cepat: Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar setelah kalah dari Makedonia Utara di play-off. Kegagalan itu memicu gesekan dengan presiden FIGC saat itu, Gabriele Gravina, hingga Mancini memilih mundur tahun 2023.

Sekarang, roda berputar kembali. Malago, yang baru terpilih memimpin FIGC, memutuskan Mancini adalah sosok paling tepat untuk membangun tim dari reruntuhan kualifikasi dunia. Kontrak empat tahun yang ditandatangani Mancini mengisyaratkan kepercayaan jangka panjang, meski keputusan ini sempat memicu pro dan kontra di media Italia. Beberapa kalangan menilai kembalinya mantan pelatih Manchester City dan Inter Milan itu sebagai langkah mundur, mengingat ia pernah mundur karena berselisih dengan struktur federasi.

Gattuso, yang sejak Juni lalu mengayomi Lazio, menilai kontroversi itu wajar tapi tidak boleh melumpuhkan. Usai membawa Lazio menang tipis 1-0 atas Bologna di Serie A, mantan pemain berjuluk "Ringhio" itu berbicara dengan tulus. Ia menyebut masa jabatannya sebagai "10 bulan luar biasa" di mana para pemain telah memberikan segalanya. Frasa "luka yang dalam" dan "membekas seumur hidup" yang ia gunakan bukan sekadar hiperbole, melainkan cerminan betapa beratnya beban memimpin timnas Italia di era modern di mana ekspektasi juara dunia selalu menempel.

Di sisi lain, dukungan Gattuso bagi Mancini lahir dari pengakuan profesionalisme. "Dia adalah pelatih hebat dengan segudang pengalaman. Saya mendoakan yang terbaik baginya karena sepak bola kami membutuhkan dia," ujarnya. Penghargaan itu signifikan mengingat keduanya pernah bersaing di lini tengah Italia pada era emas awal 2000-an, serta saling berhadapan di Serie A sebagai pelatih. Tidak ada ego pribadi yang menyelimuti, hanya kesadaran bahwa Italia butuh stabilitas setelah dua kali gagal berturut-turut hadir di pesta dunia.

Konteks ini relevan bagi penggemar sepak bola Indonesia yang menyaksikan perjuangan Timnas Garuda di jalur kualifikasi Piala Dunia 2026. Italia dan Indonesia sama-sama berjuang di zona play-off, meski dengan beban sejarah yang berbeda. Italia, empat kali juara dunia, menghadapi tekanan "wajib lolos", sedangkan Indonesia berusaha meretas sejarah pertama kali lolos ke babak final. Kegagalan Italia justru menjadi pelajaran: nama besar dan sejarah gemilang tidak menjamin tiket ke Piala Dunia tanpa regenerasi yang matang dan sistem yang koheren.

Mancini mewarisi tim yang tengah dalam transisi generasi. Bintang-bintang era Euro 2020 seperti Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, dan Lorenzo Insigne sudah mundur atau tidak lagi dipanggil. Generasi baru berupa Nicolò Barella, Federico Chiesa, dan Gianluca Scamacca harus dibentuk menjadi kerangka baru. Tugas Mancini tidak hanya taktis, tapi juga psikologis: membangun mentalitas juara pada pemain yang baru mengalami trauma gagal lolos dunia dua kali berturut-turut.

Pengalaman Mancini mengelola ego bintang di Manchester City dan Inter Milan menjadi modal berharga. Ia dikenal mampu menciptakan harmoni dressing room, hal yang kritis saat Italia harus memadukan pemain senior tersisa seperti Gianluigi Donnarumma dan Jorginho dengan wajah baru. Di sisi lain, Gattuso di Lazio justru menunjukkan bagaimana pendekatan disiplin dan intensitas emosional bisa memberikan hasil instan — Lazio kini menempati posisi atas klasemen Serie A.

Bagi federasi Indonesia (PSSI), kasus Italia menawarkan mirror yang tajam. Penunjukkan pelatih berbasis jangka panjang, dukungan struktural dari pimpinan federasi, dan ketahanan menghadapi tekanan media adalah variabel yang menentukan keberhasilan. Indonesia saat ini dibimbing Patrick Kluivert dengan kontrak hingga 2027, mirip komitmen FIGC ke Mancini. Kunci kesuksesan terletak pada apakah lingkungan di sekitar pelatih — manajemen, fasilitas, liga domestik — mendukung visi jangka panjang tersebut.

Mancini memulai masa jabatannya kedua dengan jadwal padat: Liga Negara UEFA dan kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan berlanjut 2025. Ia harus segera menemukan formula scoring yang hilang saat play-off lawan Makedonia Utara dan Swiss. Sejarah mencatat Mancini pernah mengubah Italia dari tim defensif menjadi tim yang memainkan sepak bola proaktif dan menarik. Apakah ia bisa mengulang keajaiban 2021 di usia 59 tahun? Jawabannya akan menentukan apakah luka Gattuso itu akan sedikit terobati, atau justru menambah daftar kekecewaan baru bagi calcio.

Mengapa Ini Penting

Kembalinya Mancini ke Italia bukan sekadar rotasi pelatih, tapi uji coba apakah federasi mampu belajar dari kegagalan sistemik. Bagi Indonesia, kasus ini menggarisbawahi pentingnya konsistensi proyek jangka panjang di atas kebutuhan hasil instan. Dua kali gagal lolos dunia beruntun adalah tanda bahaya bahwa Infrastruktur pengembangan pemain dan kohesi federasi-pelatih harus diperbaiki fundamental, bukan hanya ganti sosok di bangku teknis. Kesuksesan Mancini kali ini akan jadi referensi bagi PSSI dalam mengelola era Kluivert.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
26 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit