Conor McGregor akan melangkah ke dalam octagon untuk menghadapi Max Holloway pada Minggu ini, menandai kembalinya sang legenda Mixed Martial Arts (MMA) setelah lima tahun absen. Pertarungan ini, yang menjadi tajuk UFC 329 di Las Vegas, tidak hanya menjadi momen manis bagi para penggemar, tetapi juga memunculkan banyak pertanyaan tentang masa depan petinju asal Irlandia tersebut di panggung terbesar UFC.
McGregor, yang dikenal sebagai bintang terbesar dalam sejarah MMA, telah menjadi motor utama popularitas olahraga ini di tingkat global. Ia adalah juara dunia dua berat pertama dalam sejarah UFC, dan kepribadiannya yang blak-blakan serta jenaka telah memikat penggemar seperti tidak ada petinju MMA sebelumnya. Kemenangan beruntunnya di awal karier, termasuk kemenangan atas Chad Mendes dan Jose Aldo dalam waktu 13 detik, telah mengukuhkan posisinya sebagai ikon olahraga.
Namun, di balik prestasinya, karier McGregor diwarnai berbagai kontroversi. Pada 2024, ia kalah dalam gugatan banding kasus penyerangan seksual di Pengadilan Tinggi Dublin, setelah sebelumnya diperintahkan membayar £206.000 kepada Nikita Hand, yang menuduhnya melakukan pemerkosaan di sebuah hotel di Dublin pada Desember 2018. Kasus ini telah mencoreng warisannya dan memicu perdebatan tentang apakah ia layak masih menjadi sorotan utama UFC.
Selain itu, McGregor juga menerima larangan 18 bulan karena melanggar kebijakan anti-doping UFC setelah melewatkan tiga kali tes obat dalam periode 12 bulan pada 2024. Sanksi tersebut berakhir pada Maret 2025, tetapi catatan tersebut tetap menghantuinya. Tahun ini, ia telah menjalani 14 kali tes oleh Combat Sports Anti-Doping (CSAD), jumlah terbanyak di antara petarung UFC lainnya.
Kontroversi hukumnya meluas ke ranah politik di Irlandia. Pada Maret 2025, pemimpin politik Irlandia menyatakan bahwa McGregor “tidak mewakili Irlandia” setelah ia mengkritik kebijakan imigrasi negara tersebut. Upayanya untuk mencalonkan diri sebagai presiden juga berakhir pada September tahun lalu, memperlihatkan pergeseran dukungan publik terhadapnya di negara asalnya.
Kembali ke kandang, McGregor belum bertarung sejak mengalami patah kaki dalam kekalahan melawan Dustin Poirier pada 2021. Ia kini berusia 37 tahun, sementara Holloway dianggap sebagai salah satu petarung UFC terbaik sepanjang masa. Perbedaan usia dan pengalaman ini membuat banyak pengamat ragu apakah McGregor masih bisa bersaing di tingkat elit, meskipun ia mengklaim persiapan yang sangat matang untuk duel tersebut.
UFC, di bawah kepemimpinan Dana White, tetap menempatkan McGregor sebagai bintang utama dengan menjadikannya pertandingan utama UFC International Fight Week. Hal ini mencerminkan nilai komersial yang masih dimiliki petarung ini, meskipun kritik terus bermunculan. Bagi penggemar MMA di Indonesia, pertarungan ini menjadi ujian apakah legenda seperti McGregor masih bisa menghibur di atas ring di usia senja.
Bagi industri MMA di Indonesia, kembalinya McGregor dapat meningkatkan minat penonton dan minat taruhan, mengingat popularitasnya yang masih tinggi di kalangan penggemar global. Namun, kontroversi yang mengelilinginya juga dapat memicu perdebatan tentang standar etis yang diterapkan UFC terhadap bintang-bintangnya, sebuah topik yang mungkin akan dibahas oleh komunitas MMA lokal.
Pada akhirnya, pertarungan melawan Holloway akan menjadi penanda penting dalam karier McGregor. Apakah ia bisa mengulangi masa kejayaannya atau tidak, duel ini akan tercatat dalam sejarah UFC, dan dampaknya akan terasa tidak hanya di tingkat internasional, tetapi juga di komunitas MMA yang sedang berkembang di Indonesia.