Oslo, 10 Juli – Saat aksi ‘Viking Row’ melanda arena Piala Dunia menjelang perempat final Norwegia melawan Inggris, para penggemar Viking menyatakan bahwa euforia ini bukan hanya tentang teknik, melainkan tentang semangat memenangkan pertandingan dengan gaya Norse kuno. Di tengah euforia perjalanan impresif Tim Skandinavia di Miami, suporter dari Oslo hingga Times Square New York melakukan aksi baris sambil bernyanyi, menciptakan gelombang energi yang diharapkan bisa menggetarkan jantung skuad arahan Ståle Solbakken.
Knute Roger Brekke, manajer acara di Oseberg Viking Heritage Foundation di Tonsberg, menjelaskan, “Saya sangat suka Viking row. Ini sangat bagus sebagai yel-yel. Ini membuat orang bersemangat, membuat orang bergerak.” Aksi ini terinspirasi dari leluhur Viking yang gagah berani di lautan. Namun, Brekke mengingatkan, teknik baris yang sebenarnya memerlukan stamina luar biasa karena latihan bisa berlangsung berjam-jam di atas kapal.
Kapal Oseberg asli, dibangun sekitar tahun 820, dulunya digunakan sebagai kapal pemakaman bagi dua wanita bangsawan. Replika kapal tersebut, Saga Oseberg, selesai pada 2012 dan kini digunakan untuk wisata budaya. Dengan panjang 21,5 meter, replika ini memberi kesempatan kepada Brekke dan para sukarelawan untuk berlatih teknik baris yang sebenarnya, yang jauh berbeda dengan yel-yel cepat yang dilakukan para suporter di stadion.
Semangat Viking, kata Ole Harald Flaten, pemimpin proyek di Heritage Foundation, adalah keinginan untuk menang dan melakukannya bersama-sama. “Semoga setelah Norwegia memenangkan Piala Dunia, akan ada banyak orang yang ingin baris di atas kapal Viking,” ujarnya. Para penggemar di dalam negeri berharap bahwa petualangan Norwegia di Piala Dunia ini akan meningkatkan minat terhadap budaya Viking dan mendorong pariwisata budaya.
Norwegia belum pernah melampaui babak 16 besar dalam sejarah Piala Dunia. Kemenangan atas Inggris pada Sabtu malam di Miami Stadium (kick-off 21.00 GMT) akan membuka jalan menuju perempat final, dengan kemungkinan menghadapi Argentina—pemenang tiga gelar—atau Swiss. Ini akan menjadi babak baru bagi sepak bola Norwegia, yang bisa membawa tim ke “perairan yang belum terjamah” di panggung global.
Aksi Viking Row bukan hanya yel-yel, tapi juga bentuk ekspresi identitas nasional. Di tengah meningkatnya persaingan suporter di seluruh dunia, tradisi ini menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi wadah bagi kebanggaan budaya. Media sosial pun ramai dengan video aksi tersebut, yang meningkatkan popularitas destinasi wisata sejarah seperti Oseberg dan mendorong industri kreatif lokal untuk memproduksi merchandise bertema Viking.
Dari sudut pandang teknis, yel-yel tersebut menggabungkan ritme yang mirip dengan gerakan dayung, meski tidak memerlukan tenaga fisik yang sama. Para ahli biomekanika berpendapat bahwa pola napas dan koordinasi yang digunakan dalam Viking Row dapat meningkatkan solidaritas tim, karena suporter bernapas dan bergerak secara serempak. Hal ini menciptakan resonansi fisik dan psikologis yang bisa memengaruhi performa atlet di lapangan.
Bagi industri teknologi di Indonesia, fenomena ini menawarkan peluang baru dalam integrasi budaya dan digital. Platform streaming dan media sosial bisa memanfaatkan tren Viking Row untuk konten promosi yang menarik, sementara perusahaan teknologi lokal bisa mengembangkan aplikasi yang menghubungkan penggemar sepak bola dengan warisan budaya melalui pengalaman augmented reality (AR) yang menampilkan replika kapal Viking secara virtual.
Mengapa hal ini penting bagi pembaca atau industri teknologi di Indonesia? Pertama, hal ini menunjukkan bagaimana warisan budaya bisa menjadi aset olahraga yang kuat, mendorong pariwisata dan industri kreatif. Kedua, hal ini menggambarkan kekuatan media sosial dalam menyebarkan tren global, yang bisa dimanfaatkan oleh startup digital untuk kampanye yang berdampak. Terakhir, hal ini mengingatkan kita bahwa di balik pertandingan besar terdapat narasi budaya yang memperkaya identitas kolektif dan mendorong inovasi lintas disiplin.