Olahraga

Marc Marquez Kuasai Practice MotoGP Jerman 2026, Martin di Posisi ke-8

Marc Marquez Kuasai Practice MotoGP Jerman 2026, Martin di Posisi ke-8

Ringkasan

  • Marc Marquez memimpin practice MotoGP Jerman 2026 dengan 1:19.394 detik, sementara Jorge Martin finis di posisi ke-8, siap bersaing di race hari Minggu.

Jakarta, CNN Indonesia – Practice sesi MotoGP Jerman 2026 di Sirkuit Sachsenring, Jumat (10/7) malam WIB, diwarnai persaingan ketat antar pembalap. Sesi yang dimulai sekitar pukul 18.00 WIB ini langsung memunculkan waktu cepat dari Marco Bezzecchi, pembalap Aprilia, yang mencatatkan 1 menit 20,605 detik pada awal sesi.

Bezzecchi mampu mempertahankan catatan waktu tercepat selama hampir 20 menit practice, sebelum akhirnya disalip oleh pembalap lain. Dua bersaudara asal Spanyol, Marc Marquez dan Alex Marquez, masih belum mampu mengejar kecepatan Bezzecchi, meski mereka terus berusaha memperbaiki posisi. Pembalap lain seperti Fabio Di Giannantonio dan Jack Miller juga ikut mencatatkan waktu yang kompetitif.

Seiring berjalannya waktu, kondisi trek yang semakin optimal membuat para pembalap mampu mengeluarkan performa terbaiknya. Fabio Di Giannantonio kemudian mengukir waktu 1 menit 19,800 detik dan sementara itu Alex Marquez berhasil memperbaiki posisinya ke urutan kedua. Kecepatan ini menjadi patokan baru bagi para pesaing di sisa practice.

Marc Marquez, yang dikenal sebagai The Baby Alien, akhirnya mampu memecahkan rekor Bezzecchi ketika sesi practice tersisa 15 menit. Ia mencatatkan 1 menit 19,700 detik, namun tidak lama kemudian Fabio Di Giannantonio kembali ke puncak dengan catatan 1 menit 19,674 detik. Alex Marquez naik ke posisi kedua, sementara Marc tertinggal sedikit di belakang.

Hasil practice MotoGP Jerman 2026 menunjukkan urutan 10 besar sebagai berikut: 1. Marc Marquez 1:19.394, 2. Raul Fernandez (+0,16), 3. Fabio Di Giannantonio (+0,28), 4. Alex Marquez (+0,31), 5. Jack Miller (+0,44), 6. Ai Ogura (+0,51), 7. Marco Bezzecchi (+0,60), 8. Jorge Martin (+0,61), 9. Pedro Acosta (+0,66), 10. Franco Morbidelli (+0,63). Data ini menjadi acuan strategi race hari Minggu.

Bagi Marquez, catatan waktu tercepat ini menjadi sinyal positif menjelang race di Sachsenring, sirkuit yang selalu memberikan kenangan manis baginya. Di tengah persaingan ketat dengan Ducati, catatan practice ini menunjukkan bahwa ia masih kompetitif dan siap menantang pemimpin klasemen dunia. Bagi tim, hasil ini dapat menjadi modal untuk merancang strategi pit stop dan pemilihan ban yang tepat.

Jorge Martin, yang berada di posisi ke-8 practice, masih mencari ritme terbaiknya di musim 2026. Meskipun tertinggal 0,617 detik dari Marquez, pembalap asal Spanyol ini optimis dapat meningkatkan performanya di race karena sirkuit Sachsenring cocok untuk gaya balapnya yang agresif. Pengamat MotoGP meyakini Martin dapat menjadi kejutan di hari lomba.

Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, practice ini menjadi pemanasan menjelang balapan yang mungkin akan diadakan di Pertamina Mandalika Circuit pada akhir tahun. Popularitas MotoGP di Nusantara terus meningkat, dan performa pembalap seperti Marquez dan Martin akan sangat diikuti. Hasil practice ini juga menjadi gambaran persaingan yang akan terjadi di Asia, terutama bagi pembalap Asia seperti Ai Ogura dan Pedro Acosta.

Mengapa Ini Penting

Practice ini menunjukkan bahwa Marc Marquez masih menjadi ancaman utama di MotoGP 2026, yang memberikan semangat bagi fans Indonesia yang mengidolakannya. Posisi Jorge Martin yang relatif tinggi memberikan harapan bahwa pembalap Asia dapat bersaing di level teratas, mendorong minat terhadap MotoGP di dalam negeri. Selain itu, hasil practice ini menjadi dasar strategi tim untuk race, yang dapat memengaruhi dinamika kejuaraan dan potensi kejutan di sirkuit yang ramah penonton seperti Mandalika.

Sumber Asli
CNN Indonesia
Tanggal
10 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →