Sepak Bola

Evaluasi Kemenangan U-17, Erick Thohir Ingin Indonesia Tiru Blueprint Sepak Bola Jepang

Evaluasi Kemenangan U-17, Erick Thohir Ingin Indonesia Tiru Blueprint Sepak Bola Jepang

Ringkasan

  • Ketua PSSI Erick Thohir tegaskan kemenangan U-17 atas Malaysia bukan tolok ukur utama, PSSI fokus tiru sistem pembinaan usia dini Jepang demi masa depan timnas.

Kemenangan telak 3-0 Timnas Indonesia U-17 atas Malaysia dalam laga uji coba di Stadion Manahan, Surakarta, Selasa (7/7), menyisakan catatan penting bagi PSSI. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa hasil positif tersebut tidak boleh membuat skuad Garuda Muda terlena atau dijadikan tolok ukur utama kualitas tim saat ini.

Erick secara terbuka menyatakan bahwa tim yang dinakhodai oleh pelatih baru, David Nascimento, masih dalam tahap adaptasi awal. Menurutnya, waktu kerja yang singkat bagi sang pelatih membuat performa di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan visi permainan jangka panjang yang ingin dibangun oleh federasi.

Lebih jauh, PSSI kini tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran terkait pola pembinaan pemain muda. Erick menjelaskan bahwa federasi telah membagi fokus kepelatihan secara spesifik. John Herdman diproyeksikan untuk fokus pada tim senior, namun tetap menjaga integrasi sistematis dengan tim U-20 dan U-23 guna memastikan transisi pemain muda ke level senior berjalan mulus.

Komitmen pembinaan usia dini ini sudah mulai terlihat dari kebijakan pemanggilan pemain muda berbakat seperti Dony Tri Pamungkas dan Matthew Baker ke jenjang yang lebih tinggi. Strategi ini merupakan bentuk nyata dari keinginan PSSI untuk memberikan pengalaman kompetitif sejak dini, sehingga pemain tidak mengalami 'gegar budaya' saat menembus tim utama.

Di bawah pengawasan Direktur Teknik Alexander Zwiers, PSSI sedang merancang formula khusus untuk level U-15 dan U-17. Erick menekankan bahwa memusatkan perhatian hanya pada tim senior adalah kesalahan fatal yang akan membuat Indonesia tertinggal jauh dalam peta persaingan sepak bola global yang kini sangat kompetitif.

Berkaca pada peta kekuatan dunia, Erick menyoroti dominasi negara-negara Eropa dalam turnamen usia muda. Ia percaya bahwa Indonesia harus mulai menanamkan fondasi sejak usia U-13 dan U-15 jika ingin menghasilkan pemain yang mampu menembus liga-liga top Eropa di masa depan.

Model Jepang menjadi acuan utama bagi PSSI. Negeri Sakura tersebut dinilai sangat sukses karena konsisten mengirim pemain mudanya untuk berkarier di Eropa. Erick melihat pola ini sebagai 'asuransi' bagi masa depan tim nasional, di mana pemain yang matang di ekosistem Eropa akan membawa dampak positif bagi kualitas skuad Garuda.

Sebagai langkah konkret, PSSI mencanangkan program jangka panjang selama 10 tahun ke depan. Program ini mencakup pembangunan pusat pelatihan tim nasional di berbagai daerah yang dikhususkan untuk kelompok umur muda. Investasi infrastruktur ini menjadi krusial mengingat FIFA kini telah mengagendakan kejuaraan dunia untuk kategori U-15.

Erick menutup dengan pesan tegas bahwa Indonesia tidak boleh 'asyik sendiri' dengan mengandalkan tim senior saja. Dengan adanya investasi masif pada pembinaan usia dini, ia optimistis Indonesia akan memiliki stok pemain bertalenta yang mampu bersaing di level dunia, mengikuti jejak sukses Jepang dalam memproduksi talenta lokal berkualitas internasional.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial karena menandai pergeseran filosofi PSSI dari orientasi hasil instan ke pengembangan ekosistem sepak bola yang berkelanjutan. Dengan mengadopsi model Jepang, PSSI mencoba memutus rantai ketergantungan pada pemain naturalisasi atau pemain senior dengan membangun 'pabrik' talenta lokal dari usia dini. Bagi penggemar, ini memberikan harapan nyata bahwa timnas di masa depan akan memiliki kedalaman skuad yang kompetitif di level Asia hingga global.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
9 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →