Seoul, CNN Indonesia -- Langkah tak biasa tercatat dalam sejarah sepak bola Korea Selatan. Komite Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Majelis Nasional (Parlemen) secara resmi mengundang kapten tim nasional, Son Heung-min, beserta rekan setimnya Hwang Hee-chan, untuk hadir dalam rapat dengar pendapat (hearing) pada 22 Juli 2026. Undangan ini bukan sekadar formalitas, melainkan respons politik terhadap kekecewaan massa usai Taegeuk Warriors gagal menembus fase gugur Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Korea Selatan, yang dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia paling konsisten, hanya berhasil mengumpulkan poin minim di Grup A dan gagal lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Kegagalan ini memicu gelombang kritik tak hanya dari suporter, tapi juga dari kalangan politik yang menilai sistem sepak bola domestik dan manajemen Korea Football Association (KFA) perlu evaluasi total. Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Lim O Kyeong, mengemukakan bahwa rapat ini bertujuan menjadi "titik awal restorasi kepercayaan sepak bola Korea dan meningkatkan sistem di masa depan."
Keputusan memanggil pemain aktif sebagai saksi kunci menandakan pergeseran paradigma akuntabilitas di sepak bola Korea. Biasanya, evaluasi pasca-turnamen besar dilakukan secara internal oleh federasi atau melalui media. Kali ini, parlemen menarik pemain — subjek yang langsung merasakan tekanan, fasilitas, dan manajemen di lapangan — untuk memberikan kesaksian pertama. Lim menegaskan, "Reformasi tidak akan berarti jika pendapat pemain tidak direfleksikan." Pendekatan ini mirip dengan model hearing di Kongres AS untuk isu doping atau keamanan atlet, yang jarang diterapkan di Asia.
Namun, realitas jadwal klub berpotensi mengkhianati niat baik parlemen. Son Heung-min baru saja bergabung dengan Los Angeles FC di Major League Soccer (MLS) musim 2026, sedangkan Hwang Hee-chan bersiap untuk pra-musim Wolverhampton Wanderers di Liga Inggris. Kedua klub sangat bergantung pada bintang mereka untuk persiapan musim baru, membuat kehadiran fisik di Seoul hampir mustahil. KFA telah mengonfirmasi bahwa perwakilan federasi akan menggantikan posisi pemain, namun kehadiran Son — sebagai ikon global dan kapten — dinilai memiliki bobot simbolis dan substansial yang tak tergantikan.
Daftar saksi yang diundang parlemen mencerminkan seriusnya upaya ini. Di antaranya Park Ji-sung, legenda Manchester United yang kini menjabat Wakil Ketua Komite Inovasi Sepak Bola Korea; Ryu Seung Min, Presiden Komite Olahraga dan Olimpiade Korea (KSOC); serta dua mantan internasional yang berprofesi sebagai pundit, Lee Young-pyo dan Park Joo-ho. Kehadiran 13 tokoh kunci ini, termasuk pejabat KFA, menunjukkan parlemen ingin mendengar perspektif lintas generasi: dari era keemasan 2002, era transisi, hingga generasi Son saat ini.
Konteks sejarah menambah ketegangan narasi ini. Korea Selatan pernah mencapai semifinal Piala Dunia 2002 di tanah sendiri — pencapaian tertinggi tim Asia hingga kini. Sejak itu, ekspektasi publik dan investasi pemerintah melonjak, namun hasil turnamen besar cenderung stagnan: babak 16 besar 2010, gugur fase grup 2014 dan 2018, 16 besar 2022, dan kini gagal total 2026. Banyak analis menilai KFA terlalu fokus pada komersialisasi dan politik internal, mengabaikan pengembangan grassroots dan pathway pemain muda yang berkelanjutan.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menawarkan pelajaran krusial. Intervensi legislatif terhadap federasi olahraga sering dipandang sensitif — FIFA melarang campur tangan pemerintah — namun pendekatan Korea menunjukkan hearing parlementer bisa berfungsi sebagai mekanisme transparansi dan tekanan publik tanpa melanggar otonomi teknis, asalkan fokus pada kebijakan sistemik, bukan seleksi pemain atau keputusan taktis. PSSI dan Kemenpora bisa mempelajari model "hearing restoratif" ini untuk evaluasi pasca-kualifikasi Piala Dunia 2026 atau performa Liga 1.
Mata dunia sepak bola kini tertuju ke Seoul pada 22 Juli. Apakah hearing ini akan melahirkan rekomendasi konkret — reformasi struktur KFA, revisi sistem liga K League, penguatan akademi, atau perlindungan kesejahteraan pemain — atau hanya menjadi teater politik? Jawabannya akan menentukan apakah Korea Selatan bisa bangkit dari jurang 2026, atau terjebak dalam siklus kekecewaan berulang. Bagi Son Heung-min, di usia 34 tahun, ini mungkin menjadi kontribusi terakhirnya bagi sepak bola negaranya: bukan di lapangan, tapi di meja pembicaraan kebijakan.