SURABAYA -- Komunitas sepak bola Indonesia, khususnya keluarga besar Persebaya Surabaya, tengah berduka cita atas kepergian Andie 'Peci' Kristianto, salah satu tokoh paling ikonik dari suporter Bonek (Bondho Nekat). Mendiang meninggal dunia pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 11.25 WIB di RSUD Dr. Mohammad Soewhandi Surabaya setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa bulan terakhir.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Husein Ghozali, lebih dikenal sebagai Cak Conk, salah satu koordinator senior komunitas Bonek. "Iya benar, 11.25 WIB sekitar 30 menit yang lalu," ujarnya saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com. Cak Conk menambahkan bahwa Andie Peci sudah beberapa bulan keluar masuk rumah sakit, meskipun detail penyakitnya tidak diungkapkan secara rinci.
Melalui akun Instagram resmi, Persebaya Surabaya menyampaikan belasungkawa yang penuh haru. "Selamat jalan Cak Andie 'Peci' Kristianto. Nama Anda akan abadi bagi kami, keluarga besar Persebaya. Teriakan Anda, orasi Anda, keberanian Anda, menjadi salah satu energi utama, sehingga Persebaya kembali ke kancah sepak bola tanah air," tulis klub tersebut. Pesan tersebut ditutup dengan doa: "Kami yakin, setiap langkah Persebaya, kebaikan-kebaikan yang mengiringi perjalanan Green Force, akan senantiasa menjadi amal jariyah Cak Andie. Sugeng tindak Cak Andie, suwargi langgeng, amin."
Kehilangan Andie Peci bukan sekadar kepergian seorang suporter biasa. Ia adalah arsitek diam di balik kelangsungan hidup Persebaya saat klub menghadapi krisis keberadaan terparah dalam sejarah sepak bola Indonesia. Periode 2010 hingga awal 2017 mencatat babak kelam di mana Persebaya terpecah menjadi dua kubu manajemen, dijatuhi sanksi keras oleh PSSI, dan tidak diakui sebagai anggota federasi. Klub kebanggaan publik Surabaya itu pun 'mati suri' dari kancah kompetisi nasional.
Di tengah kekacauan manajemen dan ketidakpastian hukum itu, Andie Peci bersamaan dengan elemen-elemen keras Bonek justru muncul sebagai garda terdepan perjuangan rakyat. Mereka tidak hanya berteriak di tribune, melainkan turun ke jalan, menggelar aksi demo massal, menemui pejabat PSSI, hingga mengurus jalur hukum untuk memulihkan status keanggotaan klub. Keteguhan hati dan idealisme Andie Peci menjadi katalisator yang menyatukan massa suporter yang pecah belah, mengubah emosi menjadi gerakan terstruktur yang menuntut keadilan bagi Persebaya.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Pada awal 2017, PSSI resmi memulihkan status keanggotaan Persebaya, membuka jalan bagi Bajul Ijo untuk kembali berkompetisi di Liga Indonesia. Kembalinya Persebaya ke kancah nasional bukan hanya kemenangan hukum, melainkan bukti nyata kekuatan 'people power' dalam sepak bola Indonesia—di mana suporter bukan penonton pasif, melainkan pemangku kepentingan aktif yang menentukan nasib klub.
Cak Conk mengingat Andie Peci sebagai sosok yang "berpendirian, berprinsip, dan punya idealisme yang kuat, utamanya soal pergerakan memperjuangkan Persebaya." Warisan yang ditinggalkan Andie Peci melampaui trofi atau gelar juara. Ia meninggalkan bukti bahwa cinta pada klub bisa bermakna nyata melalui aksi kolektif, solidaritas, dan ketabahan di saat-saat tergelap. Bagi generasi muda Bonek, sosok Andie Peci menjadi teladan bagaimana seorang suporter seharusnya bersikap: tidak hanya menuntut prestasi, tapi juga melindungi identitas dan keberadaan klub itu sendiri.
Kematian Andie Peci pada usia yang masih produktif meninggalkan kekosongan di hati ribuan warga Surabaya dan pecinta sepak bola Indonesia. Namun, sebagaimana diucapkan Persebaya dalam ucapan belasungkawa mereka, nama Andie 'Peci' Kristianto akan abadi. Setiap kali Persebaya melangkah di lapangan hijau, setiap teriakan 'Green Force' yang bergema dari tribune, dan setiap kemenangan yang diraih Bajul Ijo, akan selalu terbayang siluet sang pejuang yang tidak kenal lelah memperjuangkan kebanggaan kota pahlawan ini.