Irfan Bachdim memberikan sinyal dukungan penuh terhadap langkah Timnas Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Piala AFF 2026. Mantan gelandang serang yang akrab disapa Bachdim itu menyempatkan diri hadir langsung di Bali United Training Center, Gianyar, untuk menyaksikan proses pemusatan latihan skuad Garuda.
Bagi publik sepak bola tanah air, kehadiran Bachdim bukanlah sekadar seremoni. Ia adalah figur legendaris yang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan sepak bola Indonesia. Pengamatannya terhadap kualitas tim saat ini tentu memiliki bobot tersendiri.
"Meski pemain yang berkarir di Eropa tidak bisa bergabung, namun pemain yang ada saat ini kualitasnya tidak kalah bagus. Komposisinya merata saya lihat di semua lini," ujar Bachdim usai menghadiri peluncuran jersey Bali United, Jumat (24/7/2026) malam.
Pernyataan ini menjadi angin segar bagi para pemain lokal yang kerap diragukan kemampuannya saat harus bermain tanpa bayang-bayang nama-nama besar diaspora. Bachdim secara tidak langsung memberikan validasi bahwa pembinaan pemain di dalam negeri sudah berada di jalur yang tepat. Ini sekaligus menjawab keraguan sebagian kalangan yang menilai Timnas Indonesia akan lemah tanpa kehadiran pemain diaspora.
Ia menyoroti langsung permainan Rizky Ridho dan kawan-kawan saat menjalani uji coba melawan Bali United. Menurutnya, transisi bola yang cepat dan pressing ketat menjadi bukti peningkatan kualitas yang signifikan.
Meskipun terkesima, Bachdim tidak buta akan tantangan. Ia mengingatkan bahwa laga perdana melawan Kamboja pada Senin (27/7) mendatang menjadi faktor kunci. Kemenangan wajib diraih untuk membangun fondasi mental yang kokoh.
"Laga perdana itu yang terpenting. Kalau bisa menang, kepercayaan diri akan naik dan kami bisa melangkah lebih jauh," paparnya.
Di balik optimisme itu, lubang lama di hati Bachdim terkait kekalahan di final Piala AFF 2010 masih menganga. Ia tidak bisa melupakan bagaimana Indonesia yang tampil perkasa di penyisihan grup harus tumbang oleh Malaysia di partai puncak.
"Itu mengingatkan saya 16 tahun lalu saat kami menang di penyisihan grup dengan Malaysia, tapi akhirnya kalah di final oleh mereka. Rasanya sangat sedih," kenang pemain berusia 37 tahun ini.
Namun, dari kenangan pahit itulah muncul keinginan untuk revans. Bachdim secara gamblang berharap Indonesia kembali bertemu Malaysia di babak final. Ia ingin generasi saat ini merasakan kemenangan yang lolos dari genggamannya 16 tahun silam.
Keinginan ini bukan tanpa alasan. Di bawah arahan John Herdman, Timnas Indonesia menunjukkan plot progresif. Pelatih asal Inggris ini berhasil membangun pertahanan yang disiplin dan serangan balik yang mematikan.
Kombinasi antara kedewasaan bermain Rizky Ridho di lini belakang dan kematangan yang ditunjukkan oleh para pemain tengah menjadi modal berharga. Bachdim yang dulu dikenal dengan dribel lineanya tentu paham betul bagaimana menghancurkan pertahanan lawan. Ia melihat sendiri bagaimana lini tengah Garuda mampu mengatur ritme permainan.
Kini, bola berada di kaki para pemain Garuda. Dukungan dan pujian dari seorang Irfan Bachdim menjadi beban sekaligus pelecut semangat. Mimpi revans Bachdim kini diwariskan kepada generasi penerus. Jika sukses melewati hadangan Kamboja, moral skuad Garuda diprediksi akan melesat. Semua mata tertuju pada performa skuad Garuda di ASEAN Championship kali ini. Apakah racikan John Herdman cukup ampuh untuk mengobati luka lama Indonesia di kancah Asia Tenggara? Jawabannya akan dimulai dari laga kontra Kamboja pada akhir Juli.