Angel Di Maria menolak menerima narasi bahwa perjalanan internasional Lionel Messi telah berakhir di final Piala Dunia 2026. Mantan sayap kiri itu berpendapat La Pulga masih memiliki kapasitas fisik dan mental untuk memperpanjang kontribusinya bagi Albiceleste, sekalipun usianya akan menyentuh angka 39 saat turnamen berikutnya digelar.
Argentina harus puas jadi runner-up setelah dikalahkan Spanyol 0-1 di laga puncak. Kekalahan itu menandakan पहली kali dalam sejarah final Piala Dunia, tim tersebut gagal mencatatkan satu pun tembakan ke gawang lawan — statistik yang mencerminkan dominasi La Roja di tengah lapangan.
Kemenangan Argentina di Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana Di Maria mencetak gol di final lawan Prancis, sering dijadikan tolok ukur puncak generasi emas ini. Namun Di Maria menilai perjalanan Messi tidak boleh dikunci hanya pada satu trofi dunia. "Dia membuktikan di usia 39 tahun ia tetap termasuk pemain terbaik sejarah," ujar mantan pemain Juventus dan PSG itu.
Konteks pensiun Di Maria sendiri dari timnas usai final 2024 justru menjadi latar yang menarik. Ia memilih mundur di puncak performa, namun justru mendorong rekan setim lama itu untuk tidak mengikuti jejak yang sama. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan dinamika unik di ruang ganti Argentina: ada yang memilih keluar dengan hormat, ada yang didesak bertahan lebih lama.
Dari sisi taktis, kehadiran Messi tetap vital meski perannya bergeser dari playmaker klasik ke false nine atau pengejar kedua. Kemampuannya menciptakan ruang, membaca permainan, dan mengeksekusi bola mati tetap tak tertandingi. Pelatih Lionel Scaloni punya opsi mengatur menit bermain Messi agar tetap segar untuk kualifikasi Piala Dunia 2030.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Messi–Di Maria mengingatkan pada dinamika generasi emas Timnas Garuda era 2010-an. Seperti Boaz Solossa dan Cristian Gonzales yang saling melengkapi, keputusan pensiun bertahap justru bisa memperlancar regenerasi tanpa kehilangan identitas tim.
Di sisi komersial, kehadiran Messi di Piala Dunia 2030 — yang akan digelar di Spanyol, Portugal, Maroko, serta tiga negara Amerika Selatan — berarti nilai siaran, sponsor, dan merchandise Argentina akan tetap melonjak. Liga 1 Indonesia pun merasakan dampak tidak langsung: popularitas sepak bola global mendorong minat pemuda lokal meniru gaya bermain bintang-bintang seperti Messi.
"Kemampuannya tak terbatas," tegas Di Maria saat diwawancarai media Argentina. Ia menambahkan bahwa kebahagiaan yang dibawa generasi ini ke negara kelahiran Maradona itu tidak boleh dihentikan oleh satu kekalahan final. Frasa "tak terbatas" itu bukan hiperbola, melainkan pengakuan atas konsistensi Messi yang menembus 1.000 penampilan karier klub dan timnas.
Scaloni hingga kini belum memberikan pernyataan resmi soal rencana Messi. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) diketahui siap mendukung keputusan apa pun yang diambil kapten tim. Namun tekanan publik dan sponsor global kemungkinan besar akan mendorong agar La Pulga tetap memakai rompi nomor 10 minimal hingga Copa America 2028.
Jika Messi memutuskan lanjut, ia akan memecahkan rekor pemain tertua yang pernah tampil di Piala Dunia — saat ini dipegang Roger Milla (42 tahun) dan Essam El-Hadary (45 tahun). Lebih dari rekor usia, yang tertandingi adalah narasi: apakah Messi ingin pensiun sebagai juara dunia bertahan, atau sebagai pengejar gelar ketiga yang belum tercapai?
Bagi ekosistem sepak bola Indonesia, kisah ini jadi pelajaran tentang manajemen karir atlet senior. PSSI dan klub-klub Liga 1 bisa mengadopsi model "transisi bertahap" yang diterapkan Argentina: mengurangi beban fisik, memaksimalkan pengalaman, sekaligus mempersiapkan penerus seperti Julián Álvarez atau Alejandro Garnacho.
Proyeksi ke depan, keputusan Messi akan diumumkan paling lambat awal 2027. Sampai saat itu, spekulasi akan memenuhi ruang media global. Namun satu hal pasti: suara Di Maria — yang pernah mencetak gol di final Piala Dunia dan Copa America — membawa bobot moral yang sulit diabaikan oleh siapa pun, termasuk Messi sendiri.