Alexander Zverev akhirnya memutus rantai kekalahan yang menghantuinya selama lebih dari dua tahun terhadap Taylor Fritz, meraih kemenangan meyakinkan 6-4, 6-4, 6-2 di perempat final Wimbledon 2025, Rabu (9/7). Kemenangan tersebut tidak hanya mengantarkan petenis Jerman berusia 29 tahun itu ke semifinal Grand Slam bersejarah All England Club untuk pertama kalinya, tetapi juga menandai titik balik psikologis penting dalam kariernya yang penuh dinamika.
Pertemuan ini menjadi ke-11 kali kedua pemain ini bertemu, dan sebelum laga ini, Fritz mendominasi head-to-head dengan catatan 7-3, termasuk tujuh kemenangan beruntun sejak Roland Garros 2023. Zverev sendiri mengakui beban mental tersebut usai pertandingan. "Dia mengalahkan saya selama dua tahun berturut-turut. Saya memainkan pertandingan yang luar biasa dan sangat senang berada di semifinal," ujar Zverev, terlihat lega setelah mengakhiri kemalangan tersebut di panggung paling bergengsi di dunia tenis.
Secara historis, pencapaian Zverev menempatkan nama di samping legenda-tenis Jerman era Open. Ia menjadi petenis putra Jerman kelima yang menembus empat besar di Wimbledon, menyusul Boris Becker, Michael Stich, Rainer Schüttler, dan Tommy Haas. Lebih luas lagi, Zverev kini masuk klub eksklusif petenis aktif yang pernah mencapai semifinal di keempat turnamen Grand Slam, berbaris dengan Novak Djokovic, Marin Čilić, Carlos Alcaraz, dan Jannik Sinner — bukti konsistensi tingkat dunia yang jarang dimiliki pemain.
Taktik Zverev dalam laga ini terlihat sangat matang. Ia memprediksi pertandingan akan didominasi pertukaran servis, dan eksekusi di lapangan membuktikan itu. Di set pertama, Zverev menyelamatkan dua break point di gim servis pertamanya, lalu kembali dari posisi 15-40 saat menyajikan untuk set pada 5-4 dengan menembakkan dua ace dan dua servis tak terjawab. Ketahanan mental di momen-momen krusial itulah yang membedakannya dari versi lama dirinya yang sering goyah di poin-poin besar.
Sisi lawan, Taylor Fritz tampak terbebani cedera lutut kanan yang mengidap tendinitis sejak awal musim. Petenis ranking 7 dunia itu meminta medical timeout di awal set kedua, dan meski berusaha melanjutkan, gerakannya terlihat terbatas, terutama saat mengejar bola sudut dan melakukan perpindahan berat badan cepat. Zverev cerdas mengeksploitasi kelemahan ini dengan terus menekan servis kedua Fritz dan mendominasi rally dari baseline, memaksa 32 unforced error dari sang Amerika Serikat.
Di semifinal, Zverev akan menghadapi Arthur Fery, petenis tuan rumah berusia 22 tahun yang melintas melalui kualifikasi wildcard dan menciptakan sensasi dengan mengeliminasi pemain Top 10. Meskipun status favorit jelas ada di sisi Zverev, pengalaman menakutkan di final US Open 2020 dan French Open 2024 mengajarkan pada dia untuk tidak meremehkan lawan apapun. "Saya berharap bisa memainkan dua pertandingan lagi di sini," kata Zverev, menyiratkan ambisi gelar juara.
Implikasi ranking menambah narasi menarik. Jika Zverev berhasil mengangkat trofi di Minggu (13/7) mendatang, ia akan menggeser Carlos Alcaraz dan kembali menempati posisi ranking dua dunia — posisi yang terakhir ditempatinya pada Mei 2024. Ini akan menjadi validasi besar bagi proses rehabilitasi pasca cedera parah pergelangan kaki di Roland Garros 2022 yang sempat mengancam kariernya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, perjalanan Zverev menawarkan pelajaran tentang ketekunan dan adaptasi. Dari pemain yang dikritik lemah di Grand Slam dan rentan cedera, ia berevolusi menjadi salah satu pemain paling lengkap di era modern — servis andal, backhand dua tangan mematikan, dan kini ketahanan mental yang diuji api. Semifinal Wimbledon ini bukan hanya soal satu kemenangan, tapi bukti bahwa proses panjang, bahkan yang penuh kegagalan berulang terhadap lawan yang sama, bisa dibalikkan dengan persiapan yang tepat dan keyakinan diri yang dibangun kembali.