Olahraga

Will Jordan Cetak Sejarah 50 Try, All Blacks Hancurkan Italia 47-17 di Nations Championship

Will Jordan Cetak Sejarah 50 Try, All Blacks Hancurkan Italia 47-17 di Nations Championship

Ringkasan

  • Will Jordan pecahkan rekor try All Blacks dengan hat-trick saat Selandia Baru hancurkan Italia 47-17 di Nations Championship.
  • Era Dave Rennie berjalan lancar dengan dua kemenangan beruntun.

WELLINGTON – Will Jordan menorehkan namanya ke dalam buku sejarah rugby internasional setelah mencetak try ke-50 untuk Timnas Selandia Baru, memecahkan rekor lama Doug Howlett, saat All Blacks mengalahkan Italia dengan skor telak 47-17 pada laga Nations Championship di Wellington Regional Stadium, Sabtu (11/7). Pencapaian ini menegaskan dominasi Selandia Baru di rugby dunia serta menandai era baru di bawah pelatih baru Dave Rennie yang meraih dua kemenangan beruntun sejak debutnya.

Jordan, yang berusia 28 tahun, mencetak hat-trick dramatis di hadapan penonton setia di Wellington. Try pertamanya datang pada menit ke-30 berkat umpan cerdik Jordie Barrett yang menemukan Leroy Carter sebelum bola diserahkan ke sayap kanan. Dua try berikutnya dicetak dalam rentang tiga menit awal babak kedua (menit 51 dan 54), memancing standing ovation penuh hormat dari tribun. "Ini sangat merendahkan hati, menjadi sayap di ujung rantai kadang tidak terlihat," ujar Jordan pasca laga. "Saya berharap perjalanan ini menginspirasi anak-anak untuk berlatih chip-and-chase di halaman rumah dan bermimpi besar."

Posisi Jordan sebagai sayap kanan, bukan fullback seperti biasa, terbukti menjadi keputusan taktis brilian Rennie. Sejak digabungkan ke formasi baru, Jordan telah mencetak lima try dalam dua laga – termasuk ganda lawan Prancis pada kemenangan 34-32 minggu lalu di Christchurch. Kemampuannya membaca ruang, kecepatan eksekusi, dan finishing klinis menjadikannya senjata paling mematikan di arsenal All Blacks saat ini.

Italia memang memulai laga dengan semangat tinggi, mencetak try pertama melalui Tommaso Menoncello pada menit ke-2 setelah mengeksploitasi kekeliruan pertahanan tuan rumah. Namun, keunggulan fisik dan kedalaman squad Selandia Baru perlahan menguras stamina tamu. Sam Darry dan Cameron Roigard masing-masing mencetak try di awal babak pertama dan kedua, membangun momentum 26-10 sebelum keputusan krusial menentukan nasib laga.

Titik balik datang pada menit ke-52 saat Niccolò Cannone dikartu merah setelah meninju kepala Cameron Roigard di ruck. Keputusan wasit yang awalnya kartu kuning diubah menjadi merah oleh Television Match Official (TMO), memaksa Italia bermain dengan 14 orang saat tertinggal 26-10. Kehilangan seorang forward kunci menghancurkan struktur pertahanan dan scrum Italia, membuka celah lebar untuk All Blacks menyelesaikan laga dengan meyakinkan.

Di tengah dominasi All Blacks, ada momen emosional tersendiri saat Anton Segner debut internasional pada babak kedua, menjadi pemain kelahiran Jerman pertama yang memakai jersey hitam legendaris. Orang tuanya yang jauh dari Frankfurt hadir menyaksikan sejarah kecil itu, menambah warna kemanusiaan di balik kekejaman skor. Segner sendiri turun sebagai pengganti loose forward, menunjukkan kedalaman squad yang menjadi kekuatan tradisional Selandia Baru.

Jordie Barrett layak mendapat pujian tersendiri bukan hanya sebagai pencetak try, tapi sebagai arsitek serangan. Ia mencatat tiga assist untuk try Jordan, menunjukkan visi permainan dan kemampuan eksekusi di bawah tekanan. Peran ganda Barrett sebagai playmaker dan finisher memberikan fleksibilitas taktis yang sangat dibutuhkan Rennie dalam membangun pola serangan baru pasca era Ian Foster.

All Blacks menutup laga dengan try ke-7 melalui Tupou Vaa'i yang melesat melewati garis try setelah sirene berakhir, mengakhiri laga dengan skor 47-17. Italia hanya sempat menambah satu try lagi melalui Leonardo Marin pada menit ke-58 saat sudah bermain 14 orang. Dengan hasil ini, Italia mencatat rekor 0-2 di Nations Championship setelah sebelumnya kalah 27-10 dari Jepang, menandakan musim yang menantang bagi Azzurri.

Kemenangan ini menguatkan posisi Selandia Baru sebagai favorit utama di turnamen bergengsi ini, sekaligus memberikan keyakinan bagi Rennie bahwa sistem barunya berfungsi. Kombinasi pemain senior berpengalaman seperti Barrett, Brodie Retallick, dan Ardie Savea dengan bakat muda seperti Jordan, Segner, dan Roigard menciptakan keseimbangan ideal. Untuk Italia, laga ini menjadi pelajaran pahit tentang disiplin dan kedalaman squad saat menghadapi tim elite dunia.

Mengapa Ini Penting

Kemenangan dominan All Blacks dan rekor Will Jordan menegaskan kelangsungan tradisi keunggulan rugby Selandia Baru yang relevan bagi pengembangan olahraga di Indonesia. Sukses transisi era pelatih Dave Rennie menunjukkan pentingnya manajemen perubahan dan regenerasi pemain – pelajaran vital untuk federasi olahraga Indonesia. Penerapan teknologi TMO dalam keputusan kartu merah Cannone juga menyoroti peran video assistant referee dalam memastikan keadilan, topik hangat yang sedang dibahas di liga sepak bola domestik Indonesia.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
11 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →