Olahraga

UEFA Ancam Boikot Piala Dunia, Infantino Hadapi Krisis Kepemimpinan Terberat

Ringkasan

  • UEFA mengancam menarik 55 asosiasi anggotanya dari seluruh kompetisi FIFA jika Gianni Infantino memaksa rencana penjualan 20 persen saham anak perusahaan pengelola Piala Dunia kepada investor swasta, menciptakan konfrontasi paling berbahaya dalam tata kelola sepak bola global.

Pernyataan 11 kata yang diterbitkan UEFA pada Kamis, 31 Juli, mengubah lanskap sepak bola dunia dalam hitungan jam. "UEFA dan asosiasi nasionalnya tidak akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA," tulis badan penguasa sepak bola Eropa itu — ancaman paling keras yang pernah dilontarkan ke Zurich sejak kudeta Super League Eropa 2021 lalu.

Pemicunya adalah rencana Infantino menjual 20 persen saham di anak perusahaan baru yang akan mengelola seluruh aset kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada konsorsium investor swasta. Di antara nama yang tersorot: Joshua Kushner, saudara ipar Jared Kushner dan karenanya keponakan Donald Trump. Rencana itu dibahas tanpa konsultasi serius dengan konfederasi atau asosiasi nasional, memicu amarah yang meluas.

Latar belakang konflik ini bermula dari keinginan Infantino mengubah model pendanaan FIFA. Sejak terpilih 2016, pria berusia 56 tahun itu mendorong ekspansi turnamen: Piala Dunia 48 tim, Piala Dunia Klub 32 tim, dan kini rencanaliga klub global. Semua butuh dana masif. Infantino menjanjikan produk bernilai 40 miliar dolar (sekitar Rp 640 triliun) dalam surat ke asosiasi nasional — angka yang dianggap tidak realistis tanpa partisipasi Eropa.

UEFA menguasai 55 dari 211 asosiasi FIFA, namun dominasinya di lapangan tak tertandingi. Di tiga edisi turnamen flagship FIFA terakhir — Piala Dunia, Piala Dunia Putri, dan Piala Dunia Klub — Eropa menyumbang tiga dari empat semifinalis. Tanpa klub dan tim nasional Eropa, nilai komersial kompetisi FIFA akan runtuh, membuat janji 40 miliar dolar Infantino mustahil tercapai.

Batas waktu kritis jatuh pada 19 September. Sebelum tanggal itu, setiap asosiasi nasional harus memutuskan apakah menerima deals FIFA dan menerima suntikan dana 20 juta dolar (Rp 320 miliar) pada 1 Januari 2026. Jika mayoritas menerima, ancaman boikot UEFA akan diuji nyata di tengah turnamen: Piala Dunia U-20 Putri di Polandia berlangsung 5 September, diikuti play-off Piala Dunia Putri Oktober yang melibatkan Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Laura McAllister, wakil presiden UEFA dan mantan pemain Wales, mengakui dilema di BBC Radio 5 Live: "Wales berpeluang lolos ke Piala Dunia Putri pertama dalam sejarah. Tidak ada yang bisa membayangkan tidak berpartisipasi. Tapi ini bukan masalah UEFA. FIFA yang mendorong kita ke sudut ini."

Ketidakpuasan melampaui garis konfederasi. Debbie Hewitt, ketua FA Inggris sekaligus wakil presiden FIFA, menentang rtegas menentang rencana di pertemuan darurat UEFA. Mike Mulraney, presiden SFA Skotlandia yang juga mengkomite keuangan FIFA, menyatakan "setuju sepenuhnya" dengan posisi UEFA. Bahkan CONCACAF — konfederasi tuan rumah Piala Dunia 2026 — menolak usulan dengan 41 anggotanya.

Sumber di pertemuan darurat UEFA menggambarkan suasana dengan satu kata: "Amara." Bukan sekadar soal proposal, tapi cara Infantino memutuskan sendirian tanpa dialog dengan rekan-rekannya sendiri di Dewan FIFA. Pola ini mengingatkan pada gaya kepemimpinan yang memicu kudeta Super League — di mana Nasser Al-Khelaifi, kini ketua European Club Association (ECA) dengan 800 klub anggota, memainkan peran kunci menghancurkan proyek itu.

Nama Al-Khelaifi kini dibisikkan sebagai tantangan potensial bagi Infantino di kongres FIFA Maret 2026. Presiden PSG itu dianggap figur ideal: kuat di klub, dihormati di UEFA, dan memiliki jaringan global. Namun sumber dekatnya menegas: "Dia benar-benar, benar-benar, benar-benar tidak mau jabatan itu." Sejarah pun tidak mendukung: presiden FIFA titular terakhir kali kalah pemilu adalah Stanley Rous pada 1974.

David Bernstein, mantan ketua FA, menilai tegas: "Dalam organisasi normal, dia akan ditunjukkan pintu keluar. Tapi FIFA bukan organisasi normal. Jika dia punya dukungan cukup banyak asosiasi, dia akan bertahan." Kunci ada di 156 asosiasi non-UEFA — banyak di Afrika, Asia, dan Karibia yang bergantung pada dana FIFA Forward.

FIFA hingga kini diam. Respons resmi belum keluar dari Zurich. Namun tekanan meningkat: Sponsor besar mulai mengamati, dan media global mempertanyakan tata kelola. Jika Infantiro mundur atau mengubah rencana, otoritasnya tergerus. Jika memaksa, risiko pecahnya sepak bola global jadi nyata — skenario yang tidak diinginkan siapa pun, termasuk PSSI.

Bagi sepak bola Indonesia, krisis ini bukan sekadar drama Zurich. PSSI menerima dana FIFA Forward sekitar 8 juta dolar per siklus empat tahun — vital untuk pengembangan liga, fasilitas, dan timnas. Jika aliran dana terganggu akibat pecahnya FIFA-UEFA, program jangka panjang berisiko tertunda. Di sisi lain, AFC (Asia) belum mengeluarkan posisi resmi. Keputusan confederation Asia akan menentukan apakah Indonesia ikut boikot atau tetap berpartisipasi.

Pertemuan darurat FIFA Council mendatang akan menjadi ujian nyata. Apakah Infantino mundur, berkompromi, atau memaksa showdown? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola dunia untuk dekade ke depan — dan menentukan apakah mimpi Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 atau 2030 tetap berlandaskan struktur yang stabil, atau melayang di atas kekacauan politik.

Mengapa Ini Penting

Krisis ini mengancam aliran dana FIFA Forward yang menjadi tulang punggung pengembangan sepak bola Indonesia — sekitar Rp 128 miliar per siklus. Jika UEFA benar-benar boikot, nilai sponsor dan TV Piala Dunia akan anjlok, berdampak pada pembagian hadiah yang diterima PSSI. Lebih jauh, pecahnya konsensus global bisa melumpuhkan kalender internasional, mengganggu kualifikasi Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026. Posisi AFC yang belum jelas menempatkan Indonesia di zona abu-abu: ikut boikot berisiko kehilangan dana, ikut FIFA berisiko isolasi dari Eropa. Keputusan PSSI minggu depan akan menguji kematangan diplomasi sepak bola nasional.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit