Elkan Baggott membuka hati soal perjalanan karirnya bersama Timnas Indonesia dalam wawancara terbaru dengan Southwark News. Pemain berpostur 196 sentimeter itu mengakui momen lolos ke babak 16 besar Piala Asia 2023 di Qatar menjadi puncak emosional sejak debut November 2021. Indonesia membuat sejarah sebagai tim Asia Tenggara pertama yang melaju ke fase knockout turnamen bergengsi itu.
"Saya akan katakan momen favorit bersama Timnas Indonesia adalah ketika lolos ke babak 16 besar Piala Asia. Itu merupakan kali pertama kami melaju ke fase knockout," ujar Baggott dengan nada bangga. Kenangan itu mengalahkan pengalaman lain yang tak kalah bersejarah, yakni laga persahabatan melawan Argentina pasca-julang Piala Dunia 2022. Bek Millwall FC mengaku merasa terhormat menghadapi juara dunia di kandang sendiri, meski hasil akhirnya kekalahan.
Perjalanan Baggott ke Millwall bermula dari keputusannya meninggalkan Ipswich Town musim lalu. Di Portman Road, sang pelatih Kieran McKenna telah menempatkannya sebagai pilihan keempat di lini bek tengah. Klub bahkan menyiapkan skenario di mana Baggott hanya akan mendapat enam hingga sepuluh pertandingan hingga musim berakhir. "Saya tidak akan berbohong, situasi itu membuat frustrasi," tuturnya tulus.
Kepindahan ke The Den dinilai sebagai langkah strategis bagi karier pemain berusia 23 tahun itu. Di Championship, intensitas kompetisi jauh lebih tinggi dibanding Liga 1, dan Baggott butuh menit bermain konsisten untuk mempertahankan performa di kancah internasional. Millwall menawarkan jaminan waktu main yang tidak bisa diberikan Ipswich, meski The Tractor Boys baru naik ke Premier League.
Data menunjukkan Baggott telah mencatat 27 penampilan berseragam Merah Putih. Angka itu cukup signifikan mengingat ia baru debut usia 19 tahun di bawah asuhan Shin Tae-yong. Kini di bawah pimpinan Patrick Kluivert, perannya semakin vital di lini belakang bersama Justin Hubner dan Jay Idzes. Ketiganya membentuk benteng yang relatif stabil di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Keputusan berpindah klub juga mencerminkan maturitas profesional Baggott. Banyak pemain Indonesia keturunan yang memilih bertahan di klub besar Eropa meski jarang bermain, justru merusak perkembangan jangka panjang. Baggott memilih jalur lain: mencari lingkungan yang menghargai kontribusinya. Millwall, klub dengan tradisi keras dan fansetia, cocok dengan gaya bermain fisik dan mentalitas juang yang dibawanya.
Dari perspektif Timnas, keberadaan Baggott di Championship adalah aset strategis. Liga kedua Inggris dikenal sebagai liga paling fisik dan tak terduga di dunia, melatih pemain untuk siap menghadapi tekanan tinggi di kualifikasi Piala Dunia. Lawan-lawannya seperti Korea Selatan, Jepang, atau Australia menuntut kecepatan, kekuatan duel udara, dan ketahanan mental — semua diasah di Championship minggu demi minggu.
Sementara itu, kenangan laga kontra Argentina Juni 2023 di Jakarta tetap terukir. Indonesia kalah 0-2, tapi Baggott dan rekan-rekan mendapat pengalaman tak ternilai: berhadapan dengan Lionel Messi, Angel Di Maria, dan bintang-bintang lain. "Kami adalah lawan pertama atau kedua mereka dalam ekshibisi itu. Hal tersebut jadi pengalaman hebat," kenangnya. Momen itu juga membuktikan daya tarik brand Timnas Indonesia di mata dunia.
Kembali ke Asian Cup 2023, lolos ke 16 besar bukan hanya soal prestasi, tapi juga validasi proyek naturalisasi yang dikritik banyak pihak. Baggott, bersama Rafael Struick, Sandy Walsh, dan lainnya, membuktikan pemain keturunan bisa menyatu dengan anak asuh lokal. Kim Shin-woon, bek Korea Selatan yang pernah main di Liga 1, sempat puji disiplin taktis Baggott di turnamen itu.
Musim 2026/2027 akan menjadi uji nyata bagi Baggott di Millwall. Kontrak baru, pelatih baru, dan tekanan untuk tampil konsisten menanti. Jika berhasil mengunci posisi main, ia akan datang ke window FIFA Oktober dan November 2026 dalam kondisi fisik puncak — modal penting bagi Indonesia yang berburu tiket ke Piala Dunia 2026 lewat play-off.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Baggott adalah pengingat bahwa karir profesional butuh keberanian ambil risiko. Tinggalkan zona nyaman di klub Premier League untuk main rutin di Championship bukan keputusan mudah. Tapi seperti yang dikatakannya: "Saya tidak ingin jadi cadangan mati." Mentalitas itulah yang membedakan pemain biasa dan pemain yang benar-benar serius dengan karier serta komitmen ke Timnas.