Tottenham Hotspur resmi menjalin kesepakatan dengan Manchester City untuk merekrut Savinho senilai 75 juta paun, atau sekitar Rp 1,8 triliun, ditambah potensi bonus 10 juta paun. Penyerang Brasil itu kini hanya menunggu tes medis dan penyelesaian administrasi sebelum resmi bergabung ke North London. Kesepakatan ini tercapai setelah musim panas lalu Spurs gagal menggaet pemain berusia 20 tahun tersebut.
Menurut laporan Sky Sports, negosiasi berlangsung cukup singkat setelah Tottenham mengajukan penawaran yang memenuhi valuasi The Citizens. Savinho yang diboyong City dari Girona musim lalu dinilai belum siap untuk menjadi pilihan utama di bawah Pep Guardiola, sehingga peminjaman ke klub induk City Football Group menjadi solusi pengembangan. Tottenham melihat peluang untuk mengakuisisi bakat muda dengan potensial tinggi tanpa harus bersaing dengan raksasa Eropa lain.
Rekrutan ini menjadi bagian dari strategi agresif Tottenham musim panas ini. Sebelum Savinho, klub tersebut sudah mengeluarkan lebih dari 237 juta paun untuk tiga nama: Jean Paul van Hecke, Mateus Fernandes, dan Sandro Tonali. Belum lagi kedatangan dua pemain bebas transfer, Andy Robertson dan Marcos Senesi, yang menambah kedalaman squad tanpa biaya transfer. Total pengeluaran Spurs mendekati 250 juta paun, angka yang tidak pernah tercapai dalam satu jendela transfer sebelumnya.
Latar belakang splurge belanja ini jelas: dua musim terakhir Tottenham mengalami penurunan performa drastis. Musim 2023-2024 mereka nyaris terdegradasi, selamat hanya berkat gol terakhil lawan sendiri. Musim sebelumnya posisi mereka juga mengerikan di zona bawah klasemen. Manajemen klub memahami bahwa status quo berarti risiko degradasi nyata, yang akan menghancurkan keuangan dan daya tarik klub bagi pemain berbakat.
Ange Postecoglou, manajer Spurs, meminta dukungan penuh dari direksi untuk membangun tim yang mampu bersaing di empat lini depan. Filosominya yang menuntut intensitas pressing dan transisi cepat membutuhkan pemain dengan profil spesifik: cepat, teknis, dan tahan mental. Savinho cocok ke dalam cetakan itu. Di musim pinjaman ke Girona, ia mencatat 11 gol dan 10 assist di La Liga, membuktikan kemampuan menciptakan peluang dan menyelesaikan di level tertinggi.
Dampak kehadiran Savinho tidak hanya sekadar menambah opsi sayap. Ia membawa dimensi satu lawan satu yang langka di squad Tottenham saat ini. Brennan Johnson dan Dejan Kulusevski lebih nyaman bermain di dalam atau sebagai playmaker, sedangkan Son Heung-min sering ditarik ke posisi tengah. Savinho memberikan lebar alami di sisi kanan, memaksa pertahanan lawan melebar dan menciptakan ruang untuk pergerakan tengah.
Di sisi Manchester City, pelepasan Savinho menunjukkan manajemen aset yang cerdas. City membelinya dari Troyes sekitar 21 juta paun, meminjamkan ke PSV Eindhoven lalu Girona, dan kini menjual dengan keuntungan signifikan. Model ini — membeli muda, meminjamkan untuk pengembangan, menjual dengan margin tinggi — menjadi template bisnis City Football Group. Tottenham mendapat pemain yang sudah terbukti di Liga Champions dan La Liga tanpa risiko adaptasi panjang.
Namun, tantangan adaptasi tetap ada. Premier League lebih fisik dan cepat dibanding La Liga. Savinho harus membuktikan konsistensi di liga yang tidak memberi ruang dan waktu. Postecoglou dikenal sabar mengembangkan pemain muda — lihat perkembangan Destiny Udogie dan Micky van de Ven — tetapi tekanan untuk instan berprestasi di klub besar berbeda.
Negosiasi lanjutan untuk Omar Marmoush menunjukkan Tottenham belum puas. Striker Eintracht Frankfurt itu menawarkan profil penyerang penuh yang saat ini tidak dimiliki Spurs. Richarlison sering cedera, dan Son sudah berusia 32 tahun. Marmoush, yang mencatat 17 gol di Bundesliga musim lalu, akan melengkapi puzzle serangan Postecoglou. Jika kedua deal diselesaikan, Tottenham akan memiliki kedalaman squad yang menakutkan.
Perspektif penggemar Indonesia, transfer ini menarik karena melibatkan nama-nama yang familiar di layar TV berlangganan lokal. Liga Inggris tetap liga paling ditonton di Indonesia, dan perpindahan bintang muda seperti Savinho menciptakan naratif baru untuk diikuti. Kehadiran pemain Brasil juga menambah daya tarik emosional bagi penggemar yang dekat dengan gaya bermain samba.
Ke depan, fokus bergeser ke integrasi taktis. Pre-season tour ke Asia dan Eropa akan menjadi uji coba pertama sistem Postecoglou dengan rekrutan baru. Keseimbangan antara kebutuhan instan hasil dan pengembangan jangka panjang akan menguji kebijaksanaan manajemen. Jika Savinho dan rekan-rekannya cepat beradaptasi, Tottenham berpeluang kembali ke Liga Champions — target minimal yang wajar untuk investasi sebesar ini.