Era emas Timnas Argentina resmi menutup lembaran sejarahnya setelah Lionel Messi melakoni laga perpisahan saat mengalahkan Benin 3-0 di Stadion Monumental, Selasa (6/10/2026). Penampilan ke-208 tersebut menjadi tanda berakhirnya pengabdian 21 tahun La Pulga bersama Albiceleste. Kepergian sang megabintang bukan hanya meninggalkan lubang di lini serang, tetapi juga menciptakan kekosongan simbolis pada jersei nomor 10 yang begitu sakral di sepak bola Argentina.
Nomor punggung 10 di Argentina bukan sekadar angka di atas kain. Warisan Diego Maradona yang kemudian diteruskan dengan sempurna oleh Messi membuat siapa pun pemakainya di masa depan akan memikul ekspektasi yang sangat berat. Secara regulasi, FIFA mewajibkan setiap tim nasional mengalokasikan nomor punggung 1 hingga 23 untuk pemain dalam skuad mereka. Artinya, Argentina tidak bisa memensiunkan nomor 10 sebagai bentuk penghormatan, dan harus ada pemain baru yang berani memakainya.
Regulasi ketat FIFA ini memaksa federasi sepak bola Argentina (AFA) untuk segera menentukan suksesor. Tantangannya bukan hanya soal teknis di lapangan, melainkan beban mental menghadapi bayang-bayang dua legenda terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Publik Argentina dikenal sangat emosional dan memiliki standar tinggi terhadap siapapun yang mengenakan seragam kebanggaan mereka, apalagi dengan nomor keramat tersebut.
Tiga kandidat utama kini muncul ke permukaan sebagai calon kuat penerus warisan tersebut. Franco Mastantuono, pemain muda berusia 19 tahun, menjadi nama yang paling mencuri perhatian karena ia adalah sosok terakhir yang sempat mengenakan nomor 10 di timnas selain Messi. Meski baru mencatatkan enam caps, performa impresifnya bersama Fiorentina musim ini menunjukkan potensi besar untuk menjadi tulang punggung Argentina di masa depan.
Di sisi lain, Enzo Fernandez menawarkan kematangan yang lebih teruji. Sebagai gelandang berpengalaman dengan 50 caps, ia memiliki profil yang paling stabil untuk memimpin lini tengah Argentina pasca-Messi. Walaupun selama ini identik dengan nomor 24, perannya yang fleksibel sebagai gelandang serang maupun pengatur irama permainan menjadikannya kandidat yang paling masuk akal secara taktis untuk mengemban tanggung jawab nomor 10.
Kandidat ketiga adalah Nico Paz, gelandang berusia 22 tahun yang kini bersinar bersama Como. Dengan 13 caps dan tiga gol, Paz diproyeksikan sebagai motor serangan baru. Namun, minimnya pengalaman internasional dibandingkan Enzo Fernandez mungkin membuat AFA lebih berhati-hati dalam memberikan nomor tersebut kepadanya. Paz dinilai sebagai talenta masa depan yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tekanan besar di timnas senior.
Bagi industri sepak bola Indonesia, fenomena suksesi nomor punggung legendaris ini memberikan pelajaran berharga tentang manajemen regenerasi pemain. Di Indonesia, nomor punggung sering kali dianggap sebagai identitas personal, namun jarang ada beban historis seberat nomor 10 Argentina. Kita melihat bagaimana pemain muda di Liga 1 sering kali kesulitan ketika harus menggantikan peran senior yang telah menjadi ikon klub, sebuah dinamika yang serupa dengan apa yang terjadi di Buenos Aires.
Perbandingan ini menarik jika dikaitkan dengan bagaimana klub-klub lokal mengelola ekspektasi suporter. Ketika seorang pemain muda di Indonesia mewarisi nomor punggung ikonik, tekanan media sosial sering kali menjadi faktor penghambat perkembangan karier mereka. Argentina, dengan budaya sepak bola yang jauh lebih fanatik, akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana mentalitas pemain muda dibentuk di bawah bayang-bayang legenda.
Secara strategis, AFA kemungkinan akan memberikan nomor 10 kepada pemain yang paling siap secara mental, bukan sekadar berbakat secara teknis. Enzo Fernandez muncul sebagai opsi paling aman untuk menjaga stabilitas tim. Sementara itu, Mastantuono dan Paz dipersiapkan untuk jangka panjang, di mana salah satu dari mereka bisa saja mengambil alih nomor tersebut setelah transisi kepemimpinan di timnas benar-benar stabil.
Keputusan ini akan menjadi salah satu momen paling dinanti dalam sejarah sepak bola Argentina pasca-Messi. Pemilihan suksesor ini bukan sekadar soal distribusi logistik perlengkapan tim, melainkan pernyataan visi tentang arah permainan Argentina di masa depan. Apakah mereka akan mengandalkan sosok pemimpin yang matang atau justru memberikan kepercayaan penuh kepada talenta muda yang eksplosif?
Tren sepak bola modern saat ini memang menuntut fleksibilitas posisi, sehingga nomor punggung tidak lagi sekadar menunjukkan posisi pemain di lapangan. Namun, bagi Argentina, nomor 10 tetap memiliki makna kultural yang tidak bisa dihilangkan. Transisi ini akan menjadi ujian bagi mentalitas para pemain muda Argentina dalam menghadapi warisan sejarah yang begitu besar.
Ke depan, kita akan melihat bagaimana AFA menyeimbangkan antara penghormatan terhadap sejarah dan kebutuhan untuk terus melakukan pembaruan di dalam skuad. Siapa pun yang nantinya terpilih, ia akan memulai babak baru yang penuh tantangan. Argentina tidak hanya kehilangan seorang pemain, mereka kehilangan sosok pemersatu, dan mencari penggantinya adalah langkah krusial untuk menjaga supremasi mereka di kancah internasional.