Pasukan Garuda resmi meninggalkan Jakarta menuju Thailand pada Kamis (30/7) menggunakan pesawat carter untuk melanjutkan perjuangan di Piala AFF 2026. Keberangkatan ini dikonfirmasi Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji, yang memastikan seluruh pemain berangkat kecuali Justin Hubner. Laga kontra Timor Leste dijadwalkan digelar Jumat (31/7) di Stadion Chonburi, menjadi uji kedua bagi tim Patrick Herdman setelah kemenangan gemilang 5-1 atas Kamboja pada laga pembuka.
Ketiadaan Hubner menjadi catatan utama dalam delegasi ke Thailand. Pemain belakang Fortuna Sittard itu hingga hari ini belum menerima surat izin dari klubnya untuk memperkuat Merah Putih. Kondisi ini memaksa Herdman menyusun lini belakang tanpa salah satu opsi naturalisasi terbaik. Sumardji menegaskan keputusan klub Eredivisie itu final dan tidak ada pergerakan terbaru soal pelepasan pemain berusia 21 tahun tersebut.
Piala AFF 2026 berlangsung dengan format turnamen yang ketat, mengharuskan tim memiliki kedalaman skuad yang mumpuni. Herdman sejak awal menerapkan sistem rotasi untuk menjaga kebugaran pemain utama di tengah jadwal padat. Di laga perdana lawan Kamboja, pelatih asal Selandia Baru sengaja tidak memasukkan Marselino Ferdinan, Muhammad Riyandi, dan Hubner ke dalam daftar 23 pemain. Strategi itu terbukti ampuh dengan penampilan Mitchell Baker yang mencetak hat-trick, didukung gol Sandy Walsh dan Jens Raven.
Kebijakan rotasi ini bukan sekadar manajemen stamina, tapi juga respons terhadap realitas sepak bola Indonesia modern yang mengandalkan banyak pemain naturalisasi. Klub-k Klub Eropa sering kali menolak melepaskan pemain untuk turnamen non-FIFA Date seperti Piala AFF. Kasus Hubner bukan yang pertama — sebelumnya Elkan Baggott, Shayne Pattynama, hingga Jordi Amat pernah menghadapi hambatan serupa. Hal ini menciptakan ketidakpastian bagi pelatih nasional dalam menyusun rencana jangka panjang.
Tanpa Hubner, Herdman harus mengandalkan pasangan sentral pertahanan yang terbukti solid lawan Kamboja. Ketersediaan Marselino dan Riyandi yang ikut berangkat memberikan opsi tambahan di sektor tengah dan gawang. Mitchell Baker yang kini menjabat sebagai penyerang sayap sekaligus playmaker cadangan menunjukkan fleksibilitas taktis yang sangat dibutuhkan. Penemuan Jens Raven sebagai penyerang target man yang efektif juga memperkaya variasi serangan.
Dampak ketiadaan Hubner terasa lebih pada opsi cadangan dan variasi taktis daripada starting eleven. Fortuna Sittard memang sedang dalam masa persiapan musim baru Eredivisie, sehingga prioritas klub adalah kebugaran dan adaptasi pemain di pra-musim. Persoalan ini menyoroti kelemahan sistem: tidak adanya jadwal FIFA Date resmi untuk Piala AFF membuat negara-negara ASEAN kalah bersaing menarik pemain naturalisasi dibanding turnamen seperti Piala Asia.
Sumardji mengakui situasi ini sudah jadi keniscayaan. "Semua berangkat ya. Hanya Hubner yang tidak. Klubnya hingga saat ini belum kasih izin," ujarnya singkat saat dikonfirmasi. Sikap tegas klub Indonesia yang menolak melepaskan pemain untuk kebutuhan timnas justru kontras dengan kebijakan klub asing. Ironisnya, PSSI sendiri sering kali kesulitan memaksa klub Liga 1 melepaskan pemain untuk latihan timnas di luar jadwal FIFA.
Di sisi lain, keberhasilan Herdman mengelola skuad 26 pemain dengan rotasi cerdas layak mendapat apresiasi. Ia berhasil mengubah keterbatasan jadi keuntungan: pemain cadangan mendapat menit bermain berharga, sementara bintang utama Istirahat. Pola ini mirip dengan yang diterapkan negara-negara besar di turnamen kontinental. Jika Indonesia lolos ke babak knockout, manajemen stamina ini akan jadi aset vital.
Proyeksi ke depan, laga lawan Timor Leste menjadi tes karakter. Timor Leste dikenal bermainkan fisik dan konter cepat — lawan yang cocok untuk menguji ketahanan mental dan disiplin taktis tanpa Hubner. Jika Indonesia lolos ke semifinal, pertemuan potensial dengan Thailand atau Vietnam akan menuntut kesiapan penuh. Masih ada harapan Hubner bergabung di babak selanjutnya jika Fortuna Sittard mengubah keputusan, tapi Herdman sudah menyiapkan skenario tanpa skenario tanpa pemain tersebut.
Jangka panjang, kasus Hubner mengingatkan PSSI untuk menyusun memorandum of understanding (MoU) dengan klub-k klub Eropa yang mempekerjakan pemain naturalisasi Indonesia. Tanpa kerangma hukum yang mengikat, timnas akan selalu bermain di atas ketidakpastian. Piala AFF 2026 ini jadi momentum untuk membuktikan bahwa sistem rotasi dan pengembangan pemain lokal seperti Raven, Baker, hingga Marselino bisa jadi tulang punggung timnas, dengan atau tanpa naturalisasi puncak.