Pelatih kepala David Singleton mengonfirmasi kesiapan skuad Garuda usai menjalani pemusatan latihan selama hampir satu bulan di Dewa United Arena, Tangerang. Proses persiapan itu dipenuhi empat laga uji coba yang dirancang untuk menguji sistem permainan dan membangun kimia tim sebelum bertarung di ajang resmi FIBA.
Indonesia akan membuka kampanye melawan Singapura pada 28 Agustus, lalu berhadapan dengan Hong Kong dua hari kemudian, dan menutup fase grup melawan tuan rumah Malaysia pada 31 Agustus. Format kompetisi mewajibkan Indonesia finis di tiga posisi teratas untuk melaju ke ronde berikutnya, tugas yang dinilai realistis mengingat sejarah pertemuan lawan-lawannya.
Kebijakan IBL yang mengizinkan jeda kompetisi domestik sejak awal Agustus berperan krusial. Selama masa FIFA window ini, klub-klub melepaskan pemain inti mereka tanpa hambatan, memungkinkan Singleton melatih 12 pemain terpilih dengan intensitas penuh. Kolaborasi liga dan federasi ini menjadi salah satu kunci persiapan yang lebih terstruktur dibandingkan era sebelumnya.
Empat laga uji coba memberikan gambaran nyata kemampuan tim. Dua pertemuan melawan Timnas Singapura berfungsi sebagai simulasi langsung lawan pertama, sementara duel dengan RANS Simba Bogor dan Pelita Jaya Jakarta — dua klub terkuat IBL — menguji ketahanan fisik dan eksekusi taktis di bawah tekanan tinggi. Singleton menilai pemain menunjukkan progresif, baik di sisi pertahanan transisi maupun efisiensi serangan setengah lapangan.
Daftar 12 pemain mencerminkan pendekatan seimbang antara pengalaman dan regenerasi. Anthony Beane sebagai naturalized player menjadi pelopor serangan, didukung playmaker Yudha Saputera dan penembak Argus Sanyudi. Di garis depan, Reza Guntara, Hendrick Yonga, dan Dame Diagne membentuk rotasi big man yang fleksibel, mampu bermain pick-and-roll maupun spacing ke perimeter.
Kendati optimis, tantangan terbesar hadir dari faktor psikologis bermain di hadapan penonton tuan rumah Malaysia. Sejarah pertemuan terakhir di kualifikasi FIBA Asia Cup 2022 menunjukkan Malaysia mampu mengekploitasi keuntungan homecourt hingga menewaskan Indonesia di fase grup. Singleton menyadari hal ini dan menanamkan mentalitas "road warrior" sejak latihan: fokus pada eksekusi, bukan atmosfer.
Singapura dan Hong Kong, meski diprediksi lebih lemah, tidak boleh diremehkan. Singapura memiliki sistem yang disiplin di bawah pelatih mereka, sedangkan Hong Kong mengandalkan kecepatan guard mereka. Kunci Indonesia terletak pada konsistensi pertahanan 40 menit dan menghindari turnover sembarangan yang memicu fast break lawan.
Jika lolos ke Putaran 2, Indonesia akan berpeluang bertemu tim-tim berkualitas lebih tinggi seperti Korea Selatan, Jepang, atau Filipina di jalan menuju FIBA Asia Cup 2029. Oleh karena itu, kampanye di Seremban bukan hanya soal lolos grup, tapi juga momentum membangun kepercayaan diri jangka panjang untuk menghadapi lawan bergengsi di benua Asia.
Federasi Bola Basket Indonesia (Perbasi) turut memberikan dukungan penuh, termasuk fasilitas medis dan analisis video lawan yang komprehensif. Staf pendamping tim mencakup asisten pelatih, fisioterapis, dan analis performa — struktur profesional yang mulai menjadi standar baru dalam manajemen timnas era Singleton.
Keberangkatan batch pertama pada 26 Agustus menandai titik balik dari persiapan ke eksekusi nyata. Untuk pecinta basket Indonesia, ajang ini menjadi barometer kemajuan program regenerasi yang digulirkan sejak dua tahun lalu. Kemenangan di Malaysia akan memvalidasi arah pengembangan yang diambil Perbasi dan IBL bersama-sama.
Mata kini tertuju ke Seremban. Tiga pertandingan dalam empat hari akan menguji kedalaman skuad, manajemen stamina, dan kemampuan Singleton melakukan ajustasi taktis antar laga. Hasilnya akan menentukan apakah basket Indonesia terus melangkah naik, atau harus menunggu siklus berikutnya untuk membuktikan diri di panggung Asia.