Timnas Voli Putra Indonesia kembali menunjukkan dominasi di laga persahabatan kedua melawan Kamboja. Bertanding di National Olympic Stadium, Phnom Penh, Selasa (25/8) malam, Merah Putih menang 3-0 dengan skor set 25-18, 25-19, 25-22. Kemenangan ini mengulang hasil leg pertama di mana Indonesia juga memenangi tiga set langsung tanpa kehilangan set pun.
Kedua tim bertemu lagi setelah 24 jam istirahat. Jika di laga pertama Indonesia sedikit kesulitan di set kedua (26-24), kali ini permainan Tim Merah Putih terlihat lebih terkendali. Tiga set berlangsung di bawah 25 menit masing-masing, menandakan efisiensi serangan dan block yang matang. Pelatih tim nasional, Jiang Jie, memanfaatkan momen ini untuk memutar pemain dan mencoba variasi formasi.
Laga ini menjadi bagian dari seri uji coba intensif menjelang jadwal internasional padat. Indonesia menargetkan kualifikasi ke Kejuaraan Asia 2027 serta penampilan optimal di SEA Games 2025. Lawan seperti Kamboja — yang saat ini menduduki peringkat 60 dunia — dipilih untuk membangun ritme permainan tanpa tekanan hasil. Namun, timnas tidak bermain santai; mereka memaksakan tempo tinggi sejak servis pertama.
Di set pembuka, Indonesia langsung tancap gas memimpin 16-10 berkat variasi serangan dari kedua sayap. Kamboja sempat mengejar hingga 18-21 setelah serangkaian kesalahan tidak terpaksa dari tim tamu. Pada momen kritis, Hendra Kurniawan muncul dengan dua poin beruntun — satu lewat spike keras dan satu lewat block — menutup set 25-18. Kestabilan emosional Hendra di akhir set menjadi indikasi kematangan mental pemain muda.
Set kedua berlangsung lebih ketat di awal, skor 5-4 untuk Indonesia. Kemudian, Fahri Septian memimpin gelombang serangan yang menghancurkan pertahanan lawan. Spike kanan Fahri yang melesat ke sudut lapangan menutup set 25-19. Dia mencatat 6 poin di set ini, paling banyak di antara pemain. Kontribusi Fahri tidak hanya di poin, tapi juga menciptakan ruang untuk penyerang tengah seperti Farhan Halim.
Set ketiga menjadi paling dramatis. Kamboja bangkit memimpin 11-9 setelah memanfaatkan kelelahan blok Indonesia. Rama Fazza lalu mengubah momentum dengan dua service ace beruntun, menyamakan skor 12-12. Di poin krusial 23-22, Indonesia menunjukkan komposisi: servis Rama memaksa resep tidak sempurna, Farhan mengangkat bola tinggi ke zona 4, dan Fahri menutup laga dengan spike anggun 25-22.
Statistik akhir menunjukkan keunggulan total: Indonesia mengumpulkan 42 poin serangan lawan 28, block 8-3, dan servis ace 5-1. Efisiensi serangan Tim Merah Putih mencapai 58%, jauh di atas rata-rata internasional 45%. Angka ini membuktikan bahwa sistem permainan yang dibangun Jiang Jie mulai mengakar, meski lawan belum mewakili level elit Asia.
Namun, kemenangan mulus ini menyimpan catatan kaki. Di set ketiga, penerimaan servis Indonesia sempat goyah saat Kamboja menargetkan zona 1 dan 6. Beberapa kali libero Doni Haryono terlambat bereaksi, memaksa seter Jasen Natanael mengangkat bola darurat. Kelemahan di lini belakang ini bisa dieksploitasi lawan berkualitas lebih tinggi seperti Iran atau Jepang.
Dari sisi Kamboja, meski kalah 0-6 dalam dua laga, mereka menunjukkan perbaikan di aspek fisik dan mental. Pelatih mereka, Li Qiujiang, mengakui kesenjangan kelas namun puas dengan perlawanan pemainnya di set ketiga. Bagi Indonesia, lawan semacam ini berguna untuk menguji kedalaman skuad, tapi tidak cukup sebagai parameter kesiapan turnamen besar.
Mengakhiri rangkaian uji coba di Phnom Penh, timnas akan pulang ke Jakarta untuk mempersiapkan training camp berskala nasional bulan depan. Fokus berikutnya: memperkuat penerimaan servis dan variasi tempo serangan dari posisi tengah. Jadwal resmi FIBA (kesalahan: seharusnya AVC) untuk kualifikasi Kejuaraan Asia diharapkan diumumkan kuartal pertama 2027, memberi waktu sekitar delapan bulan untuk menyempurnakan sistem.
Kemenangan 3-0 dua kali berturut-turut bukan hanya soal poin, tapi membangun kepercayaan diri kolektif. Pemain muda seperti Rama Fazza dan Hendra Kurniawan mendapat menit bermain berharga di tingkat senior. Jika manajemen tim mampu menyusun jadwal lawan yang progresif — mulai dari tim Asia Tengah, lalu Asia Timur — Indonesia punya peluang nyata naik kelas di peta voli Asia tahun depan.