Thom Haye tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan jejak di Piala AFF 2026. Pada debut turnamennya, gelandang naturalisasi kelahiran Amsterdam itu mengirimkan tiga umpan gol ke Mitchell Baker, membuka peluang hattrick bagi striker kelahiran Australia tersebut. Kemenangan 5-1 atas Kamboja di Stadion Pakansari, Cibinong, bukan sekadar hasil besar — ia menjadi bukti nyata kimia tim yang dibangun John Herdman berjalan cepat.
Lima gol Indonesia tersebar merata: tiga milik Baker, satu Sandy Walsh, dan satu Jen Raven. Namun angka yang menarik perhatian bukan jumlah gol, melainkan cara gol-gol itu tercipta. Haye memainkan peran arsitek di lini tengah, membaca ruang, dan mengeksekusi umpan dengan presisi tinggi. Tiga assist dalam satu pertandingan debut — rekor yang belum pernah diraih pemain Indonesia sejak Piala Tiger 1996.
Sejarah turnamen ini memang penuh skor besar. Indonesia pernah menghancurkan Filipina 13-1 pada 2002, Thailand menundukkan Myanmar 10-0 pada tahun yang sama, dan Singapura mencatatkan 11-0 atas Laos 2007. Namun dalam semua pesta gol tersebut, tidak ada satu pun pemain yang mencatat tiga assist dalam laga pertamanya. Haye menulis babak baru.
Kendati demikian, rekor assist tunggal pertandingan di Piala AFF masih di tangan kolektif tim-tim yang menciptakan kemenangan telak tersebut. Apa yang membedakan Haye adalah efisiensi: ia hanya butuh 90 menit debut untuk mengumpulkan angka yang biasanya dibutuhkan seluruh turnamen. Persib Bandung, klub induknya, pasti merasa tenang melihat investasi mereka berbuah manis di kancah internasional.
Di sisi lawan, Kamboja tampak tidak punya jawaban atas tekanan tinggi Indonesia. Pelatih Kim Sang-sik terlihat pusing di bangku cadangan, sebuah gambaran yang dikonfirmasi media Vietnam usai laga. Timnas Kamboja yang dikukuhkan sebagai tim pengembang justru jadi korban eksperimen sistem Herdman yang agresif. Kegagalan mereka menutupi lini tengah jadi kunci kebocoran pertahanan.
John Herdman sendiri mengungkapkan setelah laga bahwa ia memiliki "enam pemimpin" di tim. Haye jelas termasuk dalam kategori itu. Pengalaman bermain di Eredivisie dan Liga Belanda memberi dia kematangan taktis yang langka pada usia 27 tahun. Ia tidak hanya mengoper — ia mengatur tempo, menarik penanda, menciptakan ruang untuk Walsh dan Raven bergerak bebas di sayap.
Media Malaysia yang biasanya kritis terhadap Timnas Indonesia justru menyoroti hattrick Baker sebagai bukti kedalaman skuad Garuda. Ini menandakan pergeseran naratif regional: Indonesia tidak lagi dilihat sebagai tim yang bergantung pada satu bintang, melainkan unit yang memiliki banyak senjata. Baker, Walsh, Raven, dan Haye — keempatnya bisa jadi penentu laga kapan saja.
Proyeksi ke depan, pertanyaan bukan apakah Haye bisa mempertahankan angka assist, tapi bagaimana lawan akan menanggulanginya. Vietnam, Thailand, dan Malaysia pasti sudah menyiapkan skema khusus untuk memblokir jalur umpan gelandang Persib itu. Herdman harus punya variasi: menarik Haye ke belakang, memakai double pivot, atau memanfaatkan ruang yang tertinggal saat lawan terlalu fokus pada dia.
Bagi penggemar Indonesia, debut Haye menjawab keraguan soal naturalisasi. Bukan sekadar pemain paspor, ia hadir dengan kualitas yang langsung mengubah dinamika tim. Rekor tiga assist debut bukan puncak, melainkan permulaan. Jika Indonesia benar-benar menargetkan trofi AFF pertama sejak 2016, Haye harus konsisten — dan tim harus belajar bermain tanpa bergantung sepenuhnya pada kreativitasnya.