Jakarta, CNN Indonesia -- Legenda sepak bola Prancis dan bekas pemain Barcelona, Thierry Henry, kembali mengekspresikan kagumnya terhadap keistimewaan Lionel Messi. Pujian itu dilontarkan usai La Pulga memimpin Argentina mengalahkan Mesir 3-2 dalam laga dramatis babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Lusail, Selasa (7/7) waktu setempat. Kemenangan itu mengantarkan Albiceleste ke perempat final dan memperpanjang mimpi pertahanan gelar juara dunia.
Dalam analisis pasca pertandingan di saluran televisi Spanyol, Henry menggunakan metafora sinematik untuk menggambarkan performa Messi. "Kita berada di wilayah Hollywood dan apa yang dilakukan Messi tampak seperti skenario film yang tak seorang pun akan percaya mungkin terjadi," ujar mantan kapten Arsenal itu. Pernyataan Henry bukan sekadar hiperbola, melainkan cerminan dari alur cerita yang memang penuh drama: Messi sempat gagal mengeksekusi penalti di menit ke-62, namun bangkit dengan gol volley kiri yang menakjubkan di menit ke-78 untuk menyamakan kedudukan 2-2.
Kegagalan penalti itu, menurut Henry, justru memperkuat narasi keagungan Messi. "Pertama, dia mengingatkan kita bahwa dia manusia karena dia gagal mengeksekusi penalti, tetapi kemudian dia menunjukkan lagi bahwa dia bukan manusia," tambahnya. Perspektif ini menarik karena menggeser narasi umum yang sering menuntut kesempurnaan dari Messi. Henry justru memuji kemampuan mental Messi untuk mengubah kegagalan menjadi bahan bakar kemenangan, sebuah ciri khas atlet elite yang jarang dimiliki pemain lain.
Gol penyama kedudukan itu lahir dari situasi yang tampak mustahil. Menerima umpan silang dari Alexis Mac Allister di luar kotak penalti, Messi tidak mendominasi bola dengan tenang, melainkan memukulnya secara langsung (first-time volley) dengan kaki kiri yang lemahnya. Bola terbang melengkung melewati jari-jari kiper Mesir, Mohamed El Shenawy, dan mendarap di gawang kanan. Komentator dunia sepak bola, Gary Lineker, menuliskan di media sosial: "Hanya Messi yang bisa melewatkan penalti lalu mencetak gol seperti itu dalam rentang 16 menit. Fenomenal."
Henry juga membuka tabir kenangan masa mereka berdua berbagi kamar ganti di Camp Nou pada era 2007-2010, di mana mereka membentuk trio serangan mematikan bersama Samuel Eto'o. Sang legenda Prancis menceritakan sisi Messi yang jarang diketahui publik: sikap kompetitif yang luar biasa sejak muda. "Dulu dia jadi pemain yang banyak mengeluh saat latihan. Suatu kali dia protes ke staf pelatih soal keputusan pelanggaran. Dia diperintah jangan banyak mengeluh," kenang Henry.
Namun, menurut Henry, larangan itu justru memicu sisi "binatang buas" Messi. "Ada sesuatu tentang Leo: Anda tidak bisa membangkitkan 'binatang buas' itu. Anda akan menatap matanya dan itu akan langsung terasa. Dia akan mendapatkan bola dan mulai mencetak gol lagi dan lagi," ujar Henry dengan nada penuh rasa hormat. Cerita ini menguatkan tesis bahwa kehebatan Messi tidak hanya bersumber dari bakat alami, melainkan dari mentalitas pemenang yang dikembangkan melalui tahunan disiplin dan rasa ingin menang yang tak terpuaskan.
Kemenangan atas Mesir sendiri penuh kontroversi di luar lapangan. Sebelum laga berakhir, sejumlah media Argentina melaporkan adanya protes resmi dari Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) soal keputusan wasit VAR yang menurut mereka menguntungkan Argentina, termasuk penalti yang digolokkan Messi (meski dia melewatkannya) dan kartu merah untuk pemain belakang Mesir, Ahmed Hegazi, di menit ke-85. FIFA hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi soal protes tersebut, namun insiden ini menambah tekanan psikologis yang harus dihadapi Messi dan timnya.
Di usia 39 tahun, Messi terus menantang logika fisika dan usia. Di Piala Dunia 2026 ini, ia telah mencetak 4 gol dan 3 assist dalam 4 pertandingan, menjadikannya kontributor paling produktif Argentina. Jika Albiceleste berhasil mempertahankan gelar di final 19 Juli mendatang, Messi akan menjadi pemain tertua dalam sejarah yang memenangkan Piala Dunia dua kali berturut-turut sebagai kapten. Bagi Henry, dan jutaan penggemar di seluruh dunia termasuk Indonesia, yang ditonton bukan sekadar pertandingan sepak bola, melainkan sebuah fenomena yang melampaui batas kemanusiaan.