Dunia sepak bola wanita dikejutkan dengan keputusan mengejutkan dari ikon Barcelona, Alexia Putellas, yang memilih untuk mengakhiri 14 tahun karier gemilangnya di Spanyol guna bergabung dengan klub WSL, London City Lionesses. Selama lebih dari satu dekade, Putellas telah menjadi wajah dari dominasi Barcelona, mempersembahkan 38 trofi mayor termasuk empat gelar Liga Champions dan 10 gelar liga domestik. Pencapaian pribadinya yang meraih dua gelar Ballon d'Or secara beruntun pada 2021 dan 2022 mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
Keputusan untuk meninggalkan Barcelona bukanlah perkara mudah. Setelah melewati masa sulit akibat cedera ACL tepat sebelum Euro 2022, Putellas berhasil bangkit dan membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2023. Namun, setelah meraih segalanya di level klub dan internasional, ia merasa membutuhkan tantangan baru. Meski banyak klub papan atas dunia dari Amerika Serikat hingga Meksiko mencoba meminangnya, tawaran dari pemilik London City Lionesses, Michele Kang, terbukti paling menggoda bagi sang gelandang.
Hubungan antara Putellas dan Kang bukan sekadar hubungan pemain dan pemilik klub. Keduanya telah membangun koneksi sejak pertemuan pertama mereka di Miami empat tahun lalu, di mana mereka berbagi visi mengenai masa depan sepak bola wanita. Putellas tidak hanya mencari tempat untuk bermain, ia mencari proyek ambisius di mana ia bisa memberikan dampak di luar lapangan, membangun warisan, dan membantu pertumbuhan industri sepak bola wanita secara global.
Proyek ambisius Kang di London City Lionesses, yang memiliki rencana jangka panjang lima tahun untuk menantang gelar juara dan menembus kompetisi Eropa, menjadi daya tarik utama. Putellas bahkan rela mengorbankan partisipasinya di Liga Champions musim ini demi komitmen jangka panjang di Bromley. Kesepakatan tiga tahun ini dipandang sebagai langkah strategis bagi Putellas untuk menetapkan masa depannya menjelang Piala Dunia berikutnya.
Secara finansial, London City Lionesses menjadikan Putellas sebagai pemain dengan bayaran tertinggi di klub. Meskipun gaji pokoknya dilaporkan di bawah £1 juta, struktur bonus dan insentif yang disepakati mencerminkan nilai pasar sang bintang. Langkah ini dilakukan dalam koridor aturan ketat WSL mengenai batasan gaji yang dikaitkan dengan pendapatan klub dan investasi tambahan, memastikan kepatuhan terhadap regulasi finansial liga.
Kehadiran Putellas di London City juga didukung oleh ekosistem Spanyol yang kuat di klub tersebut, termasuk manajer Eder Maestre serta peran strategis dari Gonzalo Rodriguez Garcia dan mantan eksekutif Barcelona, Markel Zubizarreta. Kehadiran rekan dekat seperti Jana Fernandez dan rumor kedatangan bek Mapi Leon semakin mempertegas ambisi klub untuk membangun 'Barcelona mini' di tanah Inggris.
Bagi WSL, kedatangan Putellas adalah sinyal peringatan bagi klub-klub elite lainnya seperti Chelsea dan Arsenal. Persaingan di liga kini diprediksi akan semakin panas, memaksa klub-klub tradisional untuk terus berinvestasi guna menjaga dominasi mereka. Kehadiran pemain sekaliber Putellas tidak hanya meningkatkan profil London City, tetapi juga mengangkat citra WSL di mata dunia sebagai destinasi utama bagi talenta terbaik.
Namun, pergeseran ini juga memicu diskusi mendalam mengenai disparitas finansial di WSL. Dengan klub-klub yang memiliki dukungan modal besar seperti Kynisca milik Michele Kang, terdapat kekhawatiran mengenai kesenjangan dengan klub-klub yang lebih kecil. Debat mengenai efektivitas salary cap dan keberlanjutan investasi di sepak bola wanita kini menjadi topik hangat yang akan terus dibahas oleh otoritas liga dan UEFA, terutama terkait aturan kepemilikan multi-klub di masa depan.