Tadej Pogacar kembali menegaskan dominasinya di panggung balap sepeda dunia setelah tampil spektakuler pada etape keenam Tour de France. Dalam rute yang menantang dari Pau menuju Gavarnie-Gedre, pembalap asal Slovenia ini melancarkan serangan krusial saat menaklukkan tanjakan legendaris Col du Tourmalet. Aksi solo yang berani ini tidak hanya mengantarkannya meraih kemenangan etape, tetapi juga membuatnya sukses merebut kembali kaus kuning (yellow jersey) dari tangan Torstein Traeen.
Kemenangan ini menjadi sangat emosional bagi Pogacar yang kini mengincar gelar juara Tour de France untuk ketiga kalinya secara beruntun. Sepanjang 17,1 kilometer tanjakan menuju puncak Tourmalet, Pogacar menunjukkan ketangguhan fisik dan taktik yang matang. Ia berhasil meninggalkan rival utamanya, Jonas Vingegaard, yang tampak kesulitan mengimbangi ritme serangan sang juara dunia tersebut. Vingegaard akhirnya harus puas finis di posisi kedua dengan selisih waktu yang cukup signifikan, yakni dua menit 42 detik di belakang Pogacar.
Keberhasilan Pogacar di Tourmalet mencatatkan sejarah tersendiri. Ia menjadi juara bertahan kejuaraan dunia pertama yang mampu menaklukkan tanjakan ikonik ini dalam kondisi prima. Di sisi lain, rekan setimnya di UAE Team Emirates-XRG, Isaac del Toro, melengkapi podium dengan menempati posisi ketiga, menunjukkan betapa solidnya strategi tim dalam mengawal pergerakan Pogacar sepanjang etape pegunungan yang sangat menguras stamina ini.
Nasib kurang beruntung justru dialami oleh pemegang kaus kuning sebelumnya, Torstein Traeen. Pembalap tersebut mengalami kecelakaan saat menuruni jalur setelah puncak Tourmalet setelah bersenggolan dengan rekan setimnya, Anders Johannessen. Insiden tersebut secara drastis mengakhiri harapannya untuk mempertahankan keunggulan waktu yang ia miliki sebelum etape ini dimulai, yakni hampir delapan menit di depan Pogacar.
Strategi UAE Team Emirates-XRG patut diacungi jempol. Mereka mengatur tempo sejak awal etape sepanjang 186,2 km tersebut, menjaga energi untuk ledakan tenaga di tanjakan terakhir. Saat peloton mulai memasuki kaki bukit Tourmalet, tim ini sudah berada di barisan depan, memaksakan ritme tinggi yang membuat banyak pembalap unggulan lainnya, seperti Tom Pidcock, harus terlempar dari persaingan barisan terdepan.
Jonas Vingegaard, yang merupakan juara Tour de France dua kali, mengakui bahwa ini bukanlah hari terbaiknya. Meskipun ia mencoba menekan hingga batas kemampuan, ia harus mengakui keunggulan Pogacar yang melesat solo menuju puncak dengan selisih 30 detik di titik tersebut. Vingegaard tetap optimis bahwa perlombaan belum berakhir dan ia percaya kondisi fisiknya akan terus membaik seiring berjalannya etape-etape berikutnya.
Insiden kecelakaan Traeen menjadi pengingat betapa berbahayanya lintasan pegunungan di Tour de France, terutama pada fase turunan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Meskipun sempat mendapatkan perawatan medis di pinggir jalan, Traeen tetap melanjutkan balapan, menunjukkan semangat pantang menyerah yang menjadi ciri khas para atlet di ajang bergengsi ini.
Kini, perhatian tertuju pada etape ketujuh yang akan membawa para pembalap menempuh perjalanan datar sepanjang 175,1 km dari Hagetmau menuju Bordeaux. Ini akan menjadi kesempatan bagi para sprinter untuk unjuk gigi, sementara Pogacar akan fokus menjaga keunggulan waktu yang telah ia bangun dengan susah payah di pegunungan Pyrenees. Persaingan antara Pogacar dan Vingegaard dipastikan akan terus memanas hingga etape penentuan di Paris nanti.